
Komponen Banten Ayaban Tumpeng 11 antara lain:
1. Banten
Peras: 2 tumpeng
2. Banten
Pengambian: 2 tumpeng
3. Banten
Dapetan: 1 tumpeng
4. Banten
Guru: 1 tumpeng
5. Banten
Penyeneng: 3 tumpeng
6. Banten
Pengiring (2 soroh): 1 tumpeng
7. Banten
Gebogan.
8. Banten
Sesayut.
9. Banten
Rayunan.
10. Banten
Teterag.
Penjelasan:
1. Banten
Peras
Kata “Peras”
berarti “Sah” atau “Resmi”, dengan demikian penggunaan banten “Peras” bertujuan
untuk mengesahkan dan atau meresmikan suatu upacara yang telah diselenggarakan
secara lahir bathin. Secara lahiriah, banten Peras telah diwujudkan sebagai
sarana dan secara bathiniah dimohonkan pada persembahannya. Disebutkan juga
bahwa, banten Peras, dari kata “Peras” nya berkonotasi “Perasida” artinya
“Berhasil”. Dalam pelaksanaan suatu upacara keagamaan, bilamana upakaranya
tidak disertai dengan Banten Peras, maka penyelenggaraan upacara itu dikatakan
“Tan Peraside”, maksudnya tidak akan berhasil atau tidak resmi/sah. Makna
banten peras tersebut adalah sebagai lambang kesuksesan. Artinya dalam banten
peras tersebut terkemas nilai-nilai berupa konsep hidup sukses. (http://astiniluna.blogspot.com/2014/01/makna-filososi-banten-canang-sari.html
2. Banten
Pengambean
Pengambean
berasal dari akar kata “Ngambe” berarti memanggil atau memohon. Banten
Pengambeyan mengandung makna simbolis memohon karunia Sang Hyang Widhi dan para
leluhur guna dapat menikmati hidup dan kehidupan senantiasa berdasarkan Dharma
di bawah lindungan dan kendali Sang Hyang Widhi dan para Leluhur. Sehingga
memunculkan makna untuk memohon tuntunan dan bimbingan hidup agar diarahkan dan
diberikan penyinaran demi kehidupan yang lebih berkualitas.
3. Banten
Dapetan
Banten
dapetan disimbolkan sebagai wujud permohonan kehadapan Sang Hyang Widhi agar dikaruniai
atau dikembalikan kekuatan Tri Pramana termasuk kekuatan Tri Bhuwananya. Selain
itu, Banten ini mengandung makna seseorang hendaknya siap menghadapi kenyataan
hidup dalam suka dan duka. Harapan setiap orang tentunya berlimpahnya kesejahteraan
dan kebahagiaan, panjang umur dan sehat walafiat. Banten ini juga sebagai
ungkapan berterima kasih, mensyukuri karunia Tuhan Yang maha Esa karena telah
diberikan kesempatan menjelma sebagai manusia.
4. Banten
Guru
(Penjelasan
belum saya temukan)
5. Banten
Penyeneng
Penyeneng
berasal dari asal kata “nyeneng” (bahasa bali) yang artinya hidup, mendapat
awalan pe yang mengandung kata kerja menjadi penyeneng yang berarti dapat
dijadikan hidup. Jadi penyeneng memiliki makna permohonan kehadapan Sang Hyang
Widhi, agar dianugerahi kehidupan baik untuk bhuwana agung dan bhuwana alit
dalam keseimbangan/keselarasannya. Banten penyeneng ini berfungsi untuk
mendudukan atau menstanakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Ida bhatara di
tempat yang telah disediakan.
Selain
itu Banten Penyeneng sebagai lambang konsep hidup yang berkeseimbangan, dinamis
dan produktif sebagaimana disebutkan penyeneng dalam banten sebagai penguatan
konsep hidup, dijelaskan bahwa hidup yang seimbang mengandung suatu arti dalam
visualisasi dari konsep hidup yang tiga ini diwujudkan dengan bentuk sampian
yang beruang tiga.
6. Banten
Pengiring
Banten pengiring adalah sesajen yang alasnya adalah sebuah
taledan/tamas, kemudian secara berturut-turut diisi pisang, buah-buahan, tebi,
kue, dua buah tumpeng, sampian tangga dan canang genten.
7. Banten
Gebogan
Gebogan
merupakan simbol persembahan dan rasa syukur pada Tuhan/Hyang Widhi. Gebogan
atau juga disebut Pajegan adalah suatu bentuk persembahan berupa susunan dan
rangkaian buah buahan dan bunga. Umumnya gebogan dibawa ke pura untuk rangkaian
upacara panca yadnya. Arti kata gebogan itu sendiri dalam bahasa Bali
sebenarnya berarti ''jumlah''. Maksudnya bahwa gebogan dibuat dari berbagai
jumlah dan jenis buah yang merupakan hasil bumi sebagai ungkapan rasa syukur
kepada Ida Sanghyang Widhi.
8. Banten
Sesayut
Menurut
Wijayananda, dalam bukunya Tetandingan Lan Sorohan Banten (2003: 8) menjelaskan
bahwa banten sesayut berasal dari kata “sayut” atau “nyayut” dapat diartikan
mempersilakan atau mensthanakan, karena sayut disimbulkan sebagai lingga dari
Ista Dewata, sakti dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sedangkan menurut Dunia
dalam Kata Pengantar bukunya Nama-Nama Sesayut (2008: vi) menjelaskan bahwa
sesayut berasal dari kata “sayut” yang berarti tahan, cegah (Zoetmulder, 1995;
1063). Untuk menahan, mencegah orang agar terhindar dari mala, gangguan yang
merusak, kemalangan, atau penyakit maka dibuatkanlah sesaji atau sejajen yang
disebut sesayut (Kamus Bali-Indonesia, 1978; 506).
9. Banten
Rayunan
Rayunan
juga sering disebut sebagai Ajuman/Sodan/Ajengan, yang mana dipergunakan
tersendiri sebagai persembahan ataupun melengkapi daksina suci dan lain-lain.
Apabila dimakanai, rayunan ini memiliki makna sebagai persembahan makanan
kepada Ida Sanghyang Widhi/Dewa/Bhatara/maupun leluhur. Bila ditujukan
kehadapan para leluhur, salah satu peneknya diisi kunir ataupun dibuat dari
nasi kuning, disebut “perangkat atau perayun” yaitu jajan serta buah-buahannya
di alasi tersendiri, demikian pula lauk pauknya masing-masing dialasi
ceper/ituk-ituk, diatur mengelilingi sebuah penek yang agak besar. Di atasnya
diisi sebuah canang pesucian, canang burat wangi atau yang lain. (http://imadeyudhaasmara.wordpress.com/2014/08/14/makna-canang-sari-daksina-peras-pejati-ajuman-sesayut)
10. Banten
Teterag
Banten
Teterag merupakan banten yang digunakan dalam upakara Yadnya dan difungsikan
sebagai bentuk penyucian buana agung dan buana alit.
11. Jerimpen
Jerimpen
berasal dari dua suku kata yaitu: jeri dan empen. Jeri berasal dari kata Jari
dan empen dari kata Empu. Dari kata jari menjadi asta (Asta Aiswarya) yang
diartikan delapan penjuru dunia, sedangkan empu berarti Sang Putus (Maha Suci),
diilustrasikan sebagai Sang Hyang Widhi, karena Sang Hyang Widhilah yang
mengatur dan memutuskan segala yang ada di alam semesta.Dengan demikian banten
jerimpen adalah merupakan simbol permohonan kehadapan Tuhan beserta
manifestasiNya (Asta Aiswarya) agar Beliau memberikan keputusan berupa anugrah
baik secara lahiriah maupun bathiniah. Oleh karena itu jerimpen selalu dibuat
dua buah dan ditempatkan di samping kanan dan kiri dari banten lainnya, memakai
sampyan windha (jit kokokan), windha berasal dari kata windhu yang artinya
suniya, dan suniya diartikan Sang Hyang Widhi. Dua buah jerimpen mengandung
maksud dan makna sebagai simbol lahiriah dan bathiniah.
Demikianlah
pemaparan saya mengenai Banten Ayaban Tumpeng 11, semoga lover bisa memahami
dan memproleh tambahan informasi. Saya buka dagang banten, bukan juga menguasai
tentang banten, tetapi saya berbagi setelah saya mencari tahu duluan. SEMOGA BERMANFAAT.
J
Matur suksma Jero
BalasHapus