BANTEN AYABAN TUMPENG 25

           Hai sobat, setelah kemarin-kemarin lebih sering posting tentang artikel berbau “YOGA” sekarang kembali saya posting tentang upakara. Upakara yang saya maksud adalah informasi mengenai bebantenan, yang mana sebelumnya sudah saya posting mengenai banten ayaban tumpeng 5, banten ayaban tumpeng 7, banten ayaban tumpeng 9 dan banten ayaban tumpeng 11. Kini saatnya saya posting mengenai banten ayaban tumpeng 25. Isinya tidak jauh berbeda dengan banten sebelumnya hanya ada beberapa penambahan. Oleh karena itu langsung saja ya!


Komponen Banten Ayaban Tumpeng 25 antara lain:
1.            Banten Peras (2 soroh): 2 tumpeng
2.            Banten Pengambian (2 soroh): 2 tumpeng
3.            Banten pengapit/dederek (2 soroh): 2 tumpeng
4.            Banten Dapetan: 1 tumpeng
5.            Banten Guru: 1 tumpeng
6.            Banten Penyeneng: 3 tumpeng
7.            Banten Pengiring (2 soroh): 1 tumpeng
8.            Banten udel: 5 tumpeng
9.            Banten Kurenan
10.          Banten Gebogan.
11.          Banten Sesayut.
12.          Banten Rayunan
13.          Banten Jaja Sasrodan.
14.          Banten Nasi Pajegan.
15.          Banten Ulam Pajegan.
16.          Banten Sesanganan.
17.          Banten Jerimpen tegeh.
18.          Banten Teterag (2 soroh)

Penjelasan:
1.      Banten Peras
Kata “Peras” berarti “Sah” atau “Resmi”, dengan demikian penggunaan banten “Peras” bertujuan untuk mengesahkan dan atau meresmikan suatu upacara yang telah diselenggarakan secara lahir bathin. Secara lahiriah, banten Peras telah diwujudkan sebagai sarana dan secara bathiniah dimohonkan pada persembahannya. Disebutkan juga bahwa, banten Peras, dari kata “Peras” nya berkonotasi “Perasida” artinya “Berhasil”. Dalam pelaksanaan suatu upacara keagamaan, bilamana upakaranya tidak disertai dengan Banten Peras, maka penyelenggaraan upacara itu dikatakan “Tan Peraside”, maksudnya tidak akan berhasil atau tidak resmi/sah. Makna banten peras tersebut adalah sebagai lambang kesuksesan. Artinya dalam banten peras tersebut terkemas nilai-nilai berupa konsep hidup sukses. (http://astiniluna.blogspot.com/2014/01/makna-filososi-banten-canang-sari.html
2.      Banten Pengambean
Pengambean berasal dari akar kata “Ngambe” berarti memanggil atau memohon. Banten Pengambeyan mengandung makna simbolis memohon karunia Sang Hyang Widhi dan para leluhur guna dapat menikmati hidup dan kehidupan senantiasa berdasarkan Dharma di bawah lindungan dan kendali Sang Hyang Widhi dan para Leluhur. Sehingga memunculkan makna untuk memohon tuntunan dan bimbingan hidup agar diarahkan dan diberikan penyinaran demi kehidupan yang lebih berkualitas.
3.      Banten Pengapit
(mohon maaf belum saya temukan referensinya)
4.      Banten Dapetan
Banten dapetan disimbolkan sebagai wujud permohonan kehadapan Sang Hyang Widhi agar dikaruniai atau dikembalikan kekuatan Tri Pramana termasuk kekuatan Tri Bhuwananya. Selain itu, Banten ini mengandung makna seseorang hendaknya siap menghadapi kenyataan hidup dalam suka dan duka. Harapan setiap orang tentunya berlimpahnya kesejahteraan dan kebahagiaan, panjang umur dan sehat walafiat. Banten ini juga sebagai ungkapan berterima kasih, mensyukuri karunia Tuhan Yang maha Esa karena telah diberikan kesempatan menjelma sebagai manusia.
5.      Banten Guru
(Penjelasan belum saya temukan)
6.      Banten Penyeneng
Penyeneng berasal dari asal kata “nyeneng” (bahasa bali) yang artinya hidup, mendapat awalan pe yang mengandung kata kerja menjadi penyeneng yang berarti dapat dijadikan hidup. Jadi penyeneng memiliki makna permohonan kehadapan Sang Hyang Widhi, agar dianugerahi kehidupan baik untuk bhuwana agung dan bhuwana alit dalam keseimbangan/keselarasannya. Banten penyeneng ini berfungsi untuk mendudukan atau menstanakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Ida bhatara di tempat yang telah disediakan.
Selain itu Banten Penyeneng sebagai lambang konsep hidup yang berkeseimbangan, dinamis dan produktif sebagaimana disebutkan penyeneng dalam banten sebagai penguatan konsep hidup, dijelaskan bahwa hidup yang seimbang mengandung suatu arti dalam visualisasi dari konsep hidup yang tiga ini diwujudkan dengan bentuk sampian yang beruang tiga.
7.      Banten Pengiring
Banten pengiring adalah sesajen yang alasnya adalah sebuah taledan/tamas, kemudian secara berturut-turut diisi pisang, buah-buahan, tebi, kue, dua buah tumpeng, sampian tangga dan canang genten.
8.      Banten Udel
Banten Udel berisi:
1.         Alasnya 1 buah taledan
2.         Isinya:         
a)      1 buah tumpeng dibadannya ditusukkan ulam ati    atau bias diganti dg bawang putih
b)      Raka-raka selengkapnya
c)      Tebu,bantal,tape
d)     1 bh kojong rangka
e)      Sampyan jeet guak
9.      Banten Kurenan
Adapun isi Banten Kurenan:
1.         1 buah taledan 2 buah tumpeng dikelilingi oleh 5 bh tumpeng kecil-kecil
2.         Raka-raka selengkapnya
3.         Tebu,bantal,tape
4.         1 buah kojong rangkadan
5.         Sampyan pengambya
6.         Canang
10.  Banten Gebogan
Gebogan merupakan simbol persembahan dan rasa syukur pada Tuhan/Hyang Widhi. Gebogan atau juga disebut Pajegan adalah suatu bentuk persembahan berupa susunan dan rangkaian buah buahan dan bunga. Umumnya gebogan dibawa ke pura untuk rangkaian upacara panca yadnya. Arti kata gebogan itu sendiri dalam bahasa Bali sebenarnya berarti ''jumlah''. Maksudnya bahwa gebogan dibuat dari berbagai jumlah dan jenis buah yang merupakan hasil bumi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Ida Sanghyang Widhi.
11.  Banten Sesayut
Menurut Wijayananda, dalam bukunya Tetandingan Lan Sorohan Banten (2003: 8) menjelaskan bahwa banten sesayut berasal dari kata “sayut” atau “nyayut” dapat diartikan mempersilakan atau mensthanakan, karena sayut disimbulkan sebagai lingga dari Ista Dewata, sakti dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sedangkan menurut Dunia dalam Kata Pengantar bukunya Nama-Nama Sesayut (2008: vi) menjelaskan bahwa sesayut berasal dari kata “sayut” yang berarti tahan, cegah (Zoetmulder, 1995; 1063). Untuk menahan, mencegah orang agar terhindar dari mala, gangguan yang merusak, kemalangan, atau penyakit maka dibuatkanlah sesaji atau sejajen yang disebut sesayut (Kamus Bali-Indonesia, 1978; 506).
12.  Banten Rayunan
Rayunan juga sering disebut sebagai Ajuman/Sodan/Ajengan, yang mana dipergunakan tersendiri sebagai persembahan ataupun melengkapi daksina suci dan lain-lain. Apabila dimakanai, rayunan ini memiliki makna sebagai persembahan makanan kepada Ida Sanghyang Widhi/Dewa/Bhatara/maupun leluhur. Bila ditujukan kehadapan para leluhur, salah satu peneknya diisi kunir ataupun dibuat dari nasi kuning, disebut “perangkat atau perayun” yaitu jajan serta buah-buahannya di alasi tersendiri, demikian pula lauk pauknya masing-masing dialasi ceper/ituk-ituk, diatur mengelilingi sebuah penek yang agak besar. Di atasnya diisi sebuah canang pesucian, canang burat wangi atau yang lain. (http://imadeyudhaasmara.wordpress.com/2014/08/14/makna-canang-sari-daksina-peras-pejati-ajuman-sesayut)
13.  Banten Jaja Sasrodan
(mohon maaf referensi belum saya temukan)
14.  Banten Nasi Pajegan
Nasi pajegan merupakan lambang isi alam yang dibutuhkan oleh manusia sehari-hari. Nasi pajegan ini dibuat dengan tujuan sebagai ungkapan terimakasih atas rejeki dan angerah yang dilimpahkan oleh Sang Hyang Widhi kepada kita serta memohon anugerah berupa kesejahteraan hidup dan rejeki.
15.  Banten Ulam Pajegan
(mohon maaf referensi belum saya temukan)
16.  Banten Sesanganan
Bermakna sebagai ungkapan syukur dan terima kasih kepada Sang Hyang Widhi atas segala anugerah yang telah kita nikmati. Dan untuk memohon prani atau anugerah berupa kesejahteraa dalam menjalani kehidupan didunia ini.
17.  Jerimpen Tegeh
Jerimpen berasal dari dua suku kata yaitu: jeri dan empen. Jeri berasal dari kata Jari dan empen dari kata Empu. Dari kata jari menjadi asta (Asta Aiswarya) yang diartikan delapan penjuru dunia, sedangkan empu berarti Sang Putus (Maha Suci), diilustrasikan sebagai Sang Hyang Widhi, karena Sang Hyang Widhilah yang mengatur dan memutuskan segala yang ada di alam semesta.Dengan demikian banten jerimpen adalah merupakan simbol permohonan kehadapan Tuhan beserta manifestasiNya (Asta Aiswarya) agar Beliau memberikan keputusan berupa anugrah baik secara lahiriah maupun bathiniah. Oleh karena itu jerimpen selalu dibuat dua buah dan ditempatkan di samping kanan dan kiri dari banten lainnya, memakai sampyan windha (jit kokokan), windha berasal dari kata windhu yang artinya suniya, dan suniya diartikan Sang Hyang Widhi. Dua buah jerimpen mengandung maksud dan makna sebagai simbol lahiriah dan bathiniah.
18.  Banten Teterag
Banten Teterag merupakan banten yang digunakan dalam upakara Yadnya dan difungsikan sebagai bentuk penyucian buana agung dan buana alit.

            Demikianlah pemaparan saya mengenai Banten Ayaban Tumpeng 25, semoga sobat bisa memahami dan memproleh tambahan informasi. Saya buka dagang banten, bukan juga menguasai tentang banten, tetapi saya berbagi setelah saya mencari tahu duluan. SEMOGA BERMANFAAT. J

1 komentar:

  1. Matur suksme. Informasi yang bagus. Ngiring terus dilengkapi secara perlahan

    BalasHapus