Tampilkan postingan dengan label STUDI ACARA HINDU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label STUDI ACARA HINDU. Tampilkan semua postingan

MEMAKNAI TUMPEK UYE/TUMPEK KANDANG


            Setiap enam bulan sekali umat Hindu di Bali selalu merayakan hari kasih sayang kepada binatang yang jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Uye dan disebut sebagai Tumpek Uye atau Tumpek Kandang atau Tumpek Wewalungan. Sebagaimana telah diketahui bahwa umat Hindu di Bali memang sangat kaya akan adat-istiadat adiluhung yang menjadi satu kesatuan dengan agama Hindu dan menjadi jati diri orang Bali. Tumpek Uye ini menjadi salah satu dari sekian banyak kearifan lokal yang terus tumbuh di dalam masyarakat Hindu Bali. Kearifan lokalyang lain yang bisa disebut dengan tumpek seperti Tumpek Landep (otonan Senjata), Tumpek Wariga (otonan Tumbuh-tumbuhan), Tumpek Kuningan, Tumpek Krulut, dan Tumpek Wayang.

TUMPEK LANDEP: BENARKAH MERUPAKAN OTONAN MOTOR?

            Agama dan Budaya seakan menjadi dualitas yang tidak dapat dipisahkan dalam realitaskehidupan masyarakat Hindu Indonesia pada umumnya dan Hindu Bali pada khususnya. Ajaran agama Hindu yang mengacu pada ajaran Weda lebih banyak terealisasi dalam wujud upacara yang sudah berlangsung secara turun-tumurun. Berbagai upacara terus mewarnai kehidupan masyarakat Hindu Bali sebagai ucapan syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Salah satu upacara yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali atas dasar perhitungan Wewaran dan Pawukon adalah Tumpek Landep, yaitu jatuh pada Saniscara Kliwon wuku Landep.

NILAI SAKRAL SESUWUNAN BARONG DAN RANGDA DI PURA DESA PEMAKSAN BANJAR ROJONG, DUSUN TANAH EMBET BARAT

Hallo para sahabat Blogger.. lama saya belum bisa posting sudah lebih dari sebulan. Nah sekarang saya berbagi makalah yang telah saya selesaikan pada mata kuliah seni sakral. Langsung aja ya..

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
            Era Globalisasi ini ditandai dengan adanya perubahan yang mengglobal (menyeluruh) pada aspek kehidupan. Perubahan terus terjadi seiring dengan daya kreasi manusia yang terus berkembang. Perubahan memang terus terjadi baik itu mengarah ke hal yang positif maupun hal yang negatif, karena sebagaimana orang bijak mengatakan bahwa yang paling abadi adalah perubahan itu sendiri. Perubahan ini menunjukkan bahwa manusia mampu berkreasi, berinovasi dan berkembang. Berkreasi tidak hanya  terbatas pada satu hal, tetapi setiap orang memiliki tempatnya masing-masing untuk berkreasi sesuai dengan bakat yang dimiliki. Begitu pula dalam hal berinovasi, inovasi akan muncul seirama dengan kreasi yang muncul dalam benak manusia yang nantinya semua ini akan membuat kehidupan manusia semakin berkembang.
            Menukik pada kreasi, bahwa sesungguhnya setiap insan manusia terlahir dengan kemampuan berkreasi yang berbeda-beda. Perbedaan ini terjadi karena faktor keturunan maupun karena faktor lingkungan dimana manusia tumbuh dan berkembang. Kreasi yang bisa dituangkan manusia bisa saja mencakup kesenian, sastra, teknologi, komunikasi, atau hal lainnya yang memiliki potensi untuk terus dikembangkan. Akan tetapi kesan di masyarakat, ketika berbicara mengenai kreasi maka hal pertama yang terbayang dalam benak adalah mengenai kesenian. Mengapa demikian? Karena selama ini kreasi yang lebih mudah diterima oleh masyarakat adalah di bidang kesenian. Kesenian yang bisa dikreasi oleh manusia seperti seni tari, seni musik, seni patung, seni lukis, seni tabuh, dan seni lainnya yang mampu menimbulkan rasa senang dan nyaman bagi para penikmatnya.

CANANG BUKAN UNTUK SEMBAHYANG!!!!

Canang adalah sarana persembahyangan yang sudah tidak asing bagi umat Hindu di Indonesia. Beberapa sumber menyebutkan bahwa canang merupakan istilah yang diambil dari bahasa Jawa Kuno yang berarti sirih, yang mana awalnya sirih ini merupakan suguhan yang diberikan kepada tamu yang dihormati. Menurut keyakinan juga, sirih ini benar-benar bernila tinggi, sehingga menjadi unsur penting dalam upacara agama. Lain di Jawa lain di Bali, di Bali sendiri canang sudah akrab dengan upakara, dan apabila dikaitkan dengan pendefinisian canang di Jawa, maka bisa dilihat pula bahwa inti dari canang itu adalah sirihnya yang disebut "Porosan".
            Canang merupakan syarat utama yang harus ada dalam membuat upakara baik dalam ukuran

PANCA SRADHA


Pengertian dan Pembagian  Panca Sradha
Bila dijabarkan menurut katanya,panca dapat diartikan lima dan sradha dapat diartikan
keimanan atau kepercayaan. Jadi Panca Sradha adalah lima dasar kepercayaan atau keyakinan agama Hindu yang harus dipegang teguh dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat demi mencapai tujuan hidupnya di dunia (alam skala dan niskala).

SASANA DAN WEWENANG ORANG SUCI


A.    Wewenang para diksa secara umum
Seorang yang telah didiksa, maka ia berstatus sebagai orang suci atau dibali disebut dengan Sulinggih. Diberi gelar sesuai dengan wangsanya atau keturunannya dan mempunyai wewenang untuk nglokaparacraya artinya yaitu sebagai orang/tempat umat memohon petunjuk kerohanian dan sebagai orang yang dimohon untuk menyelesaikan (muput) suatu upacara/upakara agama.

Cuntaka (Sebel)

Project's owner: Endang Setyaningsih

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
            Sebagai umat manusia tentunya kita tidak selalu bisa dalam keadaan bersih dan suci, namun ada saat – saat tertentu dimana kita dinyatakan dalam keadaan kotor. Hal ini biasa dikenal dengan sebutan Cuntaka oleh umat Hindu. Apabila dalam keadaan yang sedang kotor atau tidak suci maka kita tidak diperbolehkan untuk bersembahyang di tempat suci (Pura). Sampai pada batas waktu yang sudah ditentukan dan sudah mendapatkan Tirtha Pebersihan barulah kita diperbolehkan untuk bersembahyang di Pura.
            Namun, di antara daerah satu dengan lainnya tentunnya memiliki perbedaan baik dari segi budaya dan tradisi. Begitu pula dengan Cuntaka, pastinya antar daerah memiliki perbedaan. Perbedaannya bisa berupa sebab – sebab terjadinya Cuntaka, lama waktu orang yang mengalami Cuntaka tidak diperbolehkan ke Pura, maupun cara pebersihan dan penyucian orang yang telah mengalami Cuntaka
            Maka dalam hal ini penulis akan membahas tentang Keadaan yang tidak suci (Cuntaka) yang terjadi di daerah Kediri Jawa Timur.

1.2 Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Cuntaka?
2.      Apa saja penyebab terjadinya Cuntaka?
3.      Bagaimana cara untuk membersihkan dan menyucikan kembali orang yang telah mengalami Cuntaka?

1.3 Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian Cuntaka.
2.      Untuk mengetahui sebab – sebab terjadinya Cuntaka.
3.      Untuk mengetahui cara untuk membersihkan dan menyucikan kembali orang yang telah mengalami Cuntaka.
           

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Cuntaka
Menurut pengertian kamus Kawi-Indonesia istilah cuntaka berarti cemer (letuh). Berdasarkan keputusan pesamuhan agung PHDP Nomor 015/Tap/PA.PHDP/1984 dipergunakan istilah cuntaka untuk menyatakan suatu keadaan kotor (tidak suci) baik akibat dari kematian maupun hal – hal lain yang dipandang kotor. Dalam hal ini istilah cuntaka dan sebel diartikan sama sebagai istilah untuk menyatakan suatu keadaan yang kotor secara spiritual baik karena kematian maupun hal – hal lain yang dipandang kotor oleh segi adat agama. Di kalangan umat Hindu istilah cuntaka belum merata dikenal orang, yang populer dipakai/dikenal di masyarakat adalah istilah sebel.
Dari pengertian tersebut maka cuntaka dapat digolongkan menjadi 2 macam :
1.      Cuntaka karena diri sendiri adalah orang yang dalam keadaan kotor, sehingga tidak boleh melakukan suatu upacara Agama dan memasuki tempat suci.
2.      Cuntaka yang disebabkan oleh orang lain adalah orang yang dalam hubungan duka karena kematian, sehingga tidak boleh melakukan upacara keagamaan dan memasuki tempat suci kecuali kegiatan yang ada hubungannya dengan upacara kematian tersebut.
Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa cuntaka hanya disebabkan oleh keadaan manusia sendiri dan menurut pandangan manusia sehingga ia disebut mengalami suatu kecuntakaan.

2.2 Sebab – Sebab Cuntaka
   Mengingat apapun yang terjadi di dunia ini adalah karena hubungan sebab akibat. Hukum sebab akibat inilah yang mempengaruhi kehidupan di alam ini. Atas kenyataan ini cuntaka pasti ada penyebabnya. Secara keseluruhan penyebab cuntaka dalam kehidupan spiritual masyarakat Hindu dapat dibedakan menjadi dua macam :
1.      Cuntaka yang disebabkan oleh orang lain yaitu karena akibat kematian. Batas waktunya yaitu disesuaikan dengan loka dresta dan sastra dresta. Namun apabila di daerah saya yaitu sampai 40 hari.
2.      Cuntaka yang disebabkan oleh diri sendiri, antara lain sebagai berikut :
a)      Akibat keguguran kandungan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu :
Ø  Keguguran kandungan pada umur kandungan di bawah 6 bulan termasuk dalam cuntaka karena haid.
Ø  Keguguran kandungan di atas umur enam bulan dianggap sudah berupa bayi, maka berlaku cuntaka penuh yaitu kematian bayi sebelum kepus puser.
Batas waktunya sekurang- kurangnya 42 hari dan berakhir setelah mendapat tirtha pabersihan.
b)      Akibat dari menstruasi/datang bulan yang umum terjadi pada wanita normal. Saat – saat keluarnya darah haid pada wanita dipandang kurang harmonis. Setiap wanita mengalami cuntaka karena haid ± 1 bulan sekali, waktunya berbeda pada setiap orang yang mengalaminya. Batas waktunya selama masih mengeluarkan darah sampai membersihkan diri.
c)      Cuntaka akibat berlangsungnya upacara perkawinan/pernikahan yang dialami oleh kedua mempelai sebelum dibersihkan dengan upacara penyucian. Batas waktunya sampai dengan mendapat tirta pabeakaonan.
d)     Akibat mitra ngalang yaitu :
Ø  Hubungan seks di luar perkawinan/pernikahan. Batas waktunya sampai dengan upakara beakaon.
Ø  Agamya gamana adalah hubungan seks antara anak dengan orang tua, atau termasuk juga hubungan seks antara saudara kandung. Batas waktunya sampai diceraikan, diadakan pembersihan baik terhadap diri pribadi maupun desa adat/ kahyangan.
e)      Akibat salah timpal yaitu manusia melakukan hubungan seks dengan binatang. Batas waktunya diselesaikan sebagaimana mestinya sesuai dengan adat dan agama Hindu. Sampai dengan upakara beakaon.
f)       Cuntaka akibat melahirkan/bersalin yang dialami oleh ayah dan ibunya serta anak yang dilahirkan. Batas waktunya sekurang- kurangnya 42 hari dan berakhir setelah mendapat tirtha pabersihan dan suaminya sekurang- kurangnya sampai lepas puser bayinya.
g)      Terjadinya kehamilan di luar perkawinan/pernikahan dan juga melahirkan tanpa didahului dengan upacara perkawinan/pernikahan. Batas waktunya sampai dengan upakara beakaon.
h)      Orang yang pernah melakukan sad atetayi. Batas waktunya sampai diprayascita dan sama sekali tidak boleh menjadi rohaniawan.
i)        Penderita sakit kelainan juga dapat menyebabkan ketidakseimbangan kehidupan kemasyarakatan, karena khawatir akan akibat yang ditimbulkan oleh sakit yang dideritanya.
            Namun apabila di daerah saya, cuntaka yang paling umum atau sering dialami oleh masyarakatnya yaitu :
1.      Kematian, dimana keluarga – keluarga dekat Keluarga terdekat sampai dengan mindon, serta orang- orang yang ikut mengantar jenazah tidak diperkenankan untuk masuk Pura sampai dengan 40 hari setelah keluarganya meninggal.
2.      Apabila mengalami menstruasi. Hal ini sama dengan penyebab cuntaka yang telah disebutkan di atas dan orang yang mengalami menstruasi tidak diperkenankan untuk masuk Pura sampai dengan selesai menstruasi, tentunya antar orang satu dengan lainnya waktunya tidak sama.
3.      Melahirkan. Ibu yang telah mengalami proses bersalin baru diperkenankan masuk ke Pura sampai dengan 42 hari.

2.3 Upacara dan Upakara Penyucian Terhadap Cuntaka
   Penyucian terhadap cuntaka adalah usaha pengembalian keadaan yang dipandang tidak suci, agar menjadi suci kembali, baik berupa benda-benda, bangunan, lingkungan maupun keadaan manusia. Usaha penyucian tersebut diwujudkan dalam bentuk upacara. Upacara adalah pelaksanaan dari usaha manusia dalam melaksanakan kegiatan keagamaan. Selanjutnya didalam pelaksanaan upacara akan diperlukan perlengkapan-perlengkapan yang disebut upakara. Upacara (pelaksanaan aktivitas keagamaan ) adalah merupakan suatu kewajiban, sedangkan upakara adalah merupakan sarana penunjang /pelengkap sehingga jumlahnya dan jenisnya dapat disesuaikan dengan desa, kala dan patra. Bagi umat Hindu, penyelenggaraan upacara keagamaan menggunakan sarana pelengkap (upakara) berupa banten yaitu beberapa jenis bahan yang diatur sedemikian rupa sehingga indah dilihat dan mempunyai arti simbolis religius keagamaan sesuai dengan fungsi dan pengaruhnya terhadap keadaan tertentu.
   Dengan demikian proses penyucian terhadap cuntaka baik mempergunakan banten penyucian maupun tanpa sarana banten dapat diperinci sebagai berikut :
a)      Cuntaka akibat kematian, penyuciannya mempergunakan banten beakala, pekalemijian dan prayascita.
b)      Cuntaka akibat perkawinan mempergunakan banten beakala dan prayascita.
c)      Cuntaka karena melahirkan, penyucianya menggunakan banten beakala dan prayascita.
d)     Cuntaka karena mitra ngalang dan hamil di luar perkawinan penyuciannya mempergunakan banten beakala dan prayascita atau kedua pelaku tersebut melangsungkan upacara perkawinan.
e)      Cuntaka karena melahirkan bayi di luar perkawinan pebersihannya menggunakan banten beakala dan prayascita.
f)       Cuntaka karena agamya gamana dan salah timpal penyuciannya adalah meliputi desa adat. Penyucian bhuwana alit (orang yang bersangkutan) adalah dengan melukat ke segara setelah itu baru dibersihkan dengan banten durmanggala, beakala dan prayascita. Penyucian bhuwana agung akan diuraikan berikutnya.
g)      Cuntaka karena sakit kelainan penyuciannya mempergunakan banten beakawon dan prasyascita
h)      Cuntaka akibat melakukan sad atetayi  pembersihannya mempergunakan banten prayascita.
i)        Cuntaka akibat keguguran kandungan pembersihannya menggunakan banten prayascita.
j)        Itulah semua penyucian terhadap cuntaka dengan mempergunakan sarana banten.

Sedangkan berikut ini penyucian terhadap cuntaka dengan tanpa menggunakan sarana banten.
1.      Cuntaka karena mejenukan (menengok kelurga yang tertimpa kematian). Keadaan demikian sama dengan turut berduka cita penyuciannya dapat dilakukan dengan pribadi-pribadi dengan tirtha pebersihan. Demikian pula di Bali umumnya cuntaka seperti itu  dilakukan dengan pengelukatan di dapur (dewa Brahma), melalui air cucuran atap dapur (dewa Wisnu).
2.      Cuntaka karena menstruasi, penyuciannya dengan cara mandi, keramas dan metirtha pebersihan.

Apabila di daerah saya, menurut Pemangku Saudi baik Cuntaka yang disebabkan oleh kematian, maupun melahirkan bisa dibersihkan atau disucikan kembali dengan menggunakan Tirta Pelukatan yang langsung diketiskan oleh Pemangku. Dan untuk Cuntaka yang disebabkan oleh menstruasi maka bisa dibersihkan dengan cara mandi keramas dan metirtha pebersihan.



BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Dari penjelasan di atas dapat penulis simpulkan bahwa :
1.      Pengertian Cuntaka adalah suatu keadaan kotor (tidak suci) baik akibat dari kematian maupun hal – hal lain yang dipandang kotor.
2.      Sebab – sebab Cuntaka secara umum yaitu :
a)      Cuntaka yang disebabkan oleh orang lain yaitu karena akibat kematian.
b)      Cuntaka yang disebabkan oleh diri sendiri, antara lain sebagai berikut :
Ø  Akibat keguguran kandungan.
Ø  Akibat dari menstruasi/datang bulan.
Ø  Cuntaka akibat berlangsungnya upacara perkawinan/pernikahan.
Ø  Akibat mitra ngalang.
Ø  Akibat salah timpal.
Ø  Cuntaka akibat melahirkan/bersalin.
Ø  Terjadinya kehamilan di luar perkawinan/pernikahan.
Ø  Orang yang pernah melakukan sad atetayi.
Ø  Penderita sakit kelainan.
3.      Sebab Cuntaka di Daerah saya :
·         Akibat kematian
·         Akibat menstruasi.
·         Akibat melahirkan.
  
DAFTAR PUSTAKA
http://sejarahharirayahindu.blogspot.com/2012/02/cuntaka.html   

PERJALANAN DANGHYANG DWIJENDRA

             Mengenai perjalanan Danghyang Dwijendra yang tertuang dalam postingan ini merupakan salah satu tugas Study Acara Hindu yang saya buat dengan mengambl sumber dari buku dan juga beberapa tambahan dari dunia maya, dan pada kesempatan ini saya ingin berbagi kepada sahabat semua, semoga dengan postingan ini pemahaman sahabat akan semakin bertambah. Selamat Membaca!!!!

Pada akhir abad ke-15, kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan. Selain disebabkan karena faktor dari dalam, yaitu perang saudara (Perang Paregreg) untuk menjadi penguasa di Majapahit, faktor dari luar juga menjadi penyebab keruntuhan salah satu kerajaan Hindu terbesar ini, yakni serangan dari Kerajaan Demak yang beragama Islam. Akibat dari hal tersebut, agama Hindu akhirnya surut oleh pengaruh agama Islam, dimana penduduk di Majapahit dan sekitarnya serta pulau Jawa pada umumnya akhirnya beralih keyakinan ke Agama Islam. Orang-orang Majapahit yang tidak mau beralih agama dari Hindu ke Islam akhirnya memilih meninggalkan Majapahit. Mereka memilih tinggal di daerah Pasuruan, Blambangan, Banyuwangi, dimana sebagian besar masyarakatnya masih memeluk agama Hindu. Selain itu beberapa diantara mereka bahkan menetap di daerah pegunungan, seperti: Pegunungan Tengger, Bromo, Kelud, Gunung Raung (Semeru). Sedangkan beberapa dari mereka yang masih tergolong arya dan para rohaniawan memilih untuk pergi ke Bali, hal itu disebabkan karena saat itu di Bali pengaruh Agama Hindu masih sangat kuat. Oleh karena itu mereka mencari perlindungan di Bali, selain untuk melarikan diri dari Majapahit dan pengaruh Islam di Jawa.
Salah seorang dari rohaniawan tersebut adalah Danghyang Nirartha atau Danghyang Dwijendra. Danghyang Nirartha datang ke Bali pada tahun 1489 M, pada masa pemerintahan Raja Sri Dalem Waturenggong. Danghyang Nirartha datang ke Bali dalam rangka dharmayatra, akan tetapi dharmayatranya tidak akan pernah kembali lagi ke Jawa. Karena di Jawa (Majapahit) Agama Hindu sudah terdesak oleh Agama Islam. Namun kendatipun demikian, ternyata Danghyang Nirartha juga mempelajari agama Islam, bahkan Beliau menguasai Agama Islam, tetapi keislamannya tidak sempurna. Ini terbukti dari pengikut – pengikutnya, yaitu orang – orang Sasak di Pulau Lombok yang mempelajari Islam dengan sebutan Islam Wetu Telu (Islam Tiga Waktu). Namun Terlepas dari hal tersebut, Danghyang Nirartha adalah penganut Agama Hindu yang sempurna. Seperti para leluhurnya, Danghyang Nirartha memeluk Agama Siwa, yang lebih condong ke Tantrayana. Agama Siwa yang diajarkan oleh Danghyang Nirartha adalah Siwa Sidhanta, dengan menempatkan Tri Purusa, yaitu Paramasiwa, Sadasiwa, dan Siwa. Dari tiga aspek ini Sadasiwalah yang diagungkannya.
Perlu juga untuk diketahui bahwa perubahan nama Danghyang Nirartha menjadi Danghyang Dwijendra terjadi setelah beliau berguru dan didiksa oleh mertuanya, yaitu Danghyang Panawasikan. Setelahnya Danghyang Nirartha dianugerahi bhiseka kawikon dengan nama Danghyang Dwijendra. Danghyang Dwijendra sendiri merupakan putra dari Danghyang Asmaranata, yang merupakan tokoh rohaniawan Majapahit. Dalam perjalanan Dharma Yatranya ke Bali, beliau pertama kali menginjakkan kakinya di pinggiran pantai barat daya daerah Jembrana untuk sejenak beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan dharmayatra. Di tempat inilah Danghyang Dwijendra meninggalkan pemutik (ada juga menyebut pengutik) dengan tangkai (pati) kayu ancak. Pati kayu ancak itu ternyata hidup dan tumbuh subur menjadi pohon ancak. Sampai sekarang daun kayu ancak dipergunakan sebagai kelengkapan banten di Bali. Sebagai peringatan dan penghormatan terhadap beliau, dibangunlah sebuah pura yang diberi nama Purancak.
Danghyang Dwijendra menjadi pembaharu Agama Hindu di Bali. Danghyang Dwijendra merupakan pencipta arsitektur padmasana untuk kuil Hindu di Bali. Kuil-kuil ini dianggap oleh para pengikut sebagai penjelmaan dari Shiva yang agung. Semasa perjalanan Danghyang Dwijendra, jumlah kuil-kuil di pesisir pantai di Bali bertambah dengan adanya kuil padmasana. Pada waktu melakukan Dharmayatra ke Bali dari Daha, Jawa Timur. Danghyang Dwijendra banyak mendirikan Pura-Pura terutama di daerah selatan pulau Bali, seperti Pura Rambut siwi, Pura Melanting, Pura Er Jeruk, Pura Petitenget dan lain-lain. Pura-pura yang didirikan oleh Danghyang Dwijendra ini dikenal dengan Pura Dang Kahyangan. Selain di Bali, Danghyang Dwijendra juga melakukan dharmayatra ke Lombok dan Sumbawa. Bahkan di Sumbawa Danghyang Dwijendra dikenal dengan sebutan Tuan Semeru. Sedangkan di Lombok dikenal dengan sebutan Haji Duta Semu, dan di Bali Danghyang Dwijendra dikenal dengan sebutan Pedanda Sakti Wawu Rawuh.
Terkait dengan keberadaan Danghyang Dwijendra di Jembrana diceritakan bahwa saking aktifnya beliau melakukan dharma keagamaan, perhatian beliau pada putra/putri dan istrinya berkurang, alhasil sesuai dengan intuisi/naluri seorang rsi, istri dan putra/putrinya meninggalkan rumah tanpa memberitahu. Danghyang Dwijendrapun mencari anggota keluarganya, alhasil sang rsi menemukan istri dan putra-putrinya dalam keadaan ketakutan tanpa, kecuali putrinya Dyah Swabawa. Sang rsipun mencari putrinya dengan mengikuti sepanjang aliran Tukad Aya ke arah hulu. Beliau akhirnya sampai di wilayah puncak gunung Merbuk di utara dan hingga akhirnya beliau sampai pada sebuah pura tua, yaitu pura Pulaki yang berlokasi tepat di pinggir karang padas yang menjorok ke laut. Sang rsi akhirnya mendapatkan sang putri dalam kondisi mengenaskan, karena ada penduduk desa Pegumetan yang mengganggu sang putri dengan cara yang tidak senonoh. Danghyang Dwijendra lalu menghukum orang-orang Pegumetan yang lancang itu dengan kutukan agar mereka menjadi wong gamang dan kemudian menjadi pelayan dan pengikut Dyah Swabawa yang kemudian disthanakan dan dihormati disana sebagai orang suci. Satu hal mendasar pula yang perlu diperhatikan, bahwa keberadaan Danghyang Dwijendra di Jembrana adalah untuk menyadarkan I Gusti Ngurah Rangsasa yang merupakan pemimpin sekte Bhairawa di Jembarana yang terkenal kemampuannya pada saat itu.
Di lain kisah, diceritakan tentang bagaimana asal-usul Danghyang Dwijendra dikenal sebagai Pedanda Sakti Wawu Rauh di Bali. Cerita berawal ketika sang Rsi bersama keluarganya sampai di sebuah desa yang bernama Gading Wangi, penduduk disana kurus-kurus, pucat dan penyakitan karena sedang dijangkit epidemi, atau gangguan kulit. Ketika pertama kali melihat sang rsi mereka pada bertanya “Wawu Rauh?” dan kata itu berulang-ulang terucap dari bibir penduduk. Sang rsi sangat terharu dan dalam benaknya hanya berpikir bagaimana menyembuhkan penduduk desa, dan akhirnya beliau mengambil air bersih dari sumber mata air, lalu dimantrai dan selanjutnya diberikan pada penduduk desa. Keajaiban terjadi, beberapa hari berselang para penduduk desa sembuh dari penyakitnya, dan dari kejadian itu penduduk desa memanggil sang Rsi Pedanda Sakti Wawu Rauh.
Setelah meninggalkan desa Gading Wangi, sang rsi melanjutnya yatranya menuju Tabanan hingga sampai di Gunung Batukaru, yang mana disana terdapat Pura Batukaru. Namun tujuan beliau bukan disana, melainkan menuju desa Mas sebelum ke pusat kota Gelgel. Namun setelah perjalanan dari Tabanan, sang Rsi terlebih dahulu sampai di Tuban, dan keberadaan beliau di Tuban sampai ke telinga penguasa Badung Arya Tegeh Kori, Tegeh Kori sangat ingin berjumpa dengan sang Rsi. Akhirnya sang Rsi dijemput ke Tuban dan menawarkan agar sudi singgah di purinya di Badung.  Dalam perjalanan, Tegeh Kori mengiringi sang wiku menyaksikan banjir di desa Buagan, dan penduduk yang mengetahui kehadiran sang wiku mohon bantuan agar sang wiku dengan kekuatan gaibnya menjinakkan banjir itu. Sang Rsi memberikan sepotong kayu yang telah dirajah, dan akhirnya banjir manjadi cepat surut.
Setelah meninggalkan Puri Badung, sang Rsi melanjutkan perjalanan ke timur hingga sampai di desa Mas, yang mana kehadirannya telah lama dinanti-nanti oleh Pangeran Mas. Disinilah Danghyang Dwijendra meneta. Dari sinipun Danghyang Dwijendra menikahi anak bendesa Mas. Dari pernikahan ini Danghyang Nirartha memiliki putra: Ida Timbul, Ida Alngkajeng, Ida Penarukan, dan Ida Sigaran. Ada dua Bhisama dari Danghyang Dwijendra kepada seluruh keturunannya, yaitu:
1.      Seluruh keturunannya tidak diperkenankan menyembah pratima (arca – arca  perwujudan).
2.      Seluruh keturunanya tidak diperkenankan sembahyang di Pura yang tidak memakai atau tidak ada pelinggih Padmasana.
Dalam hal keyakinan (Agama Hindu) dapat dilihat peninggalannya berupa padmasana. Walaupun dalam Bhisamanya Danghyang Dwijendra melarang semua keturunanya menyembah pratima (arca – arca perwujudan), namun Danghyang Dwijendra mengagungkan Sadasiwa, sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa, yang Maha Segalanya dan hampir di semua pura di Bali saat ini terdapat pelinggih padmasana untuk mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa.
Kembali mengenai keberadaan sang wiku di desa Mas, Dalem Watu Renggong yang merupakan raja Gelgel mengutus Dauh Bale Agung untuk menjemput sang wiku, sesampainya di Mas, Dauh Bale Agung menemui sang wiku dan berbicara panjang lebar. Saking keasyikan bercerita dan menerima pencerahan dua hari dua malam telah berlalu dan ia baru teringat dengan perintah sang raja. Namun dalam benaknya ia berpikir apa boleh buat, kesempatan seperti ini hanya sekali seumur hidup dan ia sudah siap akan resiko yang akan diterima. Akhirnya keesokan harinya barulah Danghyang Dwijendra ditemani rombongan Dauh Bale Agung (dikenal juga dengan Gusti Penyarikan) berangkat menuju Gelgel. Rombongan sampai di ibukota Kerajaan, namun sayang Dalem tidak ada ditempat, Dalem kesal karena lama menunggu dan memutuskan pergi berburu ikan di Teluk Padang (Padang Bai) tempat dimana pesanggrahan Silayukti milik Mpu Kuturan. Sang Rsi dimohon langsung bergerak kesana, akhirnya sang Rsi sampai di Teluk Padang pada petang hari serta memutuskn bermalam bersama setelah bertemu Dalem. Banyak ajaran diberikan oleh sang wiku kepada Dalem beserta iringan, dan esoknya mereka kembali ke Gelgel. Hari demi hari berlalu, sang wiku berhasil menjadikan Dalem Watu Renggong muridnya, serta sikap Dalem yang keras berhasil diubah menjadi lebih bijaksana dan Dalem sendiri meminta agar didiksa oleh sang Rsi.
Setelah Dalem menjadi seorang raja Pandita, masalah-masalah dalam kerajaan Gelgel masih terus menunggu dan mengganggu. Masalah politik yang paling mengganggu adalah masalah dengan rivalnya di timur, yaitu Kerajaan Lombok. Penguasa Lombok yang merasa  agak kuat membiarkan pelaut-pelautnya mengganggu pelayaran di selat Lombok dan mulai berani mengganggu pemukiman nelayan Bali. Dan diluar dugaan ternyata Danghyang Dwijendra memohon diri agar dijadikan utusan untuk menyadarkan Sri Krahengan penguasa Lombok yang mulai berulah itu.
Maharsi Markandeya berangkat ke Lombok dari Pantai Kusamba dengan pengawalan perahu yang diberikan raja Gelgel. Di Lombok sang wiku bertemu dengan raja Krahengan dan segera melakukan perbincangan politik, namun apa daya usaha sang wiku sia-sia dan beliau segera balik ke Bali, dalam perjalanan ke Bali beliau selalu berpikir akan kegagalan yang telah diterima dan dalam benaknya mulai ada timbul ada keinginan untuk meninggalkan urusan keduniawian untuk menjadi seorang Sanyasin dan mengulang kembali perjalanannya dari barat ke timur menjadi perjalanan spiritual. Sesampainya di kerajaan Gelgel sang wiku menyampaikan kegagalan misinya ke Lombok dan memohon izin untuk undur diri dari urusan kerajaan serta berkehendak untuk mengulangi perjalanannya dari barat ke timur.
Dalem sebagai raja Gelgel mengizinkan keinginan sang wiku, dan beliau diantar ke Jembrana, perjalanan spiritual beliau dimulai dari tempat yang dekat dengan Purancak yang mana disana sudah ada Pura, dan beliau disambut oleh seorang Pemangku yang menyarankan agar beliau selalu menyembah perhyangan yang ada untuk keselamatan. Sang wiku mendengar dengan sabar, lalu beliau bertapa, yoga semadhi disana. Sesaat keajaiban terjadi, baru sang rsi beryoga bangunan yang disuruh memuja runtuh dan membuat pemangku ketakutan lalu menyembah maharsi Markandeya. Pemangku memohon agar pura itu diperbaiki sehingga ada tempat sembahyang, sang wiku memperbaiki pura itu lalu memberikan sehelai rambutnya pada pemangku untuk disimpan dan dijunjung di atas bangunan itu, dan sejak itu pura tersebut disebut pura Rambut Siwi.
Lepas dari Rambut Siwi sang wiku melanjutkan perjalanan ke Timur hingga tiba pada suatu tonjolan batu karang yang ditumbuhi pohon-pohonan., tonjolan itu adalah tanjung yang menjorok ke laut dan bagian tangahnya menyempit. Sang Wiku tertarik dengan tempat ini, lalu bergerak menuju ke ujung tanjung diikuti beberapa nelayan disana. Baru sampai hingga malam hari sang wiku bersama para nelayan tetap disana, para nelayan kemudian diberikan siraman rohani dan dinasihati untuk membangun perhyangin di tempat itu agar para nelayan mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran dalam usahanya.  Beberapa hari selama sang Rsi disana tempat itu selalu menjadi tempat berkumpul para nelayan menerima berbagai wejangan, dan tempat itu kini menjadi Pura Tanah Lot di Tabanan.
Beranjak dari Pura Tanah Lot, sang Rsi melanjutkan perjalanannya menyisir pantai ke timur, hingga akhirnya beliau sampai di sebuah ujung tonjolan dengan tangga berbatu berbentuk cascade yang dapat dipanjatnya dengan mudah sehingga beliau mencapai bgian atas batu itu. Penduduk menyebut tempat ini Ulu Watu (Pangkalan batu). Di tempat ini sang wiku merenungi mengenai perjalanan yang sudah dilalui dan juga berpikir mengenai leluhurnya dari negeri Hindustan, belaiau juga bermeditasi disana sehingga nuansa spiritual tampat itu semakin meningkat, dan di tempat itu kini berdiri pura Ulu Watu. Beliau terus melakukan perjalanan ke timur menyisir pantai selatan, kemudian beliau melakukan semadhi di suatu tempat yang memiliki vibrasi bagus, dan sekarang tempat itu menjadi pura Goa Lawah. Dari tempat ini sang wiku melanjutkan perjalanan dan beliau berhenti kembali di suatu tempat yang bernama Samprangan dekat aliran sungai Sangsang, sebelum Tulikup. Selepas dari sana sang Rsi bergerak ke utara hingga penapakan beliau sampai pada Besakih-Penulisan-Ponjok Batu. Di Ponjok Batu sang wiku menemukan beberapa nelayan yang memerlukan bantuan beliau, para nelayan itu adalah pelaut-pelaut Lombok yang telah terdampar beberapa hari dan keadaaannya sangat lemah.
Sang wiku merawat dan memberikan nasihat untuk memulihkan semangat para pelaut itu. Akhirnya para pelaut sembuh, dan mereka amat berterimakasih kepada sang rsi. Mereka pun dengan senang hati menerima permintaan sang rsi untuk ikut berlayar ke Lombok. Sang Rsi pertama kali menginjakkan kakinya di daerah Malimbu, kemudian melanjutkan perjalanan menyisir pantai hingga sampai di pura Kaprusan sekarang. Diceritakan disana yang masih hanya berupa tumpukan batu beliau bermeditasi, dan untuk membuat petapakan beliau lalu masyarakat disana membangun pura yang dinamai Pura Kaprusan (nama kaprusan berasal dari kata “kaprus”, yaitu suara air laut yang dipecah karang). Kemudian beliau melanjutkan perjalanan ke timur sampai di Batu Bolong, kemudian sampai di Batu Layar. Selepas dari sana sang wiku menuju arah tenggara dan sengaja menjauh dari ibu kota Sri Krahengan yaitu Cakranegara menuju Karang Medain, Lingsar dan Suranadi.
Di Lingsar, sang Rsi memberikan pelajaran-pelajaran agama kepada orang-orang sasak yang beragama Islam, para umat islam yang menerima pencerahan dari Danghyang Dwijendra adalah para kelompok Islam Wetu Telu dengan bangunan suci yang disebut Kemaliq. Sedangkan untuk di Suranadi berkat sang wiku, muncul empat sumber tirta yang disebut Catur Tirta, yaitu tirta penglukatan, tirta pembersihan, tirta pengentas dan toya racun. Selepas dari Suranadi, sang wiku bergerak ke timur menuju pantai timur Lombok dengan mengikuti busur yang bersebelahan dengan lereng gunung Rinjani yang meluas ke selatan. Keberadaan sang wiku di dengar oleh Sri Selaparang dan mengajak sang wiku secara paksa untuk bertamu ke kotanya, sang wiku menolak dengan halus dan untuk tidak mengecewakan Sri Selaparang sang wiku mengajaknya berdialog di tepi pantai Labuhan Haji. Sri Selaparang diberikan nasihat yang sangat menyejukkan kemudian pulang ke kotanya sementara sang wiku berlayar menuju Sumbawa.
Danghyang Dwijendra yang telah berusia 80 tahun setelah melaksanakan Dharmayatra di Pulau Lombok, memutuskan berlayar menuju Pulau Sumbawa menggunakan perahu, disertai nelayan Lombok yang pernah dibantu saat mereka terdampar di Ponjok Batu (di pantai/pura Ponjok Batu-sekarang) di Singaraja. Selanjutnya, beliau melewati Teluk Taliwang hingga berlabuh di Teluk Sumbawa. Kedatangan Danghyang Dwijendra disambut Kepala Desa dan tokoh masyarakat setempat yang kebetulan saat itu kehidupan masyarakat di sana sedang kesusahan, akibat gagal panen akibat diserang hama penyakit. Atas permohonan kepala desa itu, akhirnya Danghyang Dwijendra terpanggil membantu masyarakat petani dimaksud. Beliau lantas memerintahkan masyarakat setempat untuk mengisi sawah dan ladangnya dengan padupaan yang berisi api dan kemenyan. Dengan memohon kepada Tuhan dan Dewa yang berstana di Gunung Tambora, keesokan harinya tiba-tiba hama penyakit berupa ulat dan belalang itu lenyap tanpa bekas. Karenanya, sejak itu masyarakat memanggil beliau dengan sebutan Tuan Semeru.
Mencermati sejarah Dharmayatra beliau, ada dua motivasi Danghyang Dwijendra melaksanakan Dharmayatra ke Pulau Sumbawa yakni, karena rasa kekaguman dan kerinduan yang mendalam untuk melihat Gunung Tambora ke dalam rasa keagamaannya membayangkan bagaimana Siwa (Tuhan) menjejakkan kakinya saat membangun tiga dunia. Beliau merasa bahwa jejak Siwa yang paling timur adalah Gunung Tambora. Beliau berharap agama Hindu masih bisa dipertahankan keajegannya di daerah ini. Di samping itu,  adanya hasrat yang besar  untuk bertemu dengan kerabat leluhurnya  yang merupakan seorang Brahmana Siwa yang sebelumnya diutus dan ditugaskan Raja Majapahit (tahun 1344 Masehi) untuk menaklukkan raja-raja di Sumbawa. Setelah armada Majapahit  di bawah pimpinan  Mahasenopati Nala berhasil menaklukkan raja-raja yang ada di pulau Sumbawa. Danghyang Dwijendra berharap dapat bertemu dengan putra-putri beliau, atau setidaknya bisa bertemu dengan cucu seangkatannya. Setelah mendapat informasi dari penduduk Sumbawa, bahwa kerabatnya telah lama meninggal, Beliau pun melanjutkan perjalanan ke Gunung Tambora, masuk ke Teluk Saleh melewati celah antara pulau Sumbawa dan pulau Moyo dan akhirnya sampai di pelabuhan di lereng selatan Gunung Tambora.
Saat itu, Gunung Tambora yang puncaknya tampak perkasa sesekali mulai mengeluarkan asap dan lidah api. Di pelabuhan itu, beliau kemudian disambut penghulu kaya dan rajin. Penghulu itu ternyata telah lama mendengar kehebatan beliau, karenanya begitu bertemu dengan beliau, penghulu itu memelas agar bersedia membantu menyembuhkan anaknya yang telah lama menderita suatu penyakit dan sangat sulit disembuhkan serta berbagai upaya dan usaha telah dilakukan tetapi satu pun tidak berhasil. Selanjutnya Danghyang Dwijendra mencoba mengobati dengan segala kemampuannya. Akhirnya anak penghulu itu pun berhasil dibantu. Sebagai ungkapan terima kasih penghulu itu merelakan anaknya diajak ke Bali. Selama berada daerah ini, Danghyang Nirartha kerap melakukan payogan. Salah satunya adalah di sekitar lokasi Pura Agung Gunung Tambora dimaksud. Seperti halnya di tempat lain, di manapun beliau pernah beryoga, tempat itu selalu menjadi tersohor karena biasanya tempat dimaksud mampu memancarkan aura spiritual yang sangat tinggi. Tak heran jika sebagian besar jejak perjalanan beliau, kini dibangun sebuah tempat yang megah serta banyak umat yang datang memohon anugrah sekaligus tuntunan spiritual beliau, tak terkecuali di Pura Agung Gunung Tambora yang mampu memancarkan aura kesejukan, kedamaian, dan ketenangan serta spiritual yang sangat kuat dan tinggi.
Setelah mengadakan dharmayatra ke Pulau Lombok dan Sumbawa, Danghyang Dwijendra menuju barat daya ujung selatan Pulau Bali, yaitu pada daerah gersang, penuh batu yang disebut daerah bebukitan. Setelah beberapa saat tinggal di sana, beliau merasa mendapat panggilan dari Hyang Pencipta untuk segera kembali amoring acintia parama moksha. Di tempat inilah Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh teringat (icang eling) dengan samaya (janji) dirinya untuk kembali ke asal-Nya. Itulah sebabnya tempat kejadian ini disebut Cangeling dan lambat laun menjadi Cengiling sampai sekarang. Oleh karena itulah, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh ngulati (mencari) tempat yang dianggap aman dan tepat untuk melakukan parama moksha. Oleh karena dianggap tidak memenuhi syarat, beliau berpindah lagi ke lokasi lain. Di tempat ini, kemudian dibangun sebuah pura yang diberi nama Pura Kulat. Nama itu berasal dari kata ngulati. Pura itu berlokasi di Desa Pecatu.
Sambil berjalan untuk mendapatkan lokasi baru yang dianggap memenuhi syarat untuk parama moksha, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh sangat sedih dan menangis dalam batinnya. Mengapa? Oleh karena beliau merasa belum rela untuk meninggalkan dunia sekala ini karena swadharmanya belum dirasakan tuntas, yaitu menata kehidupan agama Hindu di daerah Lombok dan Sumbawa. Di tempat beliau mengangis ini, lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Ngis (asal dari kata tangis). Pura Ngis ini berlokasi di Banjar Tengah Desa Adat Pecatu.
Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh belum juga menemukan tempat yang dianggap tepat untuk parama moksha. Beliau kemudian tiba di sebuah tempat yang penuh batu-batu besar. Beliau merasa hanya sendirian. Di tempat ini, lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Batu Diyi. Juga di tempat ini Danghyang Dwijendra merasa kurang aman untuk parama moksha. Dengan perjalanan yang cukup melelahkan menahan lapar dan dahaga, akhirnya beliau tiba di daerah bebukitan yang selalu mendapat sinar matahari terik. Untuk memayungi diri, beliau mengambil sebidang daun kumbang dan berusaha mendapatkan sumber air minum. Setelah berkeliling tidak menemukan sumber air minum, akhirnya Danghyang Dwijendra menancapkan tongkatnya. Maka keluarlah air amertha. Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura yang disebut Pura Payung dengan sumber mata air yang dipergunakan sarana tirtha sampai sekarang.
Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh kemudian beranjak lagi ke lokasi lain, untuk menghibur diri sebelum melaksanakan detik-detik kembali ke asal. Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura bernama Pura Selonding yang berlokasi di Banjar Kangin Desa Adat Pecatu. Setelah puas menghibur diri, Danghyang Dwijendra merasa lelah. Maka beliau mencari tempat untuk istirahat. Saking lelahnya sampai-sampai beliau sirep (ketiduran). Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Parerepan (parerepan artinya pasirepan, tempat penginapan) yang berlokasi di Desa Pecatu. Mendekati detik-detik akhir untuk parama moksha, Danghyang Dwijendra menyucikan diri dan mulat sarira terlebih dahulu. Di tempat ini sampai sekarang berdirilah sebuah pura yang disebut Pura Pangleburan yang berlokasi di Banjar Kauh Desa Adat Pecatu. Setelah menyucikan diri, beliau melanjutkan perjalanannya menuju lokasi ujung barat daya Pulau Bali. Tempat ini terdiri atas batu-batu tebing. Apabila diperhatikan dari bawah permukaan laut, kelihatan saling bertindih, berbentuk kepala bertengger di atas batu-batu tebing itu, dengan ketinggian antara 50-100 meter dari permukaan laut. Dengan demikian disebut Uluwatu. Ulu artinya kepala dan watu berarti batu.
Sebelum Danghyang Dwijendra parama moksha, beliau memanggil juragan perahu yang pernah membawanya dari Sumbawa ke Pulau Bali. Juragan perahu itu bernama Ki Pacek Nambangan Perahu. Sang Pandita minta tolong agar juragan perahu membawa pakaian dan tongkatnya kepada istri beliau yang keempat di Pasraman Griya Sakti Mas di Banjar Pule, Desa Mas, Ubud, Gianyar. Pakaian itu berupa jubah sutra berwarna hijau muda serta tongkat kayu. Setelah Ki Pacek Nambangan Perahu berangkat menuju Pasraman Danghyang Dwijendra di Mas, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh segera menuju sebuah batu besar di sebelah timur onggokan batu-batu bekas candi peninggalan Kerajaan Sri Wira Dalem Kesari. Di atas batu itulah, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh beryoga mengranasika, laksana keris lepas saking urangka, hilang tanpa bekas, amoring acintia parama moksha.