Tampilkan postingan dengan label PENGALAMAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENGALAMAN. Tampilkan semua postingan

JANGAN GAGAL BANGUN PAGI

         
         
Bangun pagi merupakan sebuah rutinitas yang selalu dialami oleh manusia normal, sebagaimana manusia megistirahatkan badannya pada malam hari dan kembali bersiap digunakan untuk beraktivitas di pagi hari. Tetapi tidak semua orang mampu bangun pagi, dan bahkan bagi orang tertentu bangun pagi adalah hal yang sangat menyebalkan mengingat keadaan dingin yang membuat semakin enak menarik selimut, kantuk semakin menjadi-jadi dan mata berat untuk dibuka. Bangun pagi yang baik adalah sebelum matahari terbit sekitar jam 04.00-05.00 pagi, atau dalam istilah hindu dikenal dengan “Brahma Muhurta”. Manfaat yang bisa dirasakan apabila bangun pagi adalah tubuh menjadi lebih segar, kepala tidak pusing, pikiran lebih tenang dan tidak gampang sakit. Persoalannya, kembali seperti si atas banyak pihak yang merasakan bangun pagi itu berat, terlebih ketika hari libur, sudah pasti rencana dari ahri sebelumnya adalah bangun sesiang-siangnya.
            Perlu disadari bahwa ketika tubuh tertidur pada saat sandi kala (pergantian waktu), kira-kira jam 06.00 pagi, jam 12.00 siang, dan jam 06.00 sore bisa menyebabkan kondisi tubuh melemah, hal ini dikarenakan pada waktu itu energi yang ada dalam tubuh diserap oleh energi matahari. Terlebih bagi yang kondisinya memang tidak fit bisa saja langsung jatuh sakit dan kondisi tubuh makin melemah. Namun itulah fenomena yang terjadi terutama bagi kalangan anak muda yang belum memiliki tanggungan hidup, bangun pagi seakan-akan menjadi musuh terbesar yang dihadapi. Bagaimana tidak, banyak anak muda yang suka begadang sekarang ini, dalam seminggu mungkin hanya sekali dua kali tidurnya di bawah jam 12, selebihnya tidur jam 1, jam 2, atau diatas itu. Apalagi kalau ada acara yang sangat menarik di TV, sebut saja sepak bola yang menyiarkan pertandingan di dini hari, ataupun dengan pertandingan moto GP yang berlangsung tengah malam hal ini semakin membuat semangat anak muda untuk begdang membesar. Tidur jam 05.00 pagi dan bangun jam 10.00 seakan sudah menjadi kebiasaan dan bahkan ada yang tidak mampu tidur sebelum jam 05.00 pagi.
            Kegagalan bangun pagi seakan sudah mentradisi bagi sebagian anak muda, padahal jika ditinjau dari segi kesehatan, aktivitas begadang dan selalu bangun siang sangat tidak baik. Pertama, perlu diketahui bahwa sel darah merah membelah dan bertambah volumenya berlangsung tiap tengah malam (jam 12.00 malam), apabila tubuh ini tidak diistirahatkan maka kapan kesempatan memperbanyak volume sel darah merah akan berlangsung. Kedua, begadang akan menyebabkan konsentrasi menjadi berkurang sehingga seseorang akan kesulitan untuk fokus dalam mengerjakan sesuatu. Ketiga, dengan bangun siang akan mengurangi mood dan semangat dalam menjalankan aktivitas di siang hari dan hal lainnya. Perlu dibiasakan agar tidur paling lambat jam 11.00 malam dan paling bagus jam 10.00 malam, kemudian bangunlah jam 05.00 atau bahkan bila mampu jam 04.00 pagi akan lebih baik. pertama-tama memang sulit untuk melakukan kebiasaan baik ini, tetapi itu memang alami dan dari hasil survey seorang ahli, dikatakan pembiasaan itu tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya 21 hari. Jadi apabila rutin memaksakan diri bangun pagi selama 21 hari selebihnya tanpa disuruh badan akan terbangun. Untuk bisa bangun pagi juga sebelum tidur berpesanlah pada diri “BESOK BANGUNKAN SAYA JAM 05.00” atau waktu yang lain yang diinginkan, maka secara alami akan terbangun.

            Pertama-tama memang terasa berat bangun pagi, dingin, ngantuk dan tidak ada kegiatan sering menjadi alasan. Namun, apabila ingin hidup sehat coba saja lakukan dari sekarang bangun pagi dan jangan begadang, terlebih bisa melakukan Yoga Rutin di pagi hari, pikiran akan sangat tenang, konsentrasi dan mood dalam menjalani aktivitas menjadi sangat baik. saya tidak berteori, saya menulis berdasarkan pengalaman, coba buktikan! Biasakan tidur jam 10.00 malam bangun jam 05.00 pagi jangan sebaliknya tidur jam 05.00 pagi bangun jam 10.00 pagi. Salam sehat! (Rudi)

MELAHIRKAN “GAJAH MADA” BARU

Berbicara tentang pemimpin tentunya sudah menjadi topik yang tidak asing lagi, di segala aktivitas kehidupan kita selalu menemukan pemimpin, baik pemimpin dalam ruang lingkup luas maupun sempit. Yang menjadi pertanyaan besar tentunya “apakah pemimpin itu bisa memimpin?” jawabannya pasti akan bervariasi, tergantung bagaimana kita memandang kepemimpinan dari pemimpin itu. Banyak pemimpin pintar, begitu pula dengan pemimpin hebat, tetapi kita harus sadar bahwa pintar dan hebat tidak cukup menjadi indikator keberhasilan seorang pemimpin. Pemimpin dambaan sesungguhnya adalah pemimpin yang baik, mungkin anda bertanya, "kenapa bisa seperti itu?”. Jawabannya sederhana, “seorang pemimpin hebat dan pintar adalah untuk dirinya sendiri, sedangkan pemimpin yang baik adalah untuk  orang lain”. Melihat perbedaan itu sekarang muncul pertanyaan, “siapa yang bisa menjadi pemimpin yang baik?” seorang ahli bernama Padma Bushan telah menuliskan, hanya seseorang yang pikiran, kata-kata dan perbuatan berada dalam keharmonisan bisa menjadi seorang pemimpin yang baik dan efektif.
Apabila menilik dari sejarah Hindu banyak contoh pemimpin yang perlu dijadikan suri teladan. Di setiap zaman dalam sejarah Hindu selalu muncul tokoh yang menjadi pemimpin. Sebut saja Erlangga, Sanjaya, Ratu Sima, Kertanegara, Hayam Wuruk, Gajah Mada, dan masih banyak lagi. Di era sekarangpun banyak tokoh Hindu yang dapat dijadikan sebagai panutan seperti: Mahatma Gandhi, Svami Vivekananda, Ramakrsna, Sri Satya Sai dan sebagainya. Dan dari semua tokoh yang telah disebutkan, satu nama yang kita bahas adalah Gajah Mada. Kenapa Gajah Mada? Alasannya adalah karena beliau mampu menyatukan Nusantara dalam segala keterbatasan transportasi maupun komunikasi di eranya. Satu hal lagi, Gajah Mada merupakan sosok yang setia pada sumpahnya yakni sumpah Palapa, yang tentunya akan sulit dijalankan tanpa kesadaran dan kesungguhan dari hati beliau.
Berkaca dari kejayaan masa lampau tersebut, maka berbicara kepemimpinan kita berkeinginan kembali untuk melihat Gajah Mada yang mampu membawa persatuan dan kesatuan bangsa, sehingga akan membawa kemajuan terhadap negeri ini. Dan apabila kita membandingkan secara sederhana antara kepemimpinan yang dilakukan oleh Gajah Mada dengan kepemimpinan oleh pemimpin-pemimpin sekarang ini tentunya sangat berbeda. Gajah Mada walaupun hanya merupakan sosok patih, tetapi beliau mampu memenuhi tujuan kerajaan yang dipercayakan padanya. Beliau juga merupakan sosok pemimpin yang mampu mengharmoniskan antara pikiran, kata-kata dan perbuatan, sehingga layak disebut sebagai pemimpin yang baik. Dan hal semacam itu sudah sangat jarang kita temukan dalam kehidupan sekarang ini, yang ada malah sebaliknya, kepercayaan sebagian masyarakat terhadap para pemimpin mulai memudar. Fenomena tersebut tidak terlepas dari faktor banyaknya figur yang menjadi pemimpin bukan karena memiliki kecakapan, tetapi karena medapat dukungan dari partai politik yang kemudian berdampak pada meningkatnya jumlah masa pendukung di masa kampanye. Akhirnya setelah terpilih baru kelihatan bagaimana karakter yang sesungguhnya, yaitu kepemimpinan yang dijalankan sarat dengan kepentingan politik atau kepentingan kelompok pendukungnya saja.
Untuk menghindari fenomena semacam ini, saya berpikir bahwa melahirkan Gajah Mada Baru menjadi salah satu solusi. Memang kalau membahas keagungan Maha Patih Gajah Mada, mengingatkan kita pada Lontar Negara Kertagama, Rakawi PrapaƱca yang menuliskan 15 keutamaan sifat-sifat Gajah Mada sebagai Maha Patih Kerajaan Majapahit, yang disebut dengan Panca Dasa Pramiteng Prabu. Namun penerapan ajaran Panca Dasa Pramiteng Prabu tentunya sangat sulit di era modern ini, yang menyebabkan pertanyaan baru akan muncul, “Bagaimana bisa kita melahirkan Gajah Mada Baru?”. Untuk menjawabnya kita jangan memandang dari satu sisi, Gajah Mada boleh sukses menyatukan Nusantara dengan 15 sifat utamanya, tetapi indikator untuk menentukan Gajah Mada Baru yang akan membawa persatuan dan kesatuan untuk bangsa ini, harus kita sesuaikan juga dengan perkembangan zaman. Olehnya, Gajah Mada baru tidak perlu menguasai ke-15 sifat utama Gajah Mada, tidak perlu ada sumpah palapa, tidak perlu kembali ke masa kerajaan, tetapi Gajah Mada Baru adalah pemimpin yang memimpin rakyatnya dari hati, pemimpin yang mengabdi untuk rakyat, pemimpin yang tidak gila harta, pemimpin yang berani berkorban demi negaranya, dan tentunya pemimpin yang bisa mengharmoniskan antara pikiran, kata-kata, dan perbuatannya. Intinya Gajah Mada Baru adalah pemimpin yang baik, bukan hanya pintar maupun hebat belaka.

Kita boleh berada di era Globalisasi, tetapi mari kita bangkitkan kembali kejayaan masa lampau. Kita lahirkan Gajah Mada Baru yang akan mampu memberi kesejahteraan dan kedamaian untuk bangsa, nusa, serta negara tercinta. Dengan pemimpin baik, keadaan rakyat akan membaik, dan negeri ini akan menjadi yang terbaik. Jayalah Indonesiaku.
Sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2015/03/11/melahirkan-gajah-mada-baru-729156.html

MELUKAT DI SURANADI

            Bagi masyarakat yang ada di Lombok pastinya sudah tidak asing lagi dengan daerah
Suranadi. Suranadi adalah salah satu daerah sumber air yang ada di Lombok selain Lingsar dan Narmada. Daerah yang berada di kawasan Lombok Barat ini berjarak kurang lebih 20 KM dari kota Mataram, dengan waktu tempuh sekitar 30 menit. Suranadi masih kental dengan kehidupan agraris masyarakatnya yang mana sawah-sawah masih membentang membuat sejuk mata memandang di tengah suasana alam yang amat sejuk. Selain itu Suranadi dikenal dengan wisata kulinernya, yaitu pecel, plecing, dan juga dodol yang selalu menjadi idola.
            Akan tetapi yang akan saya ulas bukan makanan di Suranadi, melainkan tentang ritual penyucian yang sering dilakukan oleh umat Hindu yaitu “MELUKAT”. Melukat adalah salah satu ritual yang bertujuan untuk memproleh pembersihan secara batiniah, sehingga pikiran menjadi lebih jernih, tenang, dan damai. Melukat bisa dilakukan di sumber air, di pedanda, menggunakan klungah atau lainnya. Di Suranadi yang merupakan sumber mata air banyak ditemui sumber mata air suci yang disebut dengan “Tirta” dan jumlahnya ada 5 sehingga disebut “Panca Tirta”, yaitu Tirta Pebersihan, Tirta Pengentas, Toya Tabah, Tirta Petirtan, dan Tirta Pelukatan. Dari lima yang disebutkan dua diantaranya menjadi tempat umat Hindu melakukan penglukatan, yaitu tirta pebersihan dan tirta pengentas. Akan tetapi dari apa yang saya sering temui umat lebih cenderung untuk melakukan penglukatan di Pebersihan. Mengulas sedikit, bahwa diyakini Panca Tirta ini muncul dari tancapan tongkat Danghyang Dwijendra ketika berada di Suranadi (pelajari perjalanan Danghyang Dwijendra di Lombok).
            Setiap hari ada saja umat yang melakukan penglukatan di Pebersihan, baik itu warga Lombok atau umat Hindu yang bertirta yatra ke Lombok. Akan tetapi areal tempat melukat akan terasa semakin sesak ketika ada rerainan, seperti kliwon, Purnama, Tilem, atau lainnya. Mulai dari sinilah beberapa informasi mengenai melukat di Suranadi akan saya ulas lebih mendetail. Ketika anda tiba di areal pura anda akan menemui ada kolam dengan ukuran cukup besar yang selalu ramai perenang yang tidak hanya umat Hindu, tetapi banyak warga sasak disana. Mulai berjalan ke timur, anda akan menemui tempat pesandekan pemangku yang selalu stand by  di sana. Kemudian berjalan lebih lanjut akan masuk ke areal lalu lalangnya para pemedek yang mau melukat, disana terlihat banyak kain putih bergelantung dan bisa dipakai siapa saja (sebagai catatan bahwa melukat di suranadi tidak diperkenankan memakai kain selain kain putih).
          Untuk upakara dalam melukat, biasanya kalau saya yang cuma perantau dari Bali hanya menggunakan canang dan apabila ada kepeng lebih menggunakan daksina. Karena tidak ada standar upakaranya (heeee J). Apabila sudah siap mau melukat biasanya pemedek mengganti pakaiannya dan mengenakan kain putih yang sudah ada (apabila mau bawa sendiri juga boleh). Selesai itu, apabila sebelum ke tempat melukat belum sempat keramas ataupun mandi, di kawasan itu sudah ada tempat untuk mandi, tetapi harus memakai kain yang sudah  dikenakan tadi. Selesai mandi atau badan sudah bersih barulah ikuti langkah-langkah ini:

1.      Haturkan canang atau daksina (upakara lain) yang dibawa di pelinggih yang ada, dilanjutkan dengan matur piuning bahwa kita akan melaksanakan penglukatan serta lakukan persembahyangan (tri sandhya dan kramaning sembah).
2.      Selesai sembahyang, jangan nglungsur amerta dahulu, tetapi lanjutkan dengan acara penglukatan di sumber air utama, yaitu dilakukan dengan meleb ke dalam air sesuai kemampuan (karena airnya sangat dingin) bisa 1X, 3X. 5X, 7X, 9X, atau 11X (paling utama) dengan melantunkan mantram gayatri atau mrityunjaya setiap kali masuk air.
3.      Selesai melukat baru dilanjutkan dengan nglungsur wangsuh pada di pelinggih tempat sembahyang tadi, dan selesai sudah penglukatan.

Barangkali hanya demikian yang dapat saya bagikan terkait melukat di Suranadi, semoga tulisan ini bermanfaat bagi sahabat blogger. Salam.

KENANGAN KE NEGERI INDIA

PERJALANAN KE INDIA: ART MISSION AND
INTERFAITH DIALOGUE TO INDIA


Pada hari minggu tanggal 12 Oktober 2014 rombongan Art Mission and Interfaith Dialogue to India STAHN Gde Pudja Mataram bersiap-siap untuk berangkat ke India. Pagi-pagi pukul 06.00 rombongan sudah diwajibkan hadir di kampus untuk mempersiapkan berbagai keperluan yang akan dibawa dalam misi ini. Saya yang juga terlibat di dalam tim sudah tiba di kampus tepat pukul 06.00 dan langsung menuju pura Saraswati untuk mohon bimbingan serta tuntunan kepada Sanghyang Aji Saraswati demi kelancaran tugas yang akan dijalankan. Selesai sembahyang, seluruh rombongan mempersiapkan gong, serta pakaian tari untuk diangkut menuju Bandara Internasional Lombok (BIL), selesainya kru yang akan berangkat dari Lombok (berjumlah 41 orang, karena Pak Ardhi Wirawan berangkat dari Bali) melakukan dokumentasi dengan foto bersama. Selanjutnya seluruh barang bawaan pribadi yang berada dalam koper dinaikkan ke bus Damri yang sudah standby dari pukul 06.00 pula. Tak lebih dari pukul 07.00 akhirnya rombongan berangkat menuju BIL dengan jarak tempuh sekitar 45 menit.
Perjalanan dilalui dengan suka cita, dan akhirnya rombongan tiba di BIL. Disana seluruh kru mengeluarkan barang-barang, termasuk mengankut packing gong dan pakaian tari dengan troli. Selanjutnya setelah perlengkapan siap, rombongan yang sudah dibagikan tiket segera masuk ke dalam bandara untuk melakukan check in. Pada saat check in ada masalah kecil yang dialami kru, yakni penerbangan ke Bali tidak menggunakan peswat Lion Air, melainkan Wings Air pesawat yang ukurannya jauh lebh kecil, alhasil gong dan aksesoris lain tidak bisa diangkut semuanya sekalian ke Bali karena melebihi daya tampung. Pimpinan kru akhirnya bernegosiasi dengan pihak bandara, dan ditemukan solusi bahwa perlengkapan akan diangkut dengan pesawat penerbangan ke Bali yang lain. Lama di dalam bandara, akhirnya sekitar pukul 09.30 seluruh rombongan sudah naik pesawat, dan lepas landas sekitar pukul 09.45. perjalanan ke Bali sangat singkat, yakni hanya 30 menit dan seluruh kru tiba di Bandara Internasional Ngurah Rai. Di Ngurah Rai, rombongan menunggu penerbangan selanjutnya cukup lama, hingga seluruh kru makan siang di dalam Bandara, dengan hidangan nasi kotakan. Sekitar pukul 13.00 rombongan melakukan check in penerbangan ke Thailand, dan disini pertama kali pengalaman saya ke luar negeri akan dimulai. Pemeriksaan ketat dilakukan petugas kepada kami semua, dan syukurnya seluruh rombongan lolos pemeriksaan. Maunya melakukan check in, tetapi ternyata perlengkapan seperti gong belum tiba di Bali (diangkut belakangan dengan pesawat lain) rombongan akhirnya menunggu di dalam bandara, yang mana tidak ada tempat duduk kami semua terpaksa duduk di bawah sambil menahan rasa kantuk. Sekitar pukul 14.00 akhirnya perlengkapan sudah tiba dan kami melakukan check in untuk menuju thailand. Akhirnya pukul 15.00 rombongan lepas landas menuju thailand untuk transit sebelum ke India dengan menggunakan Thai Air.
Sungguh berbeda dengan Wings air yang berukuran kecil, pesawat Thai Air berukuran besar, dan walaupun kami ada di kelas ekonomi pelayanan sangat memuaskan. Kami memproleh makan serta minum dalam pesawat, serta setiap penumpang memproleh selimut untu menjaga kehangatan badan belum lagi ditambah dengan sambutan hangat para awak pesawat. Tersedianya layar TV di setiap kursi penumpang juga membuat kenyamanan penumpang bertambah, sehingga tidak terasa 4 jam penerbangan dari Bali ke Thailand sudah berlalu. Rombongan tiba di Swarnabumi Internasional Ariport Thailand. Karena kebanyakan dari rombongan baru pertama kali ke luar negeri, kamera selalu menjadi teman setia untuk melakukan sesi foto disana sini untuk kenanangan. Dan dari dalam Bandara juga terlihat gemerlapan kota Thailand di malam hari. Di sana rombongan menunggu cukup lama sebelum beragkat ke India yakni sekitar 4 jam, dan kemudian sekitar pukul 23.30 waktu setempat rombongan naik ke pesawat dan kami melanjutkan perjalanan ke India. Pesawat yang digunakan sama dengan yang tadi, sehingga tanpa terasa juga 4 jam berlalu dan kami sampai di Indira Gandhi Internasional Airport. Kebahagiaan menyelimuti wajah seluruh rombongan, karena bisa berada di bumi India. Setelahnya rombongan mengurus administrasi berada di India, kemudian mengambil masing-masing barang. Pihak travel disana sudah menunggu kami untuk perjalanan menuju hotel, akhirnya pukul 03.00 waktu setempat kami berangkat menuju Park Plaza Hotel tempat kami menginap.
Di dalam perjalanan menuju hotel kami bisa menyaksikan bagaimana kondisi India di malam hari, dan ternyata walaupun malam, India tetap ramai, banyak warga yang tetap mengais rezeki di malam hari. 1 jam berlalu, kami tiba di hotel Park Plaza yang terletah di Delhi. Kami langsung check in di hotel dan pembagian kamar, dan saya sendiri sekamar dengan kakak tingkat, yaitu Yoga Pramana. Bersama kak Yoga sayapun kemudian menuju kamar hotel yaitu di kamar 519. Tiba di kamar, karena kecapekan kami berdua langsung tepar karena kecapekan. Pukul 08.00 waktu setempat tanggal 13 Oktober 2014 kami sudah sarapan di hotel. Kelihatan makanan yang disajikan sangat enak, tetapi setelah saya cicipi lidah ini tidak bisa merasakan. Rasanya sulit masuk ke dalam perut makanan yang kami konsumsi disana. Untuk mengisi perut terpaksa saya hanya kenyang dengan buah yang disediakan tanpa peduli makanan yang lain. Selesai sarapan pada hari pertama kami melaksanakan perjalanan ke beberapa tempat sebut saja India Gate, yang konon didirikan pada zaman penajajhan Inggris di India dan bangunan ini menjadi benteng kekuatan. Kemudian Guide mengajak kami untuk melihat dari luar gedung Parlemen dan Gedung Presiden India. Kemudian selsainya kami makan siang di sebuah restoran China. Makan siang baru lumayan mirip dengan masakan Indonesia walaupun rasanya sedikit aneh, namun karena lapar makanan bisa saya lahap. Selesai makan siang rombongan berkunjung ke KBRI dan disana ada perbincangan antara pejabat dengan pihak sana. Selesai dari KBRI, rombongan menuju Indhira Ghandi Center of Art tempat tim art mission akan tampil pada tanggal 14 Oktober. Setelah melakukan perbincangan yang cukup lama dengan pihak Center, rombonganpun beranjak menuju pasar seni di Delhi untuk melepas kepenatan dan mencari barang-barang khas India untuk dijadikan oleh-oleh. Sekitar 1,5 jam rombongan berada disana akhirnya kembali melanjutkan perjalanan menuju restoran untuk makan malam. Masih dengan Chinesse food, rombongan pun melahap makan malam yang disajikan, disana pula kami dibagkan kaos kenang-kenangan dari pihak LPTI travel yang menemani kami selama di India.
Selesai makan malam kami kembali ke hotel, seharian mengelilingi Delhi terasa cukup melelahkan, kesan juga bisa dilihat bahwa India bukanlah negara yang bersih, lingkungan kumuh dimana-mana, kemiskinan disana-sini, dan kehidupan disana sangat keras. Saya jadi berpikir kalau saya sekolah disana kuat apa tidak. Sungguh memprihatinkan kondisi sejumlah saudara kita yang ada disana. Saya teringat juga ketika ada di pasar seni, ada kakek-kakek yang sangat kurus meminta-minta saya sungguh kasihan dengan kakek itu, ingin saya memberi uang tapi, saya teringat dengan nasehat pihak travel jangan memberikan sedekah karena bisa direbut nanti oleh para pengemis disana. Akhirnya niat saya urungkan, namun sampai sekarang sudah di Indonesia saya masih menyesali kenapa saya tidak memberikan saja uang ke kakek itu. Apapun itu sudah berlalu, kembali pada aktivitas malam di hotel, badan yang lelah juga penuh dengan keringat akhirnya saya mandi, setelahnya tertidur dalam hitungan sekejap setelah merebahkan tubuh.
Keesokan harinya kembali kami sarapan di hotel, menu makanan tidak jauh berbeda, tetapi apa boleh buat, daripada lapar saya makan saja makanan yang bisa diterima perut, dan setelah sarapan kami langsung check out dari hotel untuk kemudan menuju Indhira Ghandi Center tempat pementasan. Pukul 08.00 kami sudah bernagkat dana sampai di lokasi skitar pukul 09.30. sesampainya disana, seluruh rombongan menurunkan perlengkapan untuk pementasan, kemudian membuka packing barang-barang untuk selanjutnya ditata. Setelah selesai menata peralatan tabuh, jadwal makan siang tiba, setelahnya seluruh kru bersiap-siap untuk melakukan pemnetasan pada pukul 16.00 waktu setempat. Para penari berhias, penabuh juga berganti kostum hingga pada jadwal yang telah ditetapkan semua sudah siap untuk melakukan pementasan seni. Acarapun dimulai, antusiame penonton juga luar biasa, gedung tempat pementasan terisi penuh dan sebagian besar mengabadikan pementasan yang dilakukan kru. Perlu juga saya sampaiakan bahwa ketika sebagian besar dari rombongan mempersiapkan pementasan, beberapa perwakila STAHN Gde Pudja Mataram ada melakukan pembicaraan terkait MOU yang dilakukan. Kembali pada pementasan, akhirnya selesai kurang lebih dalam durasi 1,5 jam selesainya diadakan sesi foto dan para penonton berebutan untuk foto bersama. Selesai semua kegiatan seluruh kru kembali disibukkan dengan melakukan packing barang kembali, sesudah selesai sekitar pukul 19.00 waktu setempat rombongan berangkat menuju kota yang lumayan jauh yakni Haridwar yang ditempuh 7 jam perjalanan dengan bus, sementara perlengkapan yang di packing tadi dititip di Indhira Gandhi Center.
Akhirnya pukul 02.00 pada tanggal 15 Oktober rombongan tiba di hotel di kota Haridwar, kami melakukan check in, dan kembali saya sekamar dengan Kak Yoga menempat kamar 602. Sesampainya di kamar, layaknya di Park Plaza kami langsung tepar hingga sesuai jadwal keesokan harinya pukul 07.00 kami sudah harus sarapan. Selesainya sarapan kami diajak berkunjung ke Hrisikesh, menggunakan perahu kami menyebrangi sungai gangga. Di Hrisikesh terdapat banyak kuil, sapi juga banyak berkeliaran. Anehnya sapi disana sangat jinak dan saya sempat fotoan sambil mengelus-elus kepala sapi disana. Kuil juga sangat banyak di tempat ini, sehingga kami melakan pemujaan di beberapa kuil. Hrisikesh ini juga terkenal sebagai Yoga Centernya India, sehingga banyak Yogi disana, akan tetapi selama beebrapa jam disana saya tidak melihat dimana ada orang latihan Yoga. Setelah menghabiskan banyak waktu disana kami kembali ke hotel untuk makan siang. Tidak ada istirahat, selesai makan siang kami kembali naik bus untuk menuju tempat persembahyangan Devi Mansha Mandir. Di Mandir bus tidak bisa naik, sehingga pihak travel menyewakan bajaj untuk kami semua, bajaj yang hanya memuat 4 penumpang melaju dengan gesit, saya sampai ketakutan bajaj akan terbalik karena jalan yang dilalui lumayan naik. Akhirnya hkami sampai di Mandir, dan untuk menuju tempat pemujaan rombongan kembali naik kereta gantung. Pengalaman yang luar biasa dalam hidup saya, saya bisa melihat bagaimana indahnya sungai Gangga dari atas, dan sekitar 5 menit melayang kami sampai pada pintu menuju temple di Mandir. Setelah masuk kami masing-masing diberikan daksina ala India oleh pihak travel dan setiap orang diberikan pecahan 10 rupee sejumlah 10 lembar untuk didonasikan.
Rombonngan masuk menuju temple, tidak seperti yang dibayangkan ternyata ada banyak sekali temple disana, dan kami melakukan pemujaan secara bergantian di semua temple, ada temple ganesha, wisnu, siwa, saraswati dan lainnya, sejenak kami bagaikan orang india walaupun dari segi pakaian kami paling aneh karena memakai pakaian adat Bali. Selesai melakukak pemujaan di semua temple, seluruh rombongan kembali berkumpul dan turun  lagi menggunakan jembatan gantung untuk selanjutnya melakukan Aarti Puja di tepi sungai Gangga. Menuju lokasi Aarti puja kami berjalan lumayan jauh dengan melewati para dagang-dagang yang menjual barang khas India, ingin kami berbelanja tetap guide selalu bilang “Remember, no shoping okay!” begitu berulang-ulang sehingga tidak ada yang berani dari rombongan untuk berbelanja takut tertinggal. Akhirnya kami tiba di tepi sungai Gangga, dan menyaksikan betapa meriahnya Aarti Puja yang dihadiri oleh Ribuan umat disana. Sungguh pemandangan religius yang sulit akan saya temukan kembali, olehnya kembali kamera menemani untuk kenang-kenangan.
Selesai menyaksikan masyarakat Hindu India melakukan Aarti Puja, giliran rombongan yang melakukan puja dengan tradisi Hindu kita yang mana di pandu oleh bapak Mangku Murba. Sebelum sembahyang seluruh kru diberikan sekar (bunga dalam wadah dan berisi sentir) oleh pihak travel kemudian ritual dimulai. Ketika rombongan melakukan pemujaan, malahan rombongan yang menjadi pusat perhatian, semua orang yang lewat memperhatikan kami, mungkin karena prosesi yang berbeda. Selesai sembahyang akhirnya kesempatan untuk mandi (atau Melukat) di sungai Gangga tiba. Tanpa menunggu waktu lama saya segera berganti kain dan menyentuhkan diri pada sucinya air Gangga, kemudian nunas tirta untuk sanak saudara yang di rumah. Selesai melukat, seluruh rombongan berkumpul, dan ternyata pihak sudah menyiapkan juga 1 jerigen tirta untuk setiap orang, kemudian kami kembali ke bus  dengan rute yang jauh lebih pendek dari rute semula. Sekitar 30 menit perjalanan menuju hotel, sampai di hotel kami makan malam kemudia istirahat karena esoknya akan balik ke Delhi sebelum kemudian pulang ke tanah air.
Untuk kedua kalinya kami menikmati suasana pagi di kota Haridwar, dan itu adalah detik-detik sebelum kami bernjak kembali ke Delhi. Diawali dengan sarapan, yang mana lidah sudah mulai bisa menerima kemudian seluruh kru check out dari hotel, kemudia pada pukul 08.00 kami sudah beranjak menuju Delhi. Perjalanan 7 jam kambali kami lalui sambil menikmati suasana India, melihat aktivitas penduduk India dan melihat bangunan-bangunan di India. Tidak terasa, pukul 15.00 kami akhirnya tiba di Delhi dan langsung menuju sebuah restoran untuk makan siang kemudian ke Indira Gandhi Center untuk mengambil barang yang dititipkan, setelah itu rombongan meminta untuk diajak ke Pasar seni yang dikunjungi di hari pertama kepada guide untuk membeli oleh-oleh. Inginnya ke pasar agar dapat harga barang lebih murah, ternyata guide mengajak kami ke sebuah artshop yang harga barangnay jauh melambung. Rombongan tidak terima dan minta ke pasar seni. Alih-alih ke pasar seni, dengan kendala waktu diputuskan untuk makan malam. Kekecewaan menyelimuti beberapa dari kami karena uang rupee masih, tetapi belum membeli oleh-oleh. Rombongan akhirnya setuju makan malam di sebuah Chinesse Restorant kembali, dan lidah yang udah mulai terbiasa melahap semua makanan yang disajikan, dan moment makan malam ini ternyata makan kami yang terakhir di India untuk Art Mission ini.
Selepas makan malam rombongan menuju Indira Gandhi Internasional Airport untuk bersiap-siap pulang ke tanah air. Sesampainya disana rombongan melakukan check in, dan akhirnya lepas landas menuju thailand dengan Thailand Air lagi pada pukul 24.00 waktu setempat. Tidak terasa 4 jam perjalanan menuju Thailand, akhirnya kami kembali tiba di Swarnabhumi Internasional Airport pada pukul 05.30 waktu Thailand, dan kami dapat sedikit menikmati suasana Thailand di pagi hari. Lama menunggu di dalam bandara, saya memuaskan diri untuk berkeliling sambila melakukan berbagai dokumentasi apa yang dilihat berkesan, akhirnya pada pukul 09.00 waktu setempat kami sudah naik ke pesawat lagi dan siap menuju Bali dalam waktu 4 jam mengudara. 4 jam berlalu, India tinggal kenangan dan kami tiba di Bandara Ngurah Rai, disana kembali kami melakukan administrasi bahwa sudah kembali ke tanah air. Kami tiba di Bali pada tanggal 17 Oktober 2014, akan tetapi tidak langsung balik ke Lombok dikarenakan tidak ada lagi penerbangan menuju Lombok pada hari itu. Keluar dari bandara, rombongan di ajak melewati jembatan di atas laut yang ada di Bali, dan kemudia menuju sebuah restoran di Renon. Setelah melihat bagaimana India, kembali melihat Bali rasanya Bali itu sangat bagus, dan ketika makan pula semua rombongan pada lahap menikmati makanan ala lidah Indonesia kembali. Setelah selesai makan, rombongan bermalam di Puri Nusa Indah Hotel yang ada di jalan Nusa Indah Denpasar. Namun saya tidak ikut bermalam di hotel, saya memilih pulang kampung semalam menuju Gianyar untuk bertemu keluarga, saya tiba di rumah pukul 21.00, sempat melepas rindu hanya sekejap sebelum tidur setidaknya cukup mengobati kangen melihat keluarga. Sesuai dengan anjuran ketua rombongan jam setengah 7 harus sudah tiba di Denpasar, saya berangkat kembali dari rumah pukul 05.30 untuk menuju Denpasar. Akhirnya sesuai jadwal molor sedikit, saya sudah bisa berkumpul dengan rombongan kembali di denpasar.

Pukul 07.30 rombongan minus pak Ardhi, Pak Agung, Bu Desi, dan Pak Wirata bernagkat menuju Bandara Ngurah Rai untuk kembali ke Lombok. Di Ngurah Rai sudah ada bapak Sulastra dan bapak Made Jaya yang menunggu kemudian seluruh rombongan melakukan check in, setelah check in kami menunggu keberangkatan pada pukul 11.00 dengan menggunakan Wings Air lagi. Dan gong yang tidak bisa masuk semuanya di pesawat kali ini menggunakan jalur laut kembali ke Lombok. Pada pukul 11.30 akhirnya seluruh rombongan sudah tiba di BIL, dan kemudian dengan menggunakan bus Damri kami menuju Kampus STAHN Gde Pudja Mataram kembali. Kurang lebih pukul 12.30 kami sudah tiba di Mataram, dan setelah mengambil barang masing-masing kami kembali ke tempat tinggal masing-masing, dan berhubung saya tinggal di asrama, yan sudah nyampai tempat tinggal. Itulah pengalaman yang saya alami selama mengikut Art Mission to India, dan ini merupakan satu dari sekian pengalaman besar yang saya alami, terima kasih STAHN Gde Pudja Mataram.