Sebagaimana yang disebutkan dalam
salah satu sifat Atman bahwa Atman adalah sumber kehidupan yang bersifat abadi
dan tidak akan pernah mengalami fase kematian. Atman akan terus hidup baik itu
di dalam maupun di luar makhluk hidup. Sebagaimana kalau berada di dalam tubu
makhluk hidup atman disebut dengan istilah yang berbeda, sebutan untuk Jiwatman
untuk yang bersemayam pada tubuh manusia, sebutan Janggama jika bersemayam pada
binatang dan sebutan Stavara untuk yang bersemayam pada tumbuh-tumbuhan. Keabadian
Atman memang tidak akan terlihat ketika Atman telah berada di dalam makhluk
hidup karena dipengaruhi oleh unsur Panca Maha Butha sebagai penyusun tubuh
yang akan memberikan sifat maya pada Atman itu sendiri. Begitupula ketika Atman
yang semula bersemayam pada tubuh makhluk hidup kemudian pergi meninggalkan
tubuh itu karena adanya fase kematian pada badan kasar tersebut maka Atman akan
mengalami suatu keadaan setelah kematian itu yang tentunya tidak mampu
diketahui oleh manusia normal tanpa memiliki kekuatan supra natural.
PROBLEMA KUANTITAS PENDIDIKAN
A.
Pengertian
Indonesia dikenal
sebagai negara berkembang yang besar jumlah penduduknya. Menurut sensus penduduk
1990 M, penduduk Indonesia berjumlah 179.321.641 jiwa. Komposisi penduduk
Indonesia didominasi oleh penduduk usia muda yang dianggap sebagai usia
produktif, jika dibandingkan dengan penduduk usia tua dan anak-anak termasuk
bayi yang dianggap sebagai usia non-produktif. Jumlah penduduk sebesar itu bisa
menjadi modal dasar bagi pembangunan nasional, manakala dapat diarahkan menjadi
Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas. Dalam hal ini, pendidikan sebagai
alat perekayasaan manusia dan masyarakat jelas memiliki peran yang penting dan
menentukan.
Dan terkait
problema kuantitas pendidikan dapat dimaknai sebagai ketidakmampuan
lembaga-lembaga pendidikan formal menampung seluruh calon peserta didik.
PERANAN PINANDITA DALAM UPACARA YADNYA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Agama Hindu adalah salah satu agama
yang diakui secara resmi di Indonesia. Dalam menjalankan keyakinannya umat
Hindu terlihat paling sering melakukan ritual keagamaan di bandingkan dengan
agama yang lain. Ritual dalam agama hindu sering disebut dengan pelaksanaan
yadnya, yang mana secara konsep pelaksanaan yadnya dibedakan menjadi dua yaitu
nitya karma dan naimitika karma. Nitya karma memiliki pengertian sebagai yadnya
yang dilakukan setiap hari oleh umat hindu, sedangkan naimitika karma adalah
yadnya yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu yang dianggap memiliki nilai
kesucian melebihi hari yang lain. Contoh pelaksanaan nitya karma antara lain;
yadnya sesa, tri sandhya, kramaning sembah dan lainnya, sedangkan yang
dikategorikan ke dalam golongan naimitika karma seperti Purnama, Tilem, Kajeng
Kliwon, Tumpek, Budha Kliwon dan lainnya.
MANFAAT YOGA LEBIH DARI SEKEDAR "SEHAT"
Manfaat Yoga (Asanas) yang paling
sering kita dengar adalah manfaatnya pada kesehatan. Hal ini berkaca dari hasil
yang dinikmati setelah menekuni Yoga, seperti menjaga dan meningkatkan sistem
kekebalan tubuh, menjaga dan meningkatkan stamina, memperbaiki dan meningkatkan
sistem pencernaan, memperbaiki dan meningkatkan sistem pernafasan, memperbaiki
dan memperlancar metabolisme, membersihkan dan memperlancar sirkulasi darah,
menyegarkan otak, meningkatkan kelenturan tubuh, memperkuat persendian dan otot-otot
tubuh, serta mengurangi lemak berlebih.
PANCARAN KEBERAGAMAAN TERHADAP PERILAKU MANUSIA
Judul Buku : Psikologi Agama Seimbangkan Pikiran, Jiwa,
dan Raga
Pengarang : Suasthi dan Suastawa
Tahun terbit : 2008
Halaman : 10 - 20
Diresume oleh: I
Wayan Rudiarta
BAB V
PANCARAN KEBERAGAMAAN TERHADAP PERILAKU MANUSIA
1.
Kondisi
Psikologis dan Sikap Keagamaan
Agama adalah
kebenaran dan kebaikan. Orang-orang yang berpegang teguh padanya akan terimbas
oleh kebenaran dan kebaikan agama. Imbas itu dapat diketahui dari pengetahuan
keagamaan yang semakin meningkat, keyakinan agama semakin menguat, perilaku
agama semakin konsisten, serta pengamalan keagamaan yang semakin intensif.
Sehngga kekuatan pengaruh agama terhadap diri manusia terlihat dalam berbagai
dimensi kehidupan manusia.
Ada beberapa
faktor yang dapat membentuk sikap keagamaan, yaitu sebagai berikut:
ARJUNA WIWAHA
Sumber Gambar: http://dgi-indonesia.com/wp-content/uploads/2012/08/ARJUNA-WIWAHA.gif
Cerita
Arjuna Wiwaha yang tertulis dalam postingan ini sebenarnya saya peroleh sebagai
hasil searching juga di dunia maya,
hanya saja pada beberapa segmen saya sedikit ubah kata-katanya karena cerita
ini saya jadikan lakon dalam membuat Tugas Estetika "Pementasan Karya
Seni" bersama teman-teman di Kelas ketika masih berada pada semester VI. Dengan
cerita ini kami sepakat membuat Sendratari yang mengisahkan Arjuna ketika
memproleh anugrah Panah Pasupati di Gunung Indrakila oleh dewa Siwa. Langsung saja,
ini ceritanya:
Kisah Cerita:
Pada suatu saat, Duryodhana merampas
segala hak pandava atas kerajaan Hastina dalam sebuah permainan dadu. Maka
sebagai hasilnya para pandava harus tinggal di hutan selama beberapa tahun.
Ketika mereka berada di dalam hutan, rsi Vedavyasa datang untuk mengunjungi
para pandava. Vedavyasa menyarankan mereka agar memuja Siva. Namun karena
menganggap Arjuna adalah yang terbaik di antara para pandava itu, maka
PERKEMBANGAN JIWA KEAGAMAAN PADA ORANG DEWASA DAN LANJUT USIA
Judul Buku : Buku Ajar Psikologi Agama
Pengarang : Dr. I Made Titib dan Drs. I Ketut
Mardika
Tahun terbit : 2004
Halaman : 48 - 64
Diresume oleh: I
Wayan Rudiarta
Related Post:
A. MACAM-MACAM
KEBUTUHAN
Manusia adalah
makhluk yang eksploratif dan potensial, dikatakan makhluk eksploratif, karena
manusia mampu untuk mengembangkan diri baik secara fisik maupun psikis. Manusia
disebut sebagai makhluk potensial karena pada diri manusia tersimpan sejumlah
kemampuan bawaan yang dapat dikembangkan. Selanjutnya manusia disebut juga
sebagai makhluk yang memiliki prinsip tanpa daya, karena untuk tumbuh dan
berkembang secara normal manusia memerlukan bantuan dari luar dirinya. Bantuan
yang dimaksud antara lain dalam bentuk bimbingan dan pengarahan dari
lingkungannya.
Para ahli
psikologi perkembangan membagi perkembangan manusia menjadi: 1) masa pre-natal;
2) masa bayi; 3) masa kanak-kanak; 4) masa pre-pubertas; 5) masa dewasa; 6)
masa usia lanjut. Setiap masa perkembangan memiliki ciri-ciri tersendiri,
termasuk perkembangan jiwa keagamaan. Sehubungan dengan kebutuhan manusia dan
periode perkembangan tersebut, maka dalam kaitannya dalam perkembangan jiwa
keagamaan akan dilihat bagaimana pengaruh timbal balik antara keduanya. Dengan
demikian perkembangan jiwa keagamaan juga akan terlihat dari tingkat usia
dewasa dan usia lanjut.
Dalam bukunya pengantar Psikologi kriminal Drs. Gerson
W. Bawengan,SH. Mengemukakan pembagian kebutuhan manusia berdasarkan pembagian
yang dikemukakan oleh J.P Gulford, sebagai berikut:
1. Kebutuhan
Individual terdiri dari:
a. Homeostatis, yaitu kebutuhan yang
dituntut tubuh dalam proses penyelesaian diri dengan lingkungan.
b. Regulasi temperatur, penyesuaian tubuh
dengan dalam usaha mengatasi kebutuhan akan perubahan temperatur badan.
c. Tidur,
kebutuhan manusia perlu dipenuhi agar terhindar dari gejala halusinasi.
d. Lapar,
kebutuhan biologis yang harus dipenuhi untuk membangkitkan energi tubuh.
e. Seks;
kebutuhan seks sebagai salah satu kebutuhan yang timbul dari dorongan
mempertahankan jenis. Tidak terpenuhinya kebutuhan seks akan mendatangkan
gangguan-gangguan kejiwaan dalam bentuk prilaku seksual yang menyimpang
(abnormal) seperti:
1) Sadisme, kepuasan nafsu seks dengan
jalan menyakiti lawan jenisnya.
2) Mosochisme, pemuasan nafsu seksual
dengan cara menyakiti diri sendiri.
3) Exhibitionisme, pemuasan nafsu seksual
dengan cara menunjukkan daerah orogeen
seksual pada orang lain.
4) Scoptophilia, pemuasan nafsu seksual
dengan mengintip lakon seks.
5) Voyeurisme, pemuasan nafsu seksual
dengan cara mengintip atau melihat bentuk tubuh tanpa busana.
6) Troilisme atau trolisme, pemuasan nafsu
seksual denagn cara saling mempertontonkan lakon seks.
7) Transvestisme, pemuasan nafsu seksual
dengan memakai baju lawan jenisnya.
8) Transsevualisme, kecenderungan pemuasan
nafsu seksual dengan cara ganti kelamin.
9) Sexualorisme, pemuasan nafsu seksual
dengan memadukan mulut (oral) dengan alat kelamin. Pada laki-laki disebut fellatio dan pada wanita disebut cunnilingus.
10) Sodomy (Non vaginalcoitus)
Selanjutnya
kelainan seksual inipun dapat menyebabkan orang memuaskan nafsu seksualnya
dengan menggunakan obyek lain. Diantara jenis kelamin itu meliputi:
1) Homosesksualitas, pemuasan nafsu seksual
antara sesama laki-laki. Sesama perempuan disebut lesbian.
2) Pedophilia, pemuasan nafsu seksual
dengan anak-anak sebagai obyeknya.
3) Bestiality, persetubuhan dengan
binatang.
4) Zoophilia, pemuasan nafsu seksual dengan
cara mengelus-elus binatang.
5) Neeroplolia, pemuasan nafsu seksual
dengan cara mengadakan hubungan kelamin dengan mayat.
6) Pornography, pemuasan nafsu seksual
dengan melihat gambar atau membaca buku cabul.
7) Obscenety, pemuasan nafsu seksual dengan
cara mengeluarkan kata-kat kotor.
8) Fetishisme, pemuasan nafsu seksual
dengan cara menggunakan simbol seks dari lawan jenisnya terutama pakaian.
9) Frottage, memuaskan nafsu seksual dengan
cara meraba orang yang disenangi.
10) Soliromanis, pemuasan nafsu seksual
dengan cara mengotoro lambang seksual orang yang disenangi.
11) Goronto seksuality, pemuasan nafsu
seksual dengan wanita berusia lanjut atau sebaliknya.
12) Ineest, pemuasan nafsu seksual dengan
mengadakan hubungan kelamin dengan kerabat.
13) Wife-wapping, pemuasan nafsu seksual
dengan cara menukar pasangan.
14) Mysophilia, pemuasan nafsu seksual
dengan cara menggunakan benda kotor.
15) Masturbasi, pemuasan nafsu seksual
dengan zinah tangan.
f. Melarikan
diri yaitu: kebutuhan manusia akan perlindungan dan keselamatan jasmani dan
rohani. Usaha menghindarkan diri dari bahaya atau sesuatu yang dianggap
berbahaya merupakan reaksi yang wajar sebagai usaha proteksi.
g. Pencegahan
yaitu: kebutuhan manusia untuk mencegah terjadinya reaksi melarikan diri.
h. Ingin
tahu (curitoxity) yaitu: kebutuhan
manusia untuk ingin selalu mengetahui latar belakang kehidupannya. Kebutuhan
ini mendorong manusia untuk mengembangkan dirinya.
i.
Humor yaitu: kebutuhan manusia untuk mengedorkan
beban kejiwaan yang dialaminya dalam bentuk verbal dan perbuatan. Sigmund Freud
membagi humor atas:
1) Aggresive Wit, yaitu humor yang
menyinggung orang lain.
2) Harmsless Wit, yaitu humor yang tidak
menyinggung orang lain.
2. Kebutuhan
Sosial
Kebutuhan sosial manusia tidak disebabkan pengaruh yang
datang dari luar (stimulus) seperti
layaknya binatang. Kebutuhan sosial kepada manusia berbentuk nilai. Jadi
kebutuhan itu bukan semata-mata kebutuhan biologis melainkan kebutuhan
rohaniah. Bentuk kebutuhan ini terdiri dari:
a. Pujian
dan hinaan
Setiap manusia normal membutuhkan pujian dan hinaan.
Kedua unsur ini merupakan faktor yang menentukan dalam pembentukan sistem moral
manusia. Pujian merangsang manusia untuk mengejar prestasi dan kedudukan yang
terpuji sedangkan hinaan menyadarkan manusia dari kekeliruan dan pelanggaran
etika sosial.
b. Kekuasaan
dan mengalah
Kebutuhan kekuasaan dan mengalah tercermin dari adanya
perjuangan manusia yang tak henti-hentinya dalam kehidupan.
c. Pergaulan
Kebutuhan mendorong manusia untuk hidup dan bergaul
sebagai Homosocius (makhluk
bermasyarakat) dan Zoon-politicon
(makhluk yang berorganisasi).
d. Imitasi
dan meniru
Kebutuhan manusia dalam pergaulan yang tercermin dalam bentuk
meniru dan mengadakan respon-emosional.
Tindakan tersebut menurutnya adalah sebagai akibat adanya kebutuhan akan
imitasi dan simpati.
e. Perhatian
Kebutuhan akan perhatian merupakan salah satu kebutuhan
sosial yang terdapat pada setiap individu. Besar kecilnya perhatian masyarakat
terhadap seseorang akan mempengaruhi sikapnya. Selanjutnya Dr. Zakiah Darajat
(1970) dalam bukunya Peranan Agama dalam
Kesehatan Mental membagi kebutuhan manusia atas 2 kebutuhan pokok:
1) Kebutuhan
primer, yaitu kebutuhan jasmaniah, seperti makan, minum, seks, dan lainnya yang
secara fitrah tanpa dipelajarai.
2) Kebutuhan
sekunder atau kebutuhan rohaniah. Jiwa dan sosial kebutuhan ini hanya di dapat
pada manusia dan sudah dirasakan sejak manusia masih kecil. Yang mana dibagi
menjadi 6, yaitu:
·
Kebutuhan akan rasa kasih sayang
·
Kebutuhan akan rasa aman
·
Kebutuhan akan rasa harga dir
·
Kebutuhan akan rasa bebas
·
Kebutuhan akan rasa sukses
·
Kebutuhan akan rasa ingin tahu.
3. Kebutuhan
Manusia akan Agama
Selain berbagai macam kebutuhan yang disebutkan di atas,
masih ada lagi kebutuhan manusia yang sangat perlu diperhatikan, yaitu
kebutuhan terhadap agama. Manusia disebut sebagai makhluk yang beragama (homo religious). Walaupun para ahli
belum sependapat tentang kemutlakan naluri beragama atau naluri keagamaan pada
diri manusia, namun hasil penelitian mereka sebagian besar membenarkan
eksistensi naluri itu. Bermacam istilah mereka pergunakan namun pada dasarnya
istilah dimaksud adalah berupa dorongan yang menyebabkan manusia cenderung
untuk mengakui adanya suatu zat yang adikodrati (supernatural).
B. SIKAP
KEBERAGAMAAN PADA ORANG DEWASA
Charlotte Buchler
melukiskan tiga masa perkembangan pada periode prapubertas, periode pubertas
dan periode adolesen dengan semboyan yang merupakan ungkapan bathin mereka. Di
periode prapubertas oleh Chalotte Buchler diungkapkan dengan kata-kata
“perasaan saya tidak enak tetapi tidak tahu apa sebabnya”. Untuk periode
pubertas dilukiskan dengan “saya ingin sesuatu, tetapi tidak tahu ingin akan
apa”. Adapun dalam periode adolesen ia mengemukakan dengan kata-kata “saya
hidup dan saya tahu untuk apa”. (Crijns dan Resosiswojo; 2000: 11)
Kemantapan jiwa
orang dewasa setidaknya memeberikan gambaran tentang bagaimana sikap
keberagamaan pada orang dewasa. Mereka sudah memiliki tanggung jawab terhadap
sistem nilai yang dipilihnya, baik sistem nilai yang bersumber dari ajaran
agama maupun yang bersumber dari norma-norma lain dalam kehidupan. Pokoknya,
pemilihan nilai-nilai tersebut telah didasarkan atas pertimbangan pemikiran
yang matang. Berdasarkan hal ini maka sikap keberagamaan seorang di usia dewasa
sulit untuk diubah. Jika perlu terjadi
perubahan mungkin proses itu terjadi setelah didasarkan atas
pertimbangan yang matang.
Sebaliknya, jka
seorang dewasa memilih nilai yang bersumber dari norma-norma non agama, itupun
akan dipertahankan sebagai pandangan hidupnya. Kemungkinan ini memberi peluang bagi
munculnya kecenderungan sikap yang anti agama, bila menurut pertimbangan akal
sehat (common sense)-nya terdapat
kelemahan-kelemahan tertentu dalam ajaran agama yang dipahaminya. Bahkan tak
jarang sikap anti agama seperti itu diperlihatkan dalam bentuk sikap menolak
hingga ke tindakan memusuhi agama yang dinilainya mengikat dan bersifat
dogmatis.
Kenyataan seperti
itu terlihat dari peristiwa sejarah gerakan yang dilancarkan Parta Komunis
Indonesia (PKI) dimasa jayanya. Melalui indroktrinnya partai ini telah mampu
menanamkan sikap anti agama di kalangan Pemuda Rakyat dan Gerwani. Dan ketika
peristiwa berdarah G30 S/PKI para Pemuda Rakyat dan Gerwani ini sanggup
mempertahankan idiologi komunis yang mereka jadikan pandangan hidup itu dengan
menukar nyawa mereka.
Sebaliknya jika
nilai-nilai agama yang mereka pilih untuk dijadikan pandangan hidup, maka sikap
keberagamaan itu akan dipertahankan sebagai identitas dan kepribadian mereka.
Sikap keberagamaan ini membawa mereka untuk secara mantap menjalankan ajaran
agama yang mereka anut. Sehingga tak jarang sikap keberagamaan ini dapat
menimbulkan ketaatan yang berlebihan dan menjurus ke sikap fanatisme. Karena
itu, sikap keberagamaan seseorang dewasa
cenderung didasarkan atas pemilihan terhadapa ajaran agama yang dapat
memberikan kepuasan bathin atas dasar pertimbangan akal sehat.
Sejalan dengan
tingkat perkembangan usianya, maka sikap keragamaan pada orang dewasa antara
lain memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Menerima
kebenaran agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan sekedar
ikut-ikutan.
2. Cenderungya
bersifat realis, sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam
sikap dan tingkah laku.
3. Bersikap
positif terhadap ajaran dan norma-norma agama dan berusaha untuk mempelajari
dan memperdalam pemahaman agama.
4. Tingkat
ketaatan beragama didasarkan atas pertimbangan dan tanggung jawab diri hingga
sikap keberagamaan merupakan realisasi dari sikap hidup.
5. Bersifat
lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas.
6. Bersikap
lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain
didasarkan atas pertimbangan pikiran, juga didasarkan atas pertimbangan hati
nurani.
7. Sikap
keberagamaan cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing
sehngga terlihat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami, serta
melaksanakan ajaran agama yang diyakininya.
8. Terlihat
adanya hubungan antara sikap keberagamaan dengan kehidupan sosial, sehingga
perhatian terhadap kepentingan berorganisasi sosial agama sudah berkembang.
C. MANUSIA
USIA LANJUT
Perkembangan
manusia dapat digambarkan dalam bentuk garis sisi sebuah trapesium. Sejak
usia-usia bayi hingga mencapai kedewasaan jasmani digambarkan dengan
garis-garis miring menanjak. Garis itu menggambarkan bahwa selama periode
tersebut terjadi perkembangan yang progresif. Pertumbuhan fisik berjalan secara
cepat hingga mencapai titik puncak perkembangannya, yaitu usia dewasa (22-24
tahun).
Perkembangan
selanjutnya digambarkan oleh garis lurus sebagai gambaran kemantapan fisik yang
sudah dicapai. Sejak mencapai usia kedewasaan hngga usia 50 tahun perkembangan
fisik manusia boleh dikatakan tidak mengalami perubahan yang banyak. Barulah di
atas usia 50 tahun terjadi penurunan perkembangan yang drastis hingga mencapai
usia lanjut. Oleh karena itu umumnya garis perkembangan pada periode ini
digambarkan menurun. Periode ini disebut sebagai periode regresi (penurunan).
Sejalan dengan
penurunan tersebut, maka secara psikis terjadi berbagai perubahan pula.
Perubahan-perubahan gejala psikis ini ikut mempengaruhi berbagai aspek kejiwaan
yang terlihat dan pola tingkah laku yang diperlihatkan. Tingkat perkembangan
dibagi menjadi delapan tahap, yaitu: 1) tahun-tahun pertama; 2) tahun kedua; 3)
tahun ketiga; 4) tahun keenam hingga pubertas; 5) adolesen; 6) kedewasaan awal;
7) kedewasaan menengah; dan 8) tahun-tahun terakhir (usia lanjut). Pembagian
ini didasari atas adanya berbaga perubahan perkembangan fisik maupun psikis
yang berbeda untuk setiap tahap perkembangan pada sekitar usia-usia tersebut.
Kehidupan
keagamaan pada usia lanjut menurut hasil penelitian psikologi agama ternyata
meningkat. Temuan menunjukkan secara jelas kecenderungan untuk menerima
pendapat keagamaan yang semakin meningkat pada umur-umur ini, sedangkan
pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akhirat baru muncul sampai 100%
setelah usia 90 tahun (Robert H Thouless; 108).
Berbagai latar
belakang yang menjadi peneyebab kecenderungan sikap keagamaan pada manusia usia
lanjut, memberi gambaran tentang ciri-ciri keberagamaan di usia lanjut, yaitu:
1. Kehidupan
keagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan.
2. Meningkatnya
kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan.
3. Mulai
muncul pengakuan terhadap realitas tentang
kehidupan akhirat secara lebih sungguh-sungguh.
4. Sikap
keagamaan cenderung mengarah kepada kebutuhan saling cinta antar sesama manusia
serta sifat-sifat luhur.
5. Timbul
rasa takut kepada kematian yang meningkat sejalan dengan pertambahan usia.
6. Perasaan
takut kepada kematian ini berdampak pada peningkatan pembentukan sikap keagamaan
dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan akhirat.
SEJARAH SINGKAT PURA KAPRUSAN
Tulisan ini
merupakan hasil studi lapangan dalam menyelesaikan tugas kuliah Tattwa yang
diajar oleh ibu Dewi Rahayu Aryaningsih, S.Ag.,M.Ag. Informasi pura ini
diproleh dari hasil wawancara dengan beberapa tokoh masyarakat yang memiliki
keterlibatan dengan keberadaan Pura selain ditambah dengan beberapa informasi
dari sumber yang lain. Baik langsung saja simak tentang sejarah Pura Kaprusan
ini.
Sejarah:
Menurut beberapa sumber yang
saya dapat, perjalanan Dang Hyang Dwijendra hingga ke Pulau Lombok merupakan
lanjutan dari perjalanan beliau dari Jawa dan Bali. Beliau kerap
berpindah-pindah tempat. Di awali dari daerah Daha, kemudian ke Pasuruan,
Blambangan, terus ke kawasan Pulau Bali bagian Barat-Jembrana (sekitar tahun
Çaka 1411).
Selain mengelilingi pantai selatan
Pulau Bali, beliau melanjutkan perjalanan spiritual ke kawasan Bali
Utara. Seperti Pura Pulaki hingga ke Pura Ponjok Batu. Sebelum melanjutkan
perjalanannya ke Pulau Lombok, ditempat yang terakhir itulah Dang Hyang
Dwijendra disebutkan sempat menolong beberapa orang bendega atau nelayan perahu
yang karam dekat Ponjok Batu. Para bendega asal Lombok yang diselamatkan beliau
itu konon turut mengantarkan Dang Hyang Dwijendra ke Lombok, perjalanan Dang
Hyang Dwijendra dari Pojok Batu (Bali)
menuju ke pulau Lombok dan beliau berlabuh di daerah malingbu, kata malingbu
berasal dari kata “malbhu” yang berarti melabuh. Setelah itu beliau berjalan
menyusuri pinggiran pantai menuju kearah selatan dan beliau melihat laut yang
muncrat ditebing pinggir pantai lalu beliau melakukan semadhi ditempat pura
tersebut dan kemudian beliau menepatkan batu di pojok selatan areal pura, batu
tersebut disebut batu kapurusa. Setelah itu baru di bangunlah pura kaprusan
tersebut oleh masyarakat di sana terutama Mangku Nanggeng dan Mangku Wayan Arta.
Mangku Arta salah satu yang merupakan pemangku yang sehari-hari siap melayani
umat tangkil ke pura itu. Kata beliau, keberadaan pura itu memiliki nilai
sejarah dan spiritual sebagai bagian dari perjalanan suci Dang Hyang Dwijendra
yang usai menyusuri pantai-pantai di Bali. Dikatakannya, sebelum beliau yang disebut
pula sebagai Ida Peranda Sakti Wawu Rauh. Kemudian beliau melanjutkan
perjalananya sampai di Batu Belong, pertama kali memasuki kawasan Tanjung ukur
dan Kapurusan. Dan melanjutkan ke
lingsar dan suranadi.
Ikhwal yang paling
menonjol peran beliau dalam penerapan konsep pembangunan pura di Bali
maupun di Lombok adalah tentang perlunya dibangun sebuah pelingggih dalam
bentuk Padmasana sebagai sthana Ida Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha
Pencipta). Dikatakan berbeda peruntukannya dengan tempat pemujaan lain, yang umumnya
berfungsi sebagai tempat pemujaan roh suci leluhur dan para dewa. Disamping
mengenai sejarahnya, mangku arta juga mengatakan bahwa pura kaprusan telah
melakukan pembugaran dengan dipelaspas oleh perande Ketut Rai. Pada tahun 2010
dilakukan perenovasian untuk pelinggih gunung agung yang di puput oleh perande
Subali Tegeh.
Pada pura kaprusan ini ada beberapa
pelinggih yaitu pelinggih Bhatara Baruna Asta atau Pelinggih Dang Hyang
Dwijendra, pelinggih Gunung Agung, Linggam, pelinggih tempat Pertirtaan, dan
pelinggih tempat Pelukatan. Selain terdapat pelinggih tersebut juga terdapat
adanya Bale Pekemitan atau Pesandegan dan Bale Pawedaan. Untuk dapat masuk ke
pura kaprusan kita harus melewati anak tangga yang menurun panjang dari candi
pelawangan menuju utama mandala. Sebelum masuk utama mandala terdapat pelinggih
yang di sebut pelinggih Pertirtaan dan dibawah pinggir pantai terdapat
pelinggih Pelukatan. Setelah masuk ke utama mandala terdapat tiga pelinggih yaitu pelinggih Bhatara Baruna
Asta atau Pelinggih Dang Hyang Dwijendra, pelinggih Gunung Agung dan Linggam.
Bangunan lain yang terdapat di utama mandala yaitu Bale Pawedaan dan Bale
Pekemitan. Pura Kaprusan ini diempon
oleh empat dusun yaitu Dusun Kerandangan, Batu Layar, Tanah Embet Barat dan
Tanah Embet Timur.
Pujawali
atau piodalan di pura kaprusan jatuh pada purnamaning sasih sada yang
dilaksanakan satu tahun sekali. Dimana satu hari sebelum
acaranya, masyarakat disana membuat atau menghias penjor dan membersihkan pura
tersebut. Kemudian pada puncak acaranya yaitu pagi mesesapun atau melukat dan
memargiang prayascita dan jam 4 melaksanakan nuhur tirta setempat, lalu
melakukan persembahyangan pujawali dan ngelukar atau ngeluarkan yang di puput oleh perande. Seperti yang kita ketahui pada umumnya, umat hindu dalam
melaksanakan upacara selalu identik dengan daging babi tetapi berbeda dalam
pura kaprusan, dimana daging babi tidak diperbolehkan dalam pujawali pura
kaprusan. Namun bagi masyarakat yang makan daging bali tetap bisa melakukan
persembahyangan dengan terlebih dahulu menyucikan diri yang dikenal dengan nama
melukat. Selain aturan tersebut, pura kaprusan juga memiliki peraturan yang
sama seperti pada umumnya yaitu bagi wanita yang sedang haid tidak boleh
memasuki area utama mandala serta tidak bolehnya juga memakai celana dengan kata lain harus memakai kain dan selendang. Disamping adanya peraturan, pura kaprusan juga memiliki hal-hal
yang unik seperti adanya sebuah linggam dan air yang muncrat dipinggir pantai
sehingga terdengar deburan air yang ramai yang semakin membuat pura kaprusan terlihat indah.
Tulisan ini adalah karya teman Saya Ni Ketut Feriani, semoga bermanfaat.
SURYA NAMASKARA: ANTARA PEMUJAAN DAN OLAHRAGA
menjaga kebugaran tubuh.
Bagaimanapun memodernkan yoga, tetap harus diakui bahwa yoga yang diketahui
sekarang merupakan warisan dari khazanah budaya India. Istilah-istilah dalam
yoga mempunyai banyak kesamaan dengan istilah-istilah dalam agama Hindu karena
keduanya sama-sama lahir dalam tradisi kebudayaan India. Oleh karenanya, bila
ingin mendalami yoga, harus bisa menerima istilah India, sebagaimana kita tidak
pernah keberatan menggunakan istilah latin bila belajar ilmu kedokteran, bahasa
jepang saat belajar karate, dan istilah Cina dalam belajar kungfu, akupuntur
dan lainnya (Ferry, 2011: 7). Dari hal tersebut secara tidak langsung membuat
yoga sering disamakan dengan Agama Hindu (sebagaimana dalam Sad Darsana Yoga
merupakan bagian yang ketiga). Pada kesempatan ini pembicaraan saya persempit
dalam hal "Surya Namaskara", yang biasanya dijadikan bagian dalam
praktek yoga asanas. Jikalau diartikan secara etimologi kata "surya"
berarti matahari dan "Namaskara" berarti penghormatan, pemujaan, maka
Surya Namaskara merupakan penghormatan atau pemujaan kepada dewa surya (salah
satu Dewa yang diagungkan dalam Hindu).
Memperhatikan
definisi dari Surya Namaskara, ketika yoga kini sudah mulai booming dan para pelakunya tidak hanya
dari umat Hindu, seringkali saya mendapat pertanyaan, "apakah yoga
menggunakan doa?", "apakah yoga itu hanya untuk orang Hindu?", atau
pertanyaan sejenisnya. Hal ini saya rasa wajar, karena memang karakter
masyarakat modern yang lebih selektif dan tidak mau menerima begitu saja akan sesuatu
yang baru. Dan terkait pembatasan pembahasan, saya menjadikan Surya Namaskara
sebagai contoh untuk menjawab pertanyaan tersebut. Yaitu:
Surya Namaskara untuk
Pemujaan.
Sebagaimana secara umum sudah
diketahui bahwa Surya Namaskara tersusun dari 12 gerakan yang digerakan secara
dinamis, yaitu (1) Pranamasana, (2) Hasta Utanasana, (3) Pada hastasana, (4)
Aswa Sancalanasana, (5) Parvatasana, (6) Astangganamaskara, (7) Bhujanggasana,
kembali ke (8) Parvatasana, (9) Aswa Sancalanasana, (10)
Pada hastasana, (11) Hasta Utanasana, (12) Pranamasana. Ketika ingin melakukan
pemujaan kepada dewa Surya dalam melakukan gerakan maka yang perlu diperhatikan
adalah:
1. Pastikan
keadaan badan dalam keadaan bersih (sudah mandi), dan sedang tidak dalam
keadaan menstruasi (untuk wanita).
2. Pelaksanaan
dilakukan pada pagi hari sebelum matahari terbit (paling baik), tanpa melarang
di waktu lain dan usahakan menghadap ke arah matahari sedang berada di arah
mana.
3. Setiap
gerakan diikuti dengan mantra dan fokus konsentrasi pada cakra mayor pada
tubuh, sebagai berikut:
a. Pada
saat melakukan gerakan pranamasana, lantunkan mantra "Om Mitraya Namaha"
dalam hati, dan konsentrasi pada Anahata Cakra (Cakra yang terletak sejajar
dengan dada).
b. Pada
saat melakukan gerakan hasta utanasana, lantunkan mantra "Om Ravaye Namaha"
dalam hati, dan konsentrasi pada Visuddhi Cakra (Cakra pada kerongkongan).
c. Pada
saat melakukan gerakan pada hastasana, lantunkan mantra "Om Surya ya Namaha"
dalam hati, dan konsentrasi pada Svadistana Cakra (Cakra yang terletak pada
kelamin).
d. Pada
saat melakukan gerakan aswa sancalanasana, lantunkan mantra "Om Bhanawe
Namaha" dalam hati, dan konsentrasi pada Ajna Cakra (Cakra yang terletak di
kening).
e. Pada
saat melakukan gerakan parvatasana, lantunkan mantra "Om Khagaya Namaha"
dalam hati, dan konsentrasi pada Visuddhi Cakra (Cakra pada kerongkongan).
f. Pada
saat melakukan gerakan astangga namaskara, lantunkan mantra "Om Pusne
Namaha" dalam hati, dan konsentrasi pada Manipura Cakra (Cakra pada perut).
g. Pada
saat melakukan gerakan Bhujangga Sana, lantunkan mantra "Om Hiranya
Garbhaya Namaha" dalam hati, dan konsentrasi pada Svadisthana Cakra (Cakra
pada kelamin).
h. Pada
saat kembali melakukan gerakan parvatasana, lantunkan mantra "Om Maricaye
Namaha" dalam hati, dan konsentrasi pada Visuddhi Cakra (Cakra pada
kerongkongan).
i.
Pada saat kembali melakukan gerakan aswa
sancalanasana, lantunkan mantra "Om Aditya ya Namaha" dalam hati, dan
konsentrasi pada Ajna Cakra (Cakra yang terletak di kening).
j.
Pada saat kembali melakukan gerakan pada hastasana,
lantunkan mantra "Om Savitre Namaha" dalam hati, dan konsentrasi pada
Svadistana Cakra (Cakra yang terletak pada kelamin).
k. Pada
saat kembali melakukan gerakan hasta utanasana, lantunkan mantra "Om Arkaya
Namaha" dalam hati, dan konsentrasi pada Visuddhi Cakra (Cakra pada
kerongkongan).
l.
Dan pada saat kembali melakukan gerakan
pranamasana, lantunkan mantra "Om Bhaskaraya Namaha" dalam hati, dan
konsentrasi pada Anahata Cakra (Cakra yang terletak sejajar dengan dada).
Pelaksanaan Surya
Namaskara sebagai olahraga
Surya
Namaskara sebagai pemujaan umumnya dilakukan oleh para praktisi Yoga yang
menganut agama Hindu, karena Yoga memang merupakan salah satu filsafat India
Kuno milik Hindu. Akan tetapi hal ini sesungguhnya tidak membatasi para
praktisi Yoga non-Hindu untuk melakukan Surya Namaskara (mengingat manfaatnya
dari segi kesehatan sangat besar). Hal ini terbukti dari penyebutan baru untuk
Surya Namaskara yang sering digunakan, seperti "Sun Sallutation", atau "dua belas gerakan". Disamping
itu, Surya Namaskara dilakukan dengan motif menjadikannya sebagai olahraga
modern yang dapat memberi keringat, dan membuat tubuh tetap bugar serta sehat. Mantra
juga tidak harus dilantunkan, konsentrasi juga tidak pada cakra, tetapi fokus
serta konsentrasi pada peregangan yang terjadi. Dalam prosesnya gerakan Surya
Namaskara juga dilakukan dengan tidak terlalu khidmat melainkan dilakukan
dengan lebih dinamis.
Demikian
kiranya sedikit pemaparan mengenai Surya Namaskara yang bisa dilakukan sebagai
pemujaan atau bahkan hanya untuk olahraga masyarakat modern. Dan penggambaran
Surya Namaskara ini tentunya sebagai perwakilan tentang Yoga Asanas pada
umumnya. Semoga artikel ini berkenaan, dan apabila ada kekurangan sangat saya
harapkan saran dan kritiknya.
Mari Hidup Sehat dengan Yoga!!!
STOP MAKAN!
Apabila terjadi gejala ini
Dari penglasifikasian makhluk
hidup berdasarkan jenis makanan yang dikonsumsi manusia termasuk golongan Omnivora (pemakan segala), akan tetapi
dalam kenyataannya tidak semua makanan yang tidak diperlukan oleh tubuh, bahkan
apabila tetap dikonsumsi akan menyebabkan munculnya beberapa gejala tidak
normal pada tubuh. Terlebih bagi para pelaku Yoga secara rutin, biasanya tanpa
disadari makanan yang sebelumnya biasa dimakan tiba-tiba ketika dimakan
menyebabkan muncul beberapa gejala tadi. Hal ini terjadi karena tubuh
menyesuaikan sendiri antara kebutuhannya dengan makanan yang manusia konsumsi. Sebagaimana
diketahui pula bahwa setiap makanan memiliki kandungan nutrisi yang berbeda,
misalnya saja kandungan nutrisi pada daging ayam akan berbeda dengan nutrisi
pada ikan. Dan sebagai ilustrasi seumpama tubuh sudah tidak membutuhkan lagi
nutrisi daging ayam maka kapanpun manusia menonsumsinya akan menyebabkan muncul
beberapa gejala.
1.
Mual
Semua orang pernah mengalami mual
tentunya, karena secara umum mual itu terjadi karena:
·
Penyakit akibat virus, seperti gastroenteritis
·
Keracunan
makanan
·
Stres, gugup, atau masalah mental lainnya
seperti depresi atau gangguan panik
·
Obat-obatan seperti antibiotic, pil penunda
kehamilan, dan obat jantung
·
Migrain/sakit kepala sebelah
·
Serangan jantung
·
Stroke
·
Cedera kepala
·
Alkohol, penyalahgunaan obat atau putus obat
·
Gangguan makan seperti anoreksia atau bulimia
·
Efek samping terapi radiasi
Dari semua penyebab itu, mual yang dibahas pada artikel ini adalah
lebih menukik pada poin ke-2, yaitu karena keracuann makanan. Keracunan makanan
terjadi tidak saja karena mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi zat beracun,
tetapi bisa juga karena kelebihan memakan satu jenis makanan atau karena
nutrisi makanan tersebut sudah tidak dibutuhkan tubuh. Apabila mual yang
terjadi cukup parah dapat memicu terjadinya "muntah", yaitu keluarnya
makanan yang telah dikonsumsi melalui mulut. Muntah yang hanya terjadi sekali
tidak akan terlalu menujukkan pengaruh pada tubuh, akan tetapi apabila
berlangsung secara berlartu-larut akan menyebabkan tubuh lemas, pucat, dan
bahkan dehidrasi.
2.
Gatal
Gatal adalah sebuah sensasi tidak
nyaman pada kulit yang terasa seolah-olah ada sesuatu yang merayap di kulit,
dan membuat orang ingin menggaruk daerah yang terkena. Pada umumnya gatal
disebabkan oleh:
·
Kulit Kering
·
Penyakit kulit dan Ruam
·
Penyakit dalam
·
Gangguan saraf
·
Iritasi dan reaksi
alergi
·
Obat kehamilan
Dari semua
penyebab gatal tersebut, yang lebih ditekankan terkait makanan adalah poin ke-5
yaitu karena reaksi alergi. Seperti penjelasana sebelumnya, bahwa terkadang
tubuh tidak lagi memerlukan nutrisi dari suatu makanan, dan apabila tetap
dikonsumsi akan menyebabkan tubuh kelebihan suatu zat apakah itu vitamin,
protein atau apa yang kemudia akan menyebabkan reaksi pada tubuh seperti
munculnya gatal pada seluruh tubuh.
3.
Diare (Mencret)
Diare (mencret) adalah defekasi
encer lebih dari tiga kali sehari dengan atau tanpa darah dan atau lendir dalam
tinja (Suharyono,1999 : 51), diare biasanya akan sangat menganggu aktivitas dan
membuat orang mendadak berkeinginan untuk menjadi orang rumahan, karena tidak
berani jauh dari toilet. Secara umum beberapa penyebab diare adalah:
·
Infeksi oleh bakteri, virus atau parasit
·
Alergi terhadap makanan atau obat-obatan
tertentu
·
Infeksi oleh bakteri atau virus
Dari ke-3
penyebab tersebut, poin ke-2 menjadi perhatian pada artikel ini, yaitu diare
karena alergi terhadap makanan, yaitu tubuh sudah tidak memerlukan jenis
makanan yang dikonsumsi, sehingga lambung tidak akan mencerna dengan maksimal,
yang kemudian menyebabkan muncul mekanisme tidak normal dalam tubuh yaitu
terjadi gangguan sekresi dan gangguan gerak usus, dan hal ini akan dibahas satu
persatu. Gangguan osmotic terjadi karena makanan atau zat nan terdapat dalam
makanan tak bisa diserap oleh tubuh dan menyebabkan tekanan osmotic. Tekanan
osmotic ini terjadi pada rongga usus, dan apabila tekanan osmotic ini meninggi
maka elektrolit dan air akan bergeser, hal ini menyebabkan isi rongga usus
menjadi hiperbola dan tentu saja merangsang usus buat mengeluarkan suatu hal
nan tak menjadi porsinya. Hal ini lah nan memicu terjadinya diare. Gangguan
sekresi terjadi dampak adanya hal nan mengganggu pada dinding usus, misalnya
racun, racun akan merangsang dinding usus dan berlanjut terjadi peningkatan air
ke rongga usus, usus penuh dan terjadi diare. Yang terakhir ialah gangguan
gerak usus, gerakan hiperperistaltik pada usus akan menyebabkan usus kurang
optimal dalam menyerap makanan sehingga terjadi diare. (http://www.binasyifa.com/099/71/25/mekanisme-terjadinya-diare.htm,
06 Oktober 2015).
Demikianlah
beberapa gejala yang dapat saya tuliskan terkait gejala yang akan muncul
apabila tubuh tidak lagi membutuhkan asupan makanan tertentu, semoga bermanfaat
dan kita semua selalu dalam keadaan sehat.
Langganan:
Postingan (Atom)


