UPACARA TUTUG KAMBUHAN

Deskripsi:
     Upacara Tutug Kambuhan di tempat berbeda di Bali, disebut juga sebagai upacara: Kambuhan, Macolongan, dan Tutug Kakambuhan. Bermakna sama, sebagai suatu upacara yang dilakukan saat bayi berusia 42 hari (a-bulan pitung dina = 1 bulan 7 hari menurut perhitungan Kalender Bali). Kata “kambuh” dalam bahasa jawa kuno artinya semakin kuat. Yang menarik adalah istilah upacara mecolongan, kata “colong” artinya mencuri. Karena memang pada upacara ini ada suatu ritual yang dilakukan dengan jalan mencuri anak ayam yang baru berumur beberapa hari saja.
Arti:
     Membersihkan jiwa raga sang bayi dan ibunya dari segala noda dan kotoran, dan berterima kasih kepada “Nyama Bajang”, yang mana ayam yang dicurilah yang dijadikan “nyama bajang”
si bayi yang  menjaga si bayi sewaktu masih dalam kandungan dan dengan dicuri diharapkan mereka kembali ke tempat asalnya masing-masing.
     Yang dimaksud dengan “Nyama Bajang” adalah kelompok kekuatan Ida Sanghyang Widhi Wasa yang membantu tugas-tugas “Kanda-Pat” menjaga dan memelihara si bayi sejak tumbuhnya benih, sampai kelahiran bayi. Setelah bayi lahir, tugas-tugas Nyama Bajang berakhir. (Wiana, 2002: 259)
     Nyama Bajang berjumlah 108, antar lain bernama: Bajang Colong, Bajang Bukal, Bajang Yeh, Bajang Tukad, Bajang Ambengan, Bajang Papah, Bajang Lengis, Bajang Dodot. Yang dimaksud dengan “Kanda-Pat” adalah: Ari-ari, Lamas, Getih, dan Yeh-Nyom.
     Dengan upacara nyolong ayam diharapkan kelak si bay meningkat dewasa ia terhindar dari sifat mencuri. Tentunya bukan hanya karena upacaranya, tetapi ketika mecolongan diiringi dengan doa, dan diharapkan dengan doa itu akan memotivasi untuk mencegah sifat-sifat mencuri dengan berbagai macam upaya.
     Berbeda dengan Nyama Bajang, maka Kanda-Pat senantiasa menemani manusia sejak sebagai bayi dalam kandungan sampai manusia menjadi tua lalu meninggal dunia. Menurut lontar Tutur Panus Karma, nama Kanda-Pat dan Manusia berubah mengikuti usia sebagai berikut:
1.      Manik (Embryo)/ segera jika Ibu tidak menstruasi:
Kanda-Pat: Karen – Bra – Angdian – Lembana.
2.      Usia kandungan 20 hari:
Kanda-Pat: Anta – Preta – Kala – Dengan
3.      Usia kandungan 40 minggu/ ketika bayi lahir:
Kanda-Pat: Ari-ari, Lamas, Getih, Yeh-Nyom
4.      Usia 7 hari setelah kelahiran atau setelah tali pusar mengering dan putus (yang jadi pedoman adalah tali pusar putus):
Kanda-Pat: I Mekair, I Salabir, I Mokair, I Selair
5.      Bila bayi sudah bisa menyebut “Babu” (kata ini senantiasa keluar dari bibir bayi sebagai pelajaran pertama berbicara secara alamiah):
Kanda-Pat: Sang Anggapati, Sang Prajapati, Sang Banaspati, Sang Banaspati Raja.
6.      Bila manusia sudah remaja (usia 14 tahun untuk laki-laki, atau gadis menstruasi pertama)
Kanda-Pat: Sang Sida Sakti, Sang Sida Rasa, Sang Maskuina, Sang Aji Putra Petak.
7.      Bila manusia sudah tua (sudah bercucu/ melewati masa Griahasta):
Kanda-Pat: Sang Podgala, Sang Kroda, Sang Sari, Sang Yasren
8.      Bila manusia baru meninggal dunia/ segera setelah meninggal dunia:
Kanda-Pat: Sang Suratma, Sang Jogormanik, Sang Mahakala, Sang Dorakala
9.      Atma yang sudah suci, dapat bersatu dengan Brahman dan tidak mengalami proses reinkarnasi lagi, disebut: Ratnakusuma.
Kanda-Pat: Siwa, Sadasiwa, Paramasiwa, Suniasiwa

Makna:
     Membersihkan jiwa raga si bayi dan ibunya dari segala kotoran. Pembersihan si bayi baru pembersihan tahap pertama, karena pembersihan tahap berikutnya dilakukan pada upacara tiga bulanan. Rambut si bayi misalnya, yang dipandang “kotor” karena terbawa sejak lahir, baru dipotong pada saat upacara tiga bulanan. Dikatakan sebagai pembersihan raga bagi si bayi, karena pada usia 42 hari tali pusar sudah putus, lapisan kulit yang paling tipis sudah berganti, peredaran darah dan konsumsi makanan sudah lancar sehingga keringat, air mata, ludah, kencing, dan kotoran sudah keluar. Pembersihan raga ibu ditandai oleh terhentinya aliran kotoran dari rahim. Upacara ini merupakan tonggak/ batas waktu bagi kebersihan jiwa si bayi dan ibunya yang biasa disebut “lepas sesebelan/ cuntaka”. Sejak saat ini si bayi dan ibunya boleh masuk ke Pemerajan/Pura dengan catatan ibu dilarang menyusui anak di dalam Pemerajan/ Pura karena air susu yang menetes membawa “keletehan” tempat suci.


Susunan Upacara:
  1. Di Pemerajan:
    • Sulinggih melaksanakan Surya Sewana/Ngarga tirta.
    • Mepiuning serta mohon restu akan melaksanakan upacara
    • Nuwur tirta: bea kala, pelukatan, pebersihan, prayascita.
  2. Di luar Pemerajan:
    • Me-bea kala (ayah dan ibu)
    • Me-prayascita (ayah, ibu, bayi)
  3. Di dapur dan permandian:
    • Pelukatan Bethara Brahma dan Wisnu (ayah, ibu, bayi)
  4. Di depan Sanggah Kemulan:
    • Pelukatan Bethara Hyang Guru (ayah, ibu, bayi)
    • Bajang colong (nyama bajang)
    • Natab/ ngayab (ayah, ibu, bayi)
  5. Di pelangkiran (di atas tempat tidur bayi):
    • Mepiuning
  6. Di tempat menanam ari-ari:
    • Mepiuning
  7. Di Pemerajan:
    • Pemuspaan (segenap keluarga dekat)
    • Nunas wangsuh pada (segenap keluarga dekat)
Banten yang Disiapkan
1. Di Pemerajan:
·     Tegteg daksina (pejati)
·     Peras
·     Ajengan dan penyacak.
·     Segehan Manca Warna
2. Di luar Pemerajan:
·         Bea kala
·         Tadah kala
·         Sapuh Lara
·         Tulud Lara
·         Lara Meraradan
·         Isuh-isuh
·         Prayascita
·         Segehan Manca Warna
3. Di dapur dan permandian:
·         Peras dengan tumpeng merah (didapur) atau tumpeng hitam (dipermandian)
·         Daging ayam biing (didapur) atau ayam hitam (dipermandian)
·         Ajuman
·         Daksina
·         Pengulapan/ pengambean
·         Penyeneng
·         Sorohan alit
·         Periuk kecil berisi air dan bunga, untuk pelukatan
·         Segehan Manca Warna
4. Di depan Sanggah Kemulan:
·         Pasuwugan: peras, ajuman, daksina, suci, sorohan alit, penglukatan, pengambean, penyeneng, nasi 6 ceper masing-masing dengan lauk: ayam, itik, telur, siput, babi, dan kacang-kacangan dan “kungkang” (bokor berisi: beras, sirih, benang, telur ayam mentah, uang kepeng 25, nasi dan lauk sate)
·         Perwujudan Nyama Bajang: periuk tanah berkain putih dan mekampuh tapis, pusuh biyu kayu berkain putih dan berisi uang 3 kepeng, papah berkain putih digantungi ketipat, belayag kosong, dan gantung-gantungan. Semuanya metapak dara kapur sirih. Penjor kecil dari pelepah daun enau, lidinya ditusuki bunga kembang sepatu. Bantennya: penek kecil beralas ceper, berisi: jajan, buah-buahan, canang burat wangi.
·         Bajang colong: peras, tulung, sesayut/ sorohan alit, 4 buah ceper berisi: 2 buah tumpeng kecil, jajan, buah-buahan, canang burat wangi, sampian tangga, tiap-tiap ceper dengan lauk yang berbeda: guling katak, guling capung, guling balang, dan guling pitik.
·         Tegen-tegenan kecil (tanpa ayam dan itik)
·         Segehan Manca Warna
5. Di pelangkiran (di atas tempat tidur bayi):
·     Banten Kumara: canang genten, burat wangi, canang sari.
6. Di tempat menanam ari-ari:
·     Dapetan (di sanggah cucuk)

·     Segehan Manca Warna (di tanah) (http://stitidharma.org/upacara-tutug-kambuhan/, )
NB: Pelaksanaan bisa berbeda di tiap daerah tergantung desa, kala, patra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar