A.
Wewenang para diksa secara umum
SASANA DAN WEWENANG ORANG SUCI
Latihan Moral (Moral Training) dalam Yoga
Moralitas adalah dasar dari ketinggian spiritual,
namun bukanlah puncak tujuan hidup rohani, dengan dasar pijakan moral yang
luhur serta melanjutkan tujuan perjuangan mencapai kesadaran tertinggi akan
diraih (Kamajaya, 1998: 45). Yama (keseimbangan sosial) dan Niyama (
Penyatuan pribadi) merupakan prasyarat yang sangat diperlukan dalam yoga sebagai
latihan moralitas sebagai unsur kemurnian “suci nirmala tan keneng papa
klesa”.
Cara Weda Diwahyukan
Bahasa Dalam Weda
ATMAN SETELAH KEMATIAN
Sebagaimana yang disebutkan dalam
salah satu sifat Atman bahwa Atman adalah sumber kehidupan yang bersifat abadi
dan tidak akan pernah mengalami fase kematian. Atman akan terus hidup baik itu
di dalam maupun di luar makhluk hidup. Sebagaimana kalau berada di dalam tubu
makhluk hidup atman disebut dengan istilah yang berbeda, sebutan untuk Jiwatman
untuk yang bersemayam pada tubuh manusia, sebutan Janggama jika bersemayam pada
binatang dan sebutan Stavara untuk yang bersemayam pada tumbuh-tumbuhan. Keabadian
Atman memang tidak akan terlihat ketika Atman telah berada di dalam makhluk
hidup karena dipengaruhi oleh unsur Panca Maha Butha sebagai penyusun tubuh
yang akan memberikan sifat maya pada Atman itu sendiri. Begitupula ketika Atman
yang semula bersemayam pada tubuh makhluk hidup kemudian pergi meninggalkan
tubuh itu karena adanya fase kematian pada badan kasar tersebut maka Atman akan
mengalami suatu keadaan setelah kematian itu yang tentunya tidak mampu
diketahui oleh manusia normal tanpa memiliki kekuatan supra natural.
PROBLEMA KUANTITAS PENDIDIKAN
A.
Pengertian
Indonesia dikenal
sebagai negara berkembang yang besar jumlah penduduknya. Menurut sensus penduduk
1990 M, penduduk Indonesia berjumlah 179.321.641 jiwa. Komposisi penduduk
Indonesia didominasi oleh penduduk usia muda yang dianggap sebagai usia
produktif, jika dibandingkan dengan penduduk usia tua dan anak-anak termasuk
bayi yang dianggap sebagai usia non-produktif. Jumlah penduduk sebesar itu bisa
menjadi modal dasar bagi pembangunan nasional, manakala dapat diarahkan menjadi
Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Dalam hal ini, pendidikan sebagai
alat perekayasaan manusia dan masyarakat jelas memiliki peran yang penting dan
menentukan.
Dan terkait
problema kuantitas pendidikan dapat dimaknai sebagai ketidakmampuan
lembaga-lembaga pendidikan formal menampung seluruh calon peserta didik.
PERANAN PINANDITA DALAM UPACARA YADNYA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Agama Hindu adalah salah satu agama
yang diakui secara resmi di Indonesia. Dalam menjalankan keyakinannya umat
Hindu terlihat paling sering melakukan ritual keagamaan di bandingkan dengan
agama yang lain. Ritual dalam agama hindu sering disebut dengan pelaksanaan
yadnya, yang mana secara konsep pelaksanaan yadnya dibedakan menjadi dua yaitu
nitya karma dan naimitika karma. Nitya karma memiliki pengertian sebagai yadnya
yang dilakukan setiap hari oleh umat hindu, sedangkan naimitika karma adalah
yadnya yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu yang dianggap memiliki nilai
kesucian melebihi hari yang lain. Contoh pelaksanaan nitya karma antara lain;
yadnya sesa, tri sandhya, kramaning sembah dan lainnya, sedangkan yang
dikategorikan ke dalam golongan naimitika karma seperti Purnama, Tilem, Kajeng
Kliwon, Tumpek, Budha Kliwon dan lainnya.
MANFAAT YOGA LEBIH DARI SEKEDAR "SEHAT"
Manfaat Yoga (Asanas) yang paling
sering kita dengar adalah manfaatnya pada kesehatan. Hal ini berkaca dari hasil
yang dinikmati setelah menekuni Yoga, seperti menjaga dan meningkatkan sistem
kekebalan tubuh, menjaga dan meningkatkan stamina, memperbaiki dan meningkatkan
sistem pencernaan, memperbaiki dan meningkatkan sistem pernafasan, memperbaiki
dan memperlancar metabolisme, membersihkan dan memperlancar sirkulasi darah,
menyegarkan otak, meningkatkan kelenturan tubuh, memperkuat persendian dan otot-otot
tubuh, serta mengurangi lemak berlebih.
PANCARAN KEBERAGAMAAN TERHADAP PERILAKU MANUSIA
Judul Buku : Psikologi Agama Seimbangkan Pikiran, Jiwa,
dan Raga
Pengarang : Suasthi dan Suastawa
Tahun terbit : 2008
Halaman : 10 - 20
Diresume oleh: I
Wayan Rudiarta
BAB V
PANCARAN KEBERAGAMAAN TERHADAP PERILAKU MANUSIA
1.
Kondisi
Psikologis dan Sikap Keagamaan
Agama adalah
kebenaran dan kebaikan. Orang-orang yang berpegang teguh padanya akan terimbas
oleh kebenaran dan kebaikan agama. Imbas itu dapat diketahui dari pengetahuan
keagamaan yang semakin meningkat, keyakinan agama semakin menguat, perilaku
agama semakin konsisten, serta pengamalan keagamaan yang semakin intensif.
Sehngga kekuatan pengaruh agama terhadap diri manusia terlihat dalam berbagai
dimensi kehidupan manusia.
Ada beberapa
faktor yang dapat membentuk sikap keagamaan, yaitu sebagai berikut:
Langganan:
Postingan (Atom)

