BANTEN PRAYASCITA

           Isi dari postingan kali ini merupakan tugas mata kuliah Upakara yang sengaja penulis posting untuk membiasakan budaya berbagi. Siapa tahu ada di antara kita yang membutuhkan informasi tentang bagaimanakah Banten Prayascita itu. Oke, langsung saja!          
Dalam masyarakat hindu bali, banten merupakan  salah satu komponen penting dalam kehidupan mereka ibaratnya masyarakat hindu menggunakan banten seperti mereka menggunakan  udara untuk bernafas. Banten memiliki arti sebagai  persembahan  serta sarana bagi umat Hindu Bali sebagai rasa bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas dasar tulus ikhlas, perwujudan cinta kasih, serta tidak lupa untuk mewujudkan rasa terima kasih atas semua anugerah yang telah di limpahkan-Nya.

2.1 Banten Prayascita
            Memiliki susunan sarana-sarana (tetandingan) yang merupakan simbol-simbol yang sarat denngan makna religius. Seperti halnya dalam banten prayascita.
            Prayascita berasal dari suku kata pra-yas dan cita, yang didalamnya mengandung arti penyucian dari segala kesedihan atau juga kekotoran. Banten ini biasanya dipergunakan bila seseorang melakukan penglukatan (menghilangkan sebel/ kekotoran). Selain itu terkadang banten prayascita juga di gunakan untuk mengupacarai barang-barang yang bernilai ekonomis (misalnya, membeli sepeda motor  baru atau barang-barang elektronik lainnya).

2.2  Unsur-Unsur Dalam Banten Prayascita Serta Maknanya
·         Tamas gede atau nyiru dan aled sebagai simbol windhu memiliki makna kekuatan penyucian (pawitra)
·         Sampian nagasari memiliki makna memohon sarining merta (hasil yang murni untuk kehidupan)
·         Penyeneng biasa (madya) memiliki makna kehidupan kehadapan sang hyang siwa
·         Pebersihan payasan
·         Lis senjata, lis berasal dari kata “les”,yang artinya inti dan memiliki makna inti permohonan adalah kesucian
·         Sampian padma
·         Jajan uli, bagina, roti kukus, dan cerorot memiliki makna bahwa manusia berterimakasih atas anugerah yang di berikan berupa pikiran sehingga mampu mengolah sesuatu yang bisa menjadi suatu karya seni yang indah baik dari rasa juga tampilannya.
·         Tape gede, pinang, tebu adalah simbol manusia yang menghuni bumi sebagai bagian dari alam ini
·         Tempat nasi dari kelongkong
·         Coblong berisi daun dapdap yang diulek diisi sedikit air 
·         Peras tulung sayut (sorohan alit/ tebasan alit)
·         Daun cabe bun, daun dapdap dan padang lepas
·         Payuk pere berisi  toya yang bercampur dengan bunga tunjung, cempaka putih/kuning (bunga yang serba harum)
·         Beras kuning bertempatkan takir
·         Bungkak yang di kasturi  (bungkak nyuh gading)

2.3 Tetandingan atau isi dari banten di bawah ini
a.       Pebersihan payasan
Terdiri dari:
Ø  Alas ceper slepan bungkulan
Ø  Celemik yang berisi : tebu, sisig, daun pucuk diiris, boreh miik, lengis miik dan daun ilalang yang telah diikatkan dengan benang tetebus
Ø  Ituk-ituk yang diatasnya isi sampian, kemudian diisi bunga dan kembang rampe
Adapun susunan tetandingannya terdiri atas: iluk-iluk diatas,ceperdi bawah kemudian diikat dengan tali.
b.      Sorohan alit/ tebasan
Banten sorohan alit/tebasan adalah simbol “penebusan”. Misalnya penebusan daripada kekurangan-kekurangan atau kesialan-kesialan. Pada banten pengulapan,prayascita, byakaonan, banten ini sering ada. Banten ini terdiri dari : peras tulung,sayut, penyeneng alit.
Ø  Tulung diisi nasi
Ø  Tumpeng 2 buah
Ø  Bantal tape, jajan uli, bagina
Ø  Sampian plaus diisi bunga
Ø  Celemiknya diisi kacang saur
Ø  Tumpeng 2, pisang,tebu diiris, bantal tape, jajan uli, bagina,
Ø  Sampian sayut diisi bunga
Ø  Tepung dan dapdap, beras, tebu, bunga tunjung, yang diiris menjadi satu
Ø  Benang tetebus
Susunannya : penyeneng alit paling atas, peras tulung di tengah, sesayut paling bawah, diikat dengan tali.
c.       Lis senjata
Penggunaannya di sesuaikan dengan besar kecilnya banten yang menyertainya. Jenis tetuwasanliasnya terdiridari : tangga menek, tangga tuwun, jan, sesapi, lilit linting, basang ngude, basang wayah, lawat buah, lawat nyuh, tipat pusuh, tipat tulud, sasap, takep jit lis.
Lis senjata adalah lis yang di pakai pada banten prayascita dan padudusan. Lis senjata reringggitannya menggambarkan senjata para dewa seperti senjata Dewa brahma di sebut gadha, dewa iswara bajra, dewa mahadewa nagapasa, dewa wisnu cakra, dewa siwa padma, dewa sambhu trisula, dewa mahesora dupa, dewa rudra moksala, dan dewa sangkara di sebut angkus.

 2.4 Cara Penataan Banten Prayascita
v  Nyiru atau tamas gede di siapkan, kemudian diisi aled. Diatasnya di susuni pisang, tebu, tape gede, jajan uli, bagina,apem,roti rebus, cerorot dan sebagainya.
v  Kemudian diteben (dibelakangnya) diisi nasi celongkong ( bundaran dari janur yang diisi tri kona ). Tatakannya adalah daun tabio bun yang jumlahnya ganjil. Di atas nasi celongkong di tancapi dengan padang lepas dan muncuk daun dapdap.
v  Selanjutnya diisi pula sorohan alit atau tebasan alit dan pebersihan payasan. Toya wadah pere diatasnya diisi tekir berisi beras kuning dan bunga campur. Disertai lis senjata, coblong yang ada daun dapdap diulek, diatasnya disusuni dengan sampian padma.
v  Setelah itu barulah diisi penyeneng dan sampian nagasari
Keterangan : Dicoblong tempat padma  terdapat padma dan daun dapdap yang telah di ulek kemudian di campur dengan yeh bungkak, (air kelapa gading). Campuran dapdap dan air bungkak tersebut dicolekan pada telapak tangan warga banjar yang kemudian diusap-usap.
Sedangkan air bungkak dituangkan ke dalam payuk (priyuk) pere di campur dengan beras kuning dan bunga dalam satu tempat yang terbuat dari daun pisang. Selanjutnya lis senjata di pergunakan untuk memerciki tirta itu di kepalapa warga banjar. Ada yang memerciki di kepalanya sendiri-sendiri, ada juga yang minta tolong pada orang lain.
Banten prayascita difungsikan untuk menetralisir leteh atau sebel. Misalnya setelah uasai upacara ngaben, maka di balai banjar oleh masyarakatnya telah dipersiapkan banten prayascita tersebut.
Jika seseorang tidak nyaman melakukan beramai-ramai, maka dia akan membuat sendiri banten prayascita tersebut untuk dipergunakan sendiri. Untuk melukat, maka banten prayascita ini harus dihaturkan oleh pemangku/sulinggih, yang mungkin saja di tambah lagi banten rentetannya. Dipakai juga untuk mengupacarai barang-barang yang bernilai ekonomis seperti: mobil, motor, mesin jahit, dan lain sebagainya. Fungsi dan tujuannya adalah untuk keselamatan pemakaiannya agar barang-barang yang baru di beli tersebut tidak membawa sial.

2.5   Mantra Banten Prayascita
a.       Memercikan tirtha dengan lis (prayascita)
Mantra : pakulun ngadeg sira sang janur kuning turun bhatara ciwa hulun angaturaken busung mereke, busung meringgit, ron sarwe leluwes, mas aworane komala manik winten, angilangane sakwehning dasamala, sebel kandel  awighna, tutuga sapta wrdhah.
Om sri ya namo namah swaha.
Om jreng jreng sabuh angadeg nagilang akna sarwa kalan ira sang linislisan
Om sabur sweta, sabur rakta, sabur pitha
Sabur krsna, sabur manca warna sarwa karya prayascita ya suci nirmala ya namo namah swaha .
b.       Prayascita
Mantra : om prayascita kare yegi
Catur warna wicintayet
Catur wawtranca puspadyam
Ang greng bya stawa samam
Om agni rahasia mukam mungguh bungkahing hati angeseng saluwuring dasamala, teka geseng,geseng,geseng
Om prayascita subagiyamastu

PERKEMBANGAN JIWA KEAGAMAAN ANAK DAN REMAJA

Pada dasarnya manusia ingin mengabdikan dirinya pada Tuhan atau sesuatu yang dianggapnya sebagai zat yang mempunyai kekuasaan tertinggi. Keinginan itu terdapat pada setiap kelompok, golongan atau masyarakat manusia dari yang paling primitif hingga yang paling modern. Dari hal tersebut timbul pertanyaan, apakah yang menjadi sumber pokok yang mendasarkan timbulnya keinginan untuk mengabdikan diri pada Tuhan itu? Atau dengan kata lain, apakah yang menjadi sumber kejiwaan agama itu?
Untuk memberikan jawaban itu telah timbul beberapa teori antara lain:
1.        Teori Monostik: (Mono=Satu)
Teori ini berpendapat bahwa yang menjadi sumber kejiwaan itu adalah satu sumber kejiwaan. Selanjutnya sumber tunggal manakah yang paling dominan sebagai sumber kejiwaan itu timbul beberapa pendapat, yaitu yang dikemukakan oleh:
a.       Thomas Van Aquino
Thomas mengemukakan bahwa yang menjadi sumber kejiwaan itu ialah berpikir. Manusia bertuhan karena manusia menggunakan kemampuan berpikirnya.
b.      Fredrick Hegel
Filosof jerman ini berpendapat agama adalah sesuatu pengetahuan yang sungguh-sungguh benar dan tempat kebenaran abadi.
c.       Fredrick Schleimacher
Berlainan dengan pendapat kedua ahli di atas, maka Schleimacher berpendapat bahwa yang menjadi sumber keagamaan itu adalah rasa ketergantungan yang mutlak yang mana manusia selalu menggantungkan hidupnya dengan suatu kekuasaan yang berada diluar dirinya berdasarkan rasa ketergantungan itulah timbul konsep tentang Tuhan. Memang merasa tak berdaya menghadapi tantangan alam yang selalu dialaminya, makanya mereka menggantungkan harapannya pada suatu kekuasaan yang diyakini dapat melindungi mereka.
d.      Rudolf Otto
Menurut pendapat tokoh ini, sumber kejiwaan agama adalah rasa kagum yang berasal dari The Wholly Other (yang sama sekali lain). Jika seseorang dipengaruhi rasa kagum terhadap sesuatu yang dianggap lain, maka keadaan mental seperti itu yang dimaksudkan oleh Otto.
e.       Sigmund Freud
Pendapat S. Freud unsur kejiwaan yang menjadi sumber kejiwaan agama ialah Libido Sexuil (naluri seksual). Berdasarkan Libido ini timbul ide tentang ketuhanan dan upacara keagamaan setelah melalui proses:
1)      Oedipoes Complexi: Mitos Yunani Kuno yang menceritakan bahwa karena perasaan cinta kepada ibunya, maka Oedipoes membunuh ayahnya.
2)      Father Image (Citra Bapak): setelah mereka membunuh ayah mereka dan dihantui oleh rasa bersalah, timbullah rasa penyesalan. Perasaan itu menerbitkan ide untuk membuat suatu cara penebus kesalahan. Timbullah keinginan untuk memuja arwah ayah yang mereka bunuh itu, karena khawatir akan pembalasan arwah tersebut. Realisasi pemujaan itulah menurut Freud agama muncul dari ilusi (khayalan) manusia.
f.       William Mc Dougall
Ia berpendapat bahwa insting khusus sebagai sumber agama tidak ada, tetapi menurutnya sumber kejiwaan agama merupakan kumpulan dari beberapa insting.
2.        Teori Fakulti (Fakulty Theory)
Teori ini berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu tidak bersumber pada suatu faktor yang tunggal tetapi terdiri atas beberapa unsur, antara lain yang dianggap memegang peranan penting adalah: fungsi cipta (reason), rasa (emotion), dan karsa (will). Demikian pula perbuatan manusia yang bersifat keagamaan dipengaruhi dan ditentukan oleh tiga fungsi tersebut.
a)        Cipta (reason)
Merupakan fungsi intelektual manusia.
b)        Rasa (emotion)
Suatu tenaga dalam jiwa manusia yang banyak berperan dalam membentuk motivasi dalam corak tingkah laku seseorang.
c)        Karsa (will)
Merupakan fungsi eksekutif dalam jiwa manusia. Will berfungsi mendorong timbulnya pelaksaan doktrin serta ajaran agama berdasarkan fungsi keagamaan.
3.        Beberapa Pemuka Teori Fakulti
a.       G.M Straton
Straton mengemukakan teori “konflik”, ia mengatakan bahwa yang menjadi sumber kejiwaan agama adalah adanya konflik dalam kejiwaan manusia. Keadaan berlawanan, seperti: baik-buruk, moral-imoral, kepasifan-keaktifan, rasa rendah diri-rasa harga diri menimbulkan pertentangan dalam diri manusia. Jika konflik itu sudah demikian mencekam manusia dan mempengaruhi kejiwaannya, maka manusia itu mencari pertolongan kepada suatu kekuasaan tertnggi (Tuhan) seperti Sigmund Freud berpendapat bahwa dalam setiap organisasi terdapat dua konflik kejiwaan yang mendasar, yaitu:
1)      Life – urge : keinginan mempertahankan kelangsungan hidup
2)      Death – urge : keinginan untuk kembali ke keadaan semula seperti benda mati.
b.      Zakiah Darajat
Dr. Zakiah Darajat berpendapat bahwa pada diri manusia itu terdapat kebutuhan pokok. Beliau mengemukakan bahwa selain kebutuhan jasmani dan rohani manusiapun mempunyai suatu kebutuhan akan keseimbangan dalam kehidupan jiwanya agar tidak mengalamni tekanan. Unsur-unsur kebutuhan yang dikemukakan itu yaitu:
1)      Kebutuhan akan kasih sayang
2)      Kebutuhan akan rasa aman
3)      Kebutuhan akan rasa harga diri
4)      Kebutuhan akan rasa bebas
5)      Kebutuhan akan rasa sukses
6)      Kebutuhan akan rasa ingin tahu (mengenal)
Menurut Dr. Zakiah Darajat (1970), gabungan keenam macam kebutuhan tersebut menyebabkan orang memeluk agama.
c.       W.H. Thomas
Melalui teori The four Wishes-nya ia mengemukakan bahwa yang menjadi sumber-sumber kejiwaan agama adalah empat macam keinginan dasar yang ada dalam jiwa manusia, yaitu:
1)      Keinginan untuk keselamatan
2)      Keinginan untuk mendapatkan penghargaan (recognation)
3)      Keinginan untuk ditanggapi
4)      Keinginan akan pengetahuan atau pengalaman baru.
Didasarkan pada keempat keinginan dasar itulah pada umumnya manusia itu menganut agama menurut W.H. Thomas. Melalui ajaran agama yang teratur, maka keempat keinginan dasar itu akan tersalurkan. Dengan menyembah dan mengabdikan diri kepada Tuhan keinginan untuk keselamatan akan terpenuhi.

B.       TIMBULNYA JIWA KEAGAMAAN PADA ANAK
Sesuai dengan prinsip pertumbuhan maka anak menjadi dewasa memerlukan bimbingan sesuai dengan prinsip yangng dimilikinya, yaitu:
1.      Prinsip Biologis
Secara fisik anak yang baru dilahirkan dalam keadaan lemah. Dalam segala gerak dan tindak tanduknya ia selalu memerlukan bantuan dari orang-orang dewasa di sekelilingnya. Dengan kata lain, ia belum dapat berdiri sendiri karena manusia bukanlah merupakan makhluk instinkif. Keadaan tubuhnya belum tumbuh secara sempurna untuk difungsikan secara maksimal.
2.      Prinsip Tanpa Daya
Sejalan dengan belum sempurnanya pertumbuhan fisik dan psikisnya maka anak yang baru dilahirkan hingga menginjak usia dewasa selalu mengharapkan bantuan dari orang tuanya. Ia sama sekali tidak berdaya untuk mengurusi dirinya sendiri.
3.      Prinsip Eksplorasi
Kemantapan dan kesempurnaan perkembangan melalui pemeliharaan dan latihan. Jasmanisnya baru akan berfungsi secara sempurna jika dipelihara dan dilatih. Akal dan fungsi lainnya pun baru akan menjadi baik dan berfungsi jika kematangan dan pemeliharaan serta bimbingan dapat diarahkan kepada pengeksplorasian perkembangannya.
Adapun beberapa teori mengenai pertumbuhan agama pada anak itu antara lain:
1.      Rasa ketergantungan (Sense of Depende)
Teori ini dikemukakan oleh Thomas melalui teori Four Wishes. Menurutnya manusia dilahirkan ke dunia ini memiliki empat keinginan, yaitu: keinginan untuk perlindungan (security), keinginan untuk mendapatkan tanggapan (response) dan keinginan akan pengalaman baru (new experience) dan keinginan untuk dikenal (recognation). Berdasarkan kenyataan dan kerja sama dari keempat keinginan itu, maka bayi sejak dilahirkan hidup dalam ketergantungan.
2.      Instink Keagamaan
Menurut Woodworth, bayi yang dilahirkan sudah memiliki beberapa instink diantaranya: instink keagamaan. Belum terlihatnya tindak keagamaan pada diri anak karena beberapa fungsi kejiwaan yang menopang kematangan berfungsinya instink itu belum sempurna.

C.       PERKEMBANGAN KEAGAMAAN PADA ANAK
Menurut peneitian Ernest Harms perkembangan agama pada anak-anak itu melalui beberapa fase (tingkatan). Dalam bukunta The Development of Religious on Children ia mengatakan bahwa perkembangan agama pada anak-anak itu melalui tiga tingkatan, yaitu:
1.      The Fairy tale stage (Tingkatan Dongeng)
Tingkatan ini dimulai pada anak yang berusia 3-6 tahun. Pada anak tingkatan ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi.
2.      The Realitic Stage (Tingkatan Kenyataan)
Tingkatan ini dimulai sejak anak masuk Sekolah Dasar hingga ke usia (masa muda) adolesense. Pada masa ini ide ketuhanan anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan (realis). Konsep ini timbul melalui lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran agama dari orang dewasa lainnya. Pada masa ini ide keagamaan anak didasarkan atas dorongan emosional, hingga mereka dapat melahirkan konsep Tuhan yang formalis.
3.      The Individual Stage (Tingkatan Individu)
Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang individualistis ini terbagi atas tiga golongan, yaitu:
a.       Konsep ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi.
b.      Konsep ketuhanan yang lebih murn yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat personal (perorangan)
c.       Konsep ketuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi etos humanis pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama.

D.      SIFAT-SIFAT AGAMA PADA ANAK-ANAK
Ide keagamaan pada anak hampir sepenuhnya antoritarius, maksudnya konsep keagamaan pada diri mereka dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka. Orang tua mempunyai pengaruh terhadap anak sesuai dengan prinsip eksplorasi yang mereka miliki. Dengan demikian, ketaatan kepada ajaran agama merupakan kebiasaan yang menjadi milik mereka yang dipelajari dari orang tua maupun guru mereka. Berdasarkan hal itu, maka bentuk dan sifat agama pada diri anak dapat dibagi atas:
1.      Unreflective (Tidak Mendalam)
Dalam penelitian Machion tentang sejumlah konsep ketuhanan pada diri anak, 73% dari mereka menganggap tuhan itu bersifat seperti manusia. Kebenaran yang diterima tidak begitu mendalam sehingga cukup puas dengan keterangan-keterangan yang terkadang kurang masuk akal.
2.      Tingkat Perkembangan
Anak memiliki kesadaran akan diri sendiri sejak tahun pertama usia perkembangannya dan akan berkembang sejalan pertambahan pengalamannya. Apabila kesadaran akan diri itu mulai subur pada diri anak, maka akan tumbuh keraguan pada egonya. Semakin bertumbuh semakin meningkat pula egoisnya. Sehubungan dengan hal itu maka dalam masalah keagamaan anak telah menuntut konsep keagamaan yang mereka pandang dari kesenangan pribadinya.
3.      Anthromorphis
Pada umumnya konsep ketuhanan pada anak berasal dari hasil pengalamanya dimala ia berhubungan dengan orang lain. Tapi suatu kenyataan bahwa konsep ketuhanan mereka tampak jelas menggambarkan aspek-aspek kemanusiaan. Anak menganggap bahwa tuhan dapat melihat segala perbuatannya langsung ke rumah-rumah mereka.
4.      Verbalis dan Ritualis
Dari kenyataan yang kita alami ternyata kehidupan agama pada anak-anak sebagian besar mula-mula tumbuh secara verbal (ucapana). Mereka menghafal secara verbal kalimat-kalimat keagamaan. Bukti menunjukkan bahwa banyak orang dewasa yang taat karena pengaruh ajaran dan praktek keagamaan yang dilaksanakan pada anak-anak mereka. Sebaliknya belajar agama di usia dewasa banyak mengalami kesukaran. Latihan bersifat verbalis dan upacara keagamaan yang bersifat ritual (praktek) merupakan hal yang berarti dan merupakan salah satu ciri dari tingkat agama pada anak-anak.
5.      Imtatif
Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita saksikan bahwa tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak-anak pada dasarnya diproleh dari meniru. Berdoa dan sembahyang misalnya mereka laksanakan karena hasil melihat perbuatan di lingkungan, baik berupa pembiasan ataupun pengajaran yang intensif.
6.      Rasa Heran
Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan yang terakhir pada anak. Berbeda dengan rasa kagum yang ada pada orang dewasa, maka rasa kagum pada anak ini belum bersifat kritis dan kreatif. Mereka hanya kagum terhadap keindahan lahiriah saja. Hal ini merupakan langkah pertama dari pernyataan kebutuhan anak akan dorongan untuk mengenal sesuatu yang baru.

E.       PERKEMBANGAN JIWA KEAGAMAAN PADA REMAJA
Dalam pembagian tahap perkembangan manusia, maka mas remaja menduduki tahap progresif. Dalam pembagian yang agak terurai masa remaja mencakup masa: Juvenilitas (adolescantium), pubertas dan nubilitas. Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama pada remaja turut mempengaruhi perkembangan itu. Maksudnya penghayatan para remaja terhadap ajaran agama dan tindak keagamaan yang tampak para remaja banyak berkaitan dengan faktor perkembangan tersebut.
Perkembangan agama pada para remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan rohani dan jasmaninya. Perkembangan itu antara lain menurut W. Starbuck adalah:
a.       Pertumbuhan pikiran dan mental
Ide dna dasar keyakinan beragama yang diterima remaja dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis terhadap ajaran agama mulai timbul. Selain masalah agama merekapun sudah tertarik pada masalah kebudayaan, sosial, ekonomi, dan norma-norma kehidupan lainnya.
b.      Perkembangan perasaan
Berbagai perasaan telah berkembang pada usia remaja. Perasaan sosial, etis dan estetis mendorong remaja untuk menghayati perikehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religius akan cenderung mendorong dirinya lebih dekat kearah hidup yang religius pula. Sebaliknya bagi remaja yang kurang mendapatkan pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih mudah didominasi dorongan seksual. Didorong oleh perasaan super, remaja lebih mudah terperosok kearah tindakan seksual yang negatif.
c.       Pertimbangan sosial
Corak keagamaan para remaja juga ditandai oleh adanya pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan marak timbul konflik antara pertimbangan moral dan material. Remaja sangat bingung menentukan pilihan itu. Karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi kepentingan akan materi, maka jiwa remaja lebih cenderung untuk bersikap materialis. Hasil penyelidikan Ernest Harm terhadap 1789 remaja Amerika antara usia 18-29 tahun menunjukkan bahwa 70% pemikiran remaja ditujukan bagi kepentingan keuangan, kesejahteraan, kebahagiaan, kehormatan diri, dan masalah kesenangan pribadi lainnya. Sedang masalah akhirat dan keagamaan hanya sekitar 3,5%, masalah sosial hanya 5,8%.
d.      Perkembangan Moral
Perkembangan moral para remaja bertitik tolak dari rasa berdosa dan usaha untuk mencari proteksi.  Tipe moral yang terlihat pada remaja juga mencakup.
1)      Self-directive, taat terhadap agama atau moral berdasarkan pertimbangan pribadi.
2)      Adapuve, mengikuti situasi lingkungan tanpa mengadakan kritik.
3)      Submissive, merasakan adanya keraguan terhadap ajaran agama dan moral.
4)      Unadjusted, belum meyakini akan kebenaran ajaran agama dan moral.
5)      Deviant, menolak dasar dan hukum keagamaan serta tatanan moral dan masyarakat.
e.       Sikap dan Minat
Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh dikatakan sangat kecil dan hal ini tergantung dari kebiasaan masalah kecil serta lingkungan agam yang mempengaruhi mereka (besar kecil minatnya). Howard Bell dan Ross berdasarkan penelitiannya terhadap 13.000 remaja di Maryland terungkap hasil sebagai berikut:
1)      Remaja yang taat (ke gereja secara teratur) ...... 45%
2)      Remaja yang tidak sama sekali ...... 35%
3)      Minat terhadap ekonomi, keuangan, materiil dan sukses pribadi ...... 73%
4)      Minat terhadap masalah ideal, keagamaan dan sosial ........ 12%
f.       Ibadah
1)      Pandangan para remaja terhadap ajaran agama: ibadah dan masalah doa sebagai mana yang dikumpulkan oleh Ross dan Oskar Kupky menunjukkan:
a)      148 siswa dinyatakan bahwa 20 orang diantara mereka tidak pernah memiliki pengalaman keagamaan yang 68 diantaranya secara alami (tidak mengalami pengajaran secara resmi).
b)      81 orang diantara yang mendapat pengalaman keagamaan melalui proses alam itu mengungkapkan adanya perhatian mereka terhadap kewajiban yang menakjubkan dibalik keindahan alam yang mereka nikmati.
2)      Selanjutnya mengenai pandangan mereka tentang ibadah diungkapkan sebagai berikut:
a)      42% tak pernah mengerjakan ibadah sama sekali.
b)      33% mengatakan mereka sembahyang karena mereka yakin Tuhan mendengarkan dan akan mengabulkan doa mereka.
c)      27% beranggapan bahwa sembahyang dapat menolong mereka meredakan kesusahan yang mereka derita.
d)     18% mengatakan sembahyang sebagai penyebab  mereka menjadi senang sesudah menunaikannya.
e)      11% mengatakan bahwa sembahyang mengingatkan tanggung jawab dan tuntutan sebagai anggota masyarakat.
f)       4% mengatakan bahwa sembahyang merupakan kebiasaan yang mengandung arti penting.
Jadi, hanya 17% yang mengatakan bahwa sembahyang bermanfaat untuk berkomunikasi dengan Tuhan, sedangkan 26% diantaranya menganggap bahwa sembahyang hanyalah merupakan media untuk meditasi.

F.        KONFLIK DAN KERAGUAN
Dari Sample yang diambil W. Starbuck terhadap mahasiswa Middleburg College, tersimpul bahwa: dari remaja usia 11-26 tahun terdapat 53% dari 142 mahasiswa yang mengalami konflik dan keraguan tentang ajaran agama yang  mereka terima cara penerapannya, keadaan lembaga keagamaan dan para pemuka agama. Hal yang serupa ketika diteliti terhadap 95% mahasiswa, maka 73% diantaranya mengalami krisis yang sama.
Dari analisis penelitiannya Starbuck menemukan penyebab timbulnya keraguan, diantaranya adalah faktor:
1.      Kepribadian, yang menyangkut salah tafsir dan jenis kelamin.
a.       Bagi seseorang yang memiliki kepribadian introvert, maka kegagalan dalam mendapatkan pertolongan Tuhan akan menyebabkan salah tafsir akan sifat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
b.      Perbedaan jenis kelamin dan kematangan merupakan pula faktor yang menentukan dalam keraguan agama. Wanita yang lebih cepat matang dalam perkembangannya lebih cepat menunjukkan keraguan pada remaja pria. Tetapi sebaliknya dalam kualitas dan kuantitas keraguan remaja putri lebih kecil jumlahnya. Disamping itu keraguan wanita lebih bersifat alami sedangkan pria bersifat intelek.
2.      Kesalahan Organisasi Keagamaan dan Pemuka Agama
Ada berbagai lembaga keagamaan, organisasi dan aliran keagamaan  yang kadang-kadang menimbulkan kesan adanya pertentangan  dalam ajarannnya. Pengaruh ini dapat menjadi penyebab timbulnya keraguan para remaja. Demikian pula tindak tanduk para pemuka agama yang tidak sepenuhnya menuruti tuntutan agama.
3.      Pernyataan Kebutuhan Manusia
Manusia memiliki sifat konservatif (senang dengan yang sudah ada) dan dorongan curiosity (dorongan ingin tahu). Berdasarkan faktor bawaan ini maka keraguan memang harus ada pada diri manusia. Karena hal itu merupakan pernyataan dari kebutuhan manusia normal. Ia terdorong untuk memperlajari ajaran agama dan kalau ada perbedaan-perbedaan yang kurang sejalan dengan apa yang telah dimilikinya akan timbul keraguan.
4.      Kebiasaan
Seseorang yang terbiasa akan suatu tradisi keagamaan yang dianut akan ragu menerima kebenaran ajaran yang baru diterimanya atau dilihatnya.
5.      Pendidikan
Dasar pengetahuan yang dimiliki seseorang serta tingkat pendidikan yang dimilikinya akan membawa pengaruh sikapnya terhadap ajaran agama. Remaja terpelajar akan menjadi lebih kritis terhadap ajaran agamanya, terutama yang banyak mengandung ajaran bersifat dogmatis. Apalagi jika mereka memiliki kemampuan untuk menafsirkan ajaran agamanya secara rasional.
6.      Percampuran antara Agama dan Mistik
Para remaja merasa ragu untuk menentukan antara unsur agama dengan mistik. Sejalan dengan perkembangan masyarakat kadang-kadang secara tak disadari tindak keagamaan yang mereka lakukan ditumpangi oleh praktek kebatinan dan mistik. Penyatuan unsur ini merupakan sesuatu dilema yang kabur bagi para remaja. Selanjutnya secara individual sering pula terjadi keraguan yang disebabkan beberapa hal mengenai:
1.      Kepercayaan
2.      Tempat Suci
3.      Alat perlengkapan keagamaan
4.      Fungsi dan tugas staff dalam lembaga keagamaan
5.      Pemuka agama
6.      Perbedaan aliran dalam keagamaan
Keragu-raguan yang demikian akan menjurus kearah munculnya konflik dalam diri para remaja sehingga mereka dihadapkan pemilihan antara mana yang baik dan yang buruk serta antara yang benar dan salah. Konflik ada beberapa macam, diantaranya:
1.      Konflik yang terjadi antara percaya dan ragu
2.      Konflik yang terjadi antara pemilihan satu diantara dua macam agama atau ide keagamaan serta lembaga keagamaan
3.      Konflik yang terjadi oleh pemilihan antara ketaatan beragama atau sekularisme

4.      Konflik yang terjadi antara melepaskan kebiasaan masa lalu dengan kehidupan keagamaan yang didasarkan atas petunjuk Ilahi.

JANGAN GAGAL BANGUN PAGI

         
         
Bangun pagi merupakan sebuah rutinitas yang selalu dialami oleh manusia normal, sebagaimana manusia megistirahatkan badannya pada malam hari dan kembali bersiap digunakan untuk beraktivitas di pagi hari. Tetapi tidak semua orang mampu bangun pagi, dan bahkan bagi orang tertentu bangun pagi adalah hal yang sangat menyebalkan mengingat keadaan dingin yang membuat semakin enak menarik selimut, kantuk semakin menjadi-jadi dan mata berat untuk dibuka. Bangun pagi yang baik adalah sebelum matahari terbit sekitar jam 04.00-05.00 pagi, atau dalam istilah hindu dikenal dengan “Brahma Muhurta”. Manfaat yang bisa dirasakan apabila bangun pagi adalah tubuh menjadi lebih segar, kepala tidak pusing, pikiran lebih tenang dan tidak gampang sakit. Persoalannya, kembali seperti si atas banyak pihak yang merasakan bangun pagi itu berat, terlebih ketika hari libur, sudah pasti rencana dari ahri sebelumnya adalah bangun sesiang-siangnya.
            Perlu disadari bahwa ketika tubuh tertidur pada saat sandi kala (pergantian waktu), kira-kira jam 06.00 pagi, jam 12.00 siang, dan jam 06.00 sore bisa menyebabkan kondisi tubuh melemah, hal ini dikarenakan pada waktu itu energi yang ada dalam tubuh diserap oleh energi matahari. Terlebih bagi yang kondisinya memang tidak fit bisa saja langsung jatuh sakit dan kondisi tubuh makin melemah. Namun itulah fenomena yang terjadi terutama bagi kalangan anak muda yang belum memiliki tanggungan hidup, bangun pagi seakan-akan menjadi musuh terbesar yang dihadapi. Bagaimana tidak, banyak anak muda yang suka begadang sekarang ini, dalam seminggu mungkin hanya sekali dua kali tidurnya di bawah jam 12, selebihnya tidur jam 1, jam 2, atau diatas itu. Apalagi kalau ada acara yang sangat menarik di TV, sebut saja sepak bola yang menyiarkan pertandingan di dini hari, ataupun dengan pertandingan moto GP yang berlangsung tengah malam hal ini semakin membuat semangat anak muda untuk begdang membesar. Tidur jam 05.00 pagi dan bangun jam 10.00 seakan sudah menjadi kebiasaan dan bahkan ada yang tidak mampu tidur sebelum jam 05.00 pagi.
            Kegagalan bangun pagi seakan sudah mentradisi bagi sebagian anak muda, padahal jika ditinjau dari segi kesehatan, aktivitas begadang dan selalu bangun siang sangat tidak baik. Pertama, perlu diketahui bahwa sel darah merah membelah dan bertambah volumenya berlangsung tiap tengah malam (jam 12.00 malam), apabila tubuh ini tidak diistirahatkan maka kapan kesempatan memperbanyak volume sel darah merah akan berlangsung. Kedua, begadang akan menyebabkan konsentrasi menjadi berkurang sehingga seseorang akan kesulitan untuk fokus dalam mengerjakan sesuatu. Ketiga, dengan bangun siang akan mengurangi mood dan semangat dalam menjalankan aktivitas di siang hari dan hal lainnya. Perlu dibiasakan agar tidur paling lambat jam 11.00 malam dan paling bagus jam 10.00 malam, kemudian bangunlah jam 05.00 atau bahkan bila mampu jam 04.00 pagi akan lebih baik. pertama-tama memang sulit untuk melakukan kebiasaan baik ini, tetapi itu memang alami dan dari hasil survey seorang ahli, dikatakan pembiasaan itu tidak membutuhkan waktu yang lama, hanya 21 hari. Jadi apabila rutin memaksakan diri bangun pagi selama 21 hari selebihnya tanpa disuruh badan akan terbangun. Untuk bisa bangun pagi juga sebelum tidur berpesanlah pada diri “BESOK BANGUNKAN SAYA JAM 05.00” atau waktu yang lain yang diinginkan, maka secara alami akan terbangun.

            Pertama-tama memang terasa berat bangun pagi, dingin, ngantuk dan tidak ada kegiatan sering menjadi alasan. Namun, apabila ingin hidup sehat coba saja lakukan dari sekarang bangun pagi dan jangan begadang, terlebih bisa melakukan Yoga Rutin di pagi hari, pikiran akan sangat tenang, konsentrasi dan mood dalam menjalani aktivitas menjadi sangat baik. saya tidak berteori, saya menulis berdasarkan pengalaman, coba buktikan! Biasakan tidur jam 10.00 malam bangun jam 05.00 pagi jangan sebaliknya tidur jam 05.00 pagi bangun jam 10.00 pagi. Salam sehat! (Rudi)

YOGA ASANAS

 
           Istilah “Yoga” tentu sudah tidak asing lagi dalam pemahaman masyarakat modern.
Pemahaman tentang Yoga kini semakin modern dan bahkan menjadi sesuatu yang sangat populer. Tidak hanya oleh kalangan orang India yang berada di negeri dimana Yoga tercipta, tetapi sudah menyebar ke seluruh benua yang ada di dunia. Tidak terkecuali dengan di Indonesia, Yoga kini menjadi solusi kesehatan masyarakat. Akan tetapi mengingat luasnya ajaran Yoga, harus dipahami juga bahwa yang populer dari Yoga pada era kini bukanlah dari segi filsafat atau spiritualnya, melainkan dari aspek olah tubuh yang sering disebut dengan Asanas.
            Ya, Yoga Asanas, yakni tingkatan Yoga yang lebih menonjolkan olah tubuh sehingga mampu memberikan keseimbangan pada tubuh. Dengan asanas yang dilakukan berbagai solusi kesehatan yang bisa dirasakan oleh masyarakat seperti menjaga keseimbangan proses metabolisme tubuh, menjaga keidealan tubuh, menjaga daya tahan tubuh, serta manfaat lainnya yang mampu memberi kepuasan tersendiri bagi para praktisi. Booming-nya Yoga di Indonesia juga sampai di pulau Lombok yang mayoritas penduduknya beragama Muslim. Sejak lima tahun terakhir Lombok menjadi sasaran pengembangan Yoga oleh para guru Yoga. Komunitas pecinta Yoga di Pulau Lombok juga semakin bertambah, tempat pelatihan Yoga mulai merambah dan juga guru Yoga yang ada di Pulau Lombok selalu bertambah dari waktu ke waktu. Dan sejak tahun 2014 saya bersama Guru Yoga saya Master Edi Ariawan dan beberapa teman pencinta Yoga lainnya mendirikan sebuah Pusat pelatihan Yoga pertama dan mungkin satu-satunya yang khusus bergerak di bidang Yoga, yaitu Lombok Yoga Center yang berlokasi di jalan Sriwijaya No. 3 Ruko Blok 4 Cakranegara, CP: 087863049745).
            Namun yang akan saya bahas sekarang bukanlah tentang Center Yoga Kami, tetapi mengenai bagaimana masyarakat memaknai Yoga pada umumnya dan asanas pada khususnya. Kalau berbicara tentang Yoga, masyarakat modern pecinta Yoga sangat jarang yang mau memahami Yoga secara filosofi (yakni kebenaran hakiki tentang Yoga), tetapi cenderung mengidentikkan bahwa asanas adalah yoga, dan yoga hanya asanas. Lain lagi halnya dengan asanas, sangat jarang yang mau memahami dan menggali nilai dari asanas yang dilakukan. Kebanyakan hanya fokus pada gerakan yang “WAH” yang akan memberikan pujian bagi dirinya karena mampu melakukan gerakan itu. Apalagi dengan adanya media sosial semacam “Instagram”, setiap hari pada berlomba-lomba meng-upload foto yang terkesan extreme. Padahal jika ditinjau dari tujuan asanas sesuai yang tertuang dalam kitab Hatha Pratipika, Asanas dilakukan untuk mencari satu posisi yang nyaman yang nantinya bisa digunakan dalam melakukan dharana, dhyana, bahkan hingga Semadi.
            Yoga memang terus berkembang, dan kini tidak lagi menjadi sebuah bahasan yang “tenget”, “gaib”, “magis”, tetapi kini sudah menjadi aktivitas yang disamakan dengan olahraga, yang akan memberikan dampak bagi kesehatan. Ok, tidak apa-apa jika Yoga terutama bagian asanas disebut olahraga, tetapi satu hal yang perlu diingat bahwa gerakan asanas yang extreme belum tentu akan memberikan dampak kesehatan, tetapi melakukan gerakan yang sesuai dengan kemampuan serta dilakukan dengan sungguh-sungguh dan selalu memperhatikan prosedur bergerak yang tepat itulah yang akan memberikan efek kesehatan.
            Jadi bagi anda para pencinta Yoga, ketika berlatih jangan selalu ngebet mengikuti gerakan-gerakan yang memaksa tubuh, lakukan gerakan semampunya dan kesehatan akan anda dapatkan. Percaya atau tidak silahkan dibuktikan!