
I Wayan Rudiarta
Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri (STAHN) Gde Pudja Mataram
AGAMA, TRADISI DAN BUDAYA (Nyepi di Tengah Badai Covid-19)

PASRAMAN SEBAGAI PENYELENGGARA PENDIDIKAN BERBASIS KEARIFAN LOKAL
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam
UU No. 20 Tahun 2003 dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, Bangsa dan Negara. Dari
definisi ini dapat disimak bahwa pendidikan selalu berlangsung dengan disengaja
sehingga proses pembelajaran antara guru dan siswa dapat berlangsung. Harapan
yang selayaknya diperoleh dari pendidikan adalah mampu dikembangkannya potensi
atau bakat yang dimiliki oleh anak secara maksimal. Pembentukan karakter dalam
pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara guru, orang tua dan seluruh
stakeholder pendidikan.
MEMAKNAI TUMPEK UYE/TUMPEK KANDANG
KETERKAITAN ANTARA “PENDIDIKAN BERBASIS TEKNO HUMANISTIC DENGAN PENDIDIKAN SISTEM AMONG KI HAJAR DEWANTORO”
Pendidikan
berbasis tekno humanistic adalah pendidikan yang di samping menguasai sains dan
teknologi yang tinggi, harus didasarkan pada dasar pemahaman dan penguasaan
nilai dan moral yang kokoh. Sedangkan pendidikan sistem among Ki Hajar
Dewantara adalah pendidikan yang metode pembelajarannya berdasarkan pada asih,
asah dan asuh, sementara itu prinsip penyelenggaraan pendidikannya didasarkan
pada “Ing ngarso sung tulodho, Ing madyo mangun karso, dan Tut wuri handayani”.
FILSAFAT PENDIDIKAN HINDU
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Filsafat
adalah pertanyaan dan bukan penyataan. Gagasan ini memberikan petunjuk, bahwa
filsafat pada hakikatnya adalah bertanya dan terus bertanya guna mendapatkan
jawaban yang mendalam (sedalam-dalamnya), luas (seluas-luasnya) mengenai suatu
realitas, ide atau konsep yang bersifat fundamental. Begitu pula ketika kita
membicarakan mengenai pendidikan dalam sebuah konsep yang perlu digali secara
mendalam, maka filsafat pendidikan akan menjadi jawaban untuk mengatasi
permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam dunia pendidikan.
WEDA SMERTI
dalam Manawa Dharmasastra. II. 10. Disebutkan : Srutistu wedo wijňeyo
dharmaśastram tu wai smrtih te sarwãrtheswamimămsye tăbhyăm dharmohi nirbabhau
(Artinya : Sesungguhnya Sruti adalah Weda dan Smrti adalah dharmasastra;
keduanya tidak boleh diragukan karena keduanya adalah sumber dari hukum suci.
Dan ketentuan itu jelas bahwa Dharmasastra berusaha menunjukkan tingkat
kedudukan Smrti sama dengan Sruti. Dalam beberapa terjemahan, istilah Smrti itu
kadang-kadang mengandung banyak arti seperti, beberapa pengertian smerti adalah
sebagai berikut :
a)
Sejenis kelompok buku Weda yang lahir dan
ingatan.
b)
Nama untuk menyebutkan tradisi yang bersumber
pada kebiasaan yang disebut di dalam Weda (Mds. II. 12.).
SEJARAH DESA ADAT APUH-SEBATU
Menggali sejarah Desa Pakraman Apuh sangat sulit sekali,
penyebab utamanya adalah tidak adanya sumber yang tertulis secara pasti dan
bernilai sesuai dengan kebutuhan. Akan tetapi karena keadaan yang menghendaki,
maka menggunakan cerita dari warisan turun temurun dan cerita dari orang suci,
dicoba untuk menyusun dalam bentuk yang sangat sederhana.
Berdasarkan
tradisi dan pelaksanaan upacara yang dilaksanakan di Desa Pakraman Apuh
mengikuti pelaksanaan Upacara di Desa Pakraman Sebatu, Maka diperkirakan bahwa
Desa pakraman Apuh merupakan serpihan atau bagian dari Desa Pakraman Sebatu.
PENDIDIKAN SEBAGAI PROSES MEMANUSIAKAN MANUSIA
Pendidikan
sebagai prroses pemanusiaan manusia merupakan hal yang di kemukakan dalam salah
satu teori belajar yakni teori humanistik. Dalam teori ini lebih menekankan
pada isi daripada proses, yang disesuaikan dengan minat, bakat, kemampuan serta
kebutuhan belajar anak dan potensi lingkungan. Teori ini bersifat elektif,
artinya dapat memanfaatkan teknik atau teori belajar apapun asal tujuan belajar
siswa dapat tercapai. Teori belajar humanistik berusaha memahami perilaku
belajar dari sudut pandang si belajar bukan dari sudut pandang pendidik.
Sehingga, dalam penerapan teori ini pendidik membantu siswa dalam mengembangkan
dirinya (self actualization). Dalam
hal ini pendidik sebagai fasilitator, sedangkan anak didik berperan sebagai
pelaku utama (student center). Anak
didik memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri dan diharapkan dapat
mengenali serta mengembangkan potensinya secara positif.
TUMPEK LANDEP: BENARKAH MERUPAKAN OTONAN MOTOR?

HATHA YOGA

Langganan:
Postingan (Atom)