Dasa Yama dan Niyama Brata

Bagi pembaca yang ingin tahu tentang Beberatan pemangku yang menyangkup tentang Panca Yama dan Nyama Brata bisa klik disini, semoga bermanfaat dan selamat membaca!!!

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Dalam agama Hindu dikenal adanya enam filsafat India yang selalu menjadi bayangan dalam menjalankan kehidupan ini, keenam filsafat ini sering disebut dengan Sad Darsana yang meliputi Nyaya, Samkya, Yoga, Waisiseka, Mimamsa, dan Wedanta. Dari keenam filsafat tersebut filsafat yang lebih menekankan pada pengendalian diri adalah Yoga Darsana. Yoga diajarkan pertama kali di bumi oleh Maharsi patanjali, melalui ajarannya yang terkenal yakni astangga Yoga yang tersurat dalam Yoga Sutra patanjali. Disamping lebih menekankan pada pengendalian diri, ajaran Yoga juga populer di sepanjang zaman yang keberadaannya tidak hanya diakui oleh umat Hindu tetapi juga oleh pemeluk agama yang lain.
Memang yang lebih populer di era modern ini adalah bagian asana dan pranayama dari Yoga, akan tetapi apabila dikaji kembali pemahaman tentang astangga yoga yang merupakan delapan tangga dalam mempelajari Yoga akan ditemukan bagaimana sistematis dan bermetodenya pembelajaran Yoga tersebut. Astangga Yoga yang terdiri dari Yama, Nyama, Asana, Pranayama, Pratyahara, Dharana, Dhyana, dan Semadi tidak bisa dipisahkan satu sama lain untuk memproleh hasil yang maksimal, sebagaimana yang tertuang dalam kitab Hatha Yoga Pratiphika bahwa untuk mencapai tingkatan Semadi tidak bisa langsung dmulai dari tahap Dharana atau Dhyana tetapi harus dari tingkatan paling awal, yakni Yama.
Yama menjadi tingkatan pertama yang lebih menekankan pada pengendalian diri di aspek jasmani dan menjadi modal awal untuk tingkatan selanjutnya, Nyama menekankan pada pengendalian diri pada aspek rohanini, setelah pengendalian diri dilakukan barulah dimulai dengan tingkatan Asana atau gerakan tubuh sebelum nantinya menuju tingkat Pranayama untuk latihan pernafasan yang dapat memberikan ketenangan dan kesehatan. Setelah empat aspek dasar dilalui dan tentunya dikuasai barulah mulai menuju tingkatan pratyahara untuk melatih pemusatan pikiran, kemudian dharana untuk memusatkan pikiran pada objek yang diinginkan, kemudian menuju tingkat Dhyana atau Meditasi untuk mengetahui kebenaran sang diri sebelum mencapai tingkat tertinggi yaitu Semadhi atau sudah bisa mencapai kesadaran dan bertemu dengan Brahman.
Apapun kegiatan dalam kehidupan ini harus dimulai dari hal yang terkecil, tidak terkecuali dengan Yoga. Oleh karena itu, perlu diperhatikan hal dasar seperti Yama dalam asthangga Yoga sebelum menuju ke tingkatan yang lebih tinggi. Yama ini sendiri tertuang dalam ajaran Panca Yama Brata dan Dasa Yama Brata, yang mana masing-masing memiliki bagian yang berbeda. Terkait Panca Yama Brata sudah terlalu sering dibahas dan seakan-akan ajaran  Yama Brata hanya ada Panca Yama Brata saja, kendati Dasa Yama Brata juga merupakan ajaran penting yang harus dipahami. Begitu pula dengan ajaran Nyama, ajaran ini tertuang dalam Panca Nyama Brata dan Dasa Nyama Brata. Akan tetapi yang sering dibahas dalam pengajaran adalah pada bagian Panca Nyama Brata saja, sedangkan untuk bagian Dasa Nyama Brata seakan-akan terlupakan. Sehubungan dengan hal tersebut, maka pada kesempatan ini penulis akan menguraikan Dasa Yama Brata dan Dasa Nyama Brata melalui sebuah makalah.

1.2  Rumusan Masalah
Dari latar belakang yang telah penulis uraikan dapat dirumuskan beberapa masalah yang akan di bahas dalam makalah ini, yaitu:
1.      Apakah pengertian Dasa Yama Brata dan Dasa Nyama Brata?
2.      Apakah bagian-bagian dari Dasa Yama Brata dan Dasa Nyama Brata?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Pengertian Yama dan Niyama Brata
Menurut kamus kecil Sanskerta-Indonesia (Pemda Tingkat 1 Bali, 1982/1983:187, 126,238) kata Yama diartikan sebagai pengendalian atau pengendalian diri sendiri , sedangkan kata Ni berarti dalam, dan Brata dengan asal kata Vrata diberi makna sebagai kehendak, sumpah atau kewajiban.
Sementara itu kamus jawa kuno-Indonesia, memberikan arti bahwa Yama berarti pengendalian diri atau pengekangan diri, Niyama artinya kewajiban atau sumpah, dan brata berarti perbuatan suci seperti berpuasa atau bertapa.
Dengan demikian Yama Brata dapat diartikan sebagai pengendalian diri atau usaha-usaha untuk mengatur diri sendiri dengan lebih cermat guna mengendalikan nafsu indria dan berpantang melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama. Sedangkan Niyama Brata berarti sumpah atau janji kepada diri sendiri agar mampu berbuat, mampu mengatur diri dengan lebih ketat dan sekaligus berpantang terhadap larangan atau melaksanakan sesuatu yang diwajibkan oleh ajaran agama.
Dalam hal ini Yama Brata lebih menekankan kepada pengendalian kedalam diri, mengendalikan semua perbuatan yang diakibatkan oleh dorongan nafsu, sedangkan Niyama Brata lebih menitik beratkan kepada hal-hal lahiriah berupa pengendalian terhadap tindakan yang ditunjukan terhadap orang lain atau mahluk lain.

2.2  Dasa Yama Brata
Dasa Yama Brata merupakan sepuluh macam pengendalian diri tingkat dasar untuk mencapai kesempurnaan hidup. Pembagian dari Dasa Yama Brata, diantaranya:
1.    Anrsamsa
Anresamsa atau anrisamsa berasal dari kata “A” yang berarti tidak, dan Nrisamsa berarti orang kejam atau orang yang suka menyiksa sesamanya. Anremsasa dengan demikian berarti tidak kejam atau tidak keji. Umat hindu hendaknya selalu bersikap baik terhadap siapa saja dan dapat mengendalikan dirinya dengan baik. Umat hindu yang tidak dapat mengendalikan dirinya akan dicap sebagai orang yang tidak baik dan bisa jadi dipandang sebagai orang yang kejam.
Ø Contoh-contoh pelaksanaan ajaran Anresangsya:
a.     membatalkan janji pribadi untuk melaksanakan kepentingan warga masyarakat
b.    mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi
c.     Memberi kesempatan kepada penyebrang jalan dengan memperlambat kecepatan sepeda motor/mobil,
d.     Memberikan tempat duduk kita di dalam bus/angkutan kepada orang tua atau orang hamil,
e.      Membiasakan antre atau menunggu giliran di SPBU, Puskesmas, rumah sakit atau kantor.
2.    Ksama
Ksama artinya pemaaf atau sifat yang mudah memaafkan. Umat hindu hendaknya merupakan sosok yang pemaaf dan tidak bersifat pendendam. Bersedia memaafkan kesalahan orang lain merupakan sikap yang sangat terpuji. Umat hindu hendaknya sadar bahwa berbuat kesalahan adalah manusiawi, artinya kesalahan itu dapat dilakukan oleh siapa saja. Tidak seorangpun dapat melepaskan diri dari kekeliruan. Oleh karena itu bersifat pemaaf hendaknya selalu menjadi pola pikir umat hindu.
Ø Contoh-contoh pelaksanaa ajaran Ksama, seperti:
a.    memaafkan kesalahan teman
b.    tidak marah atau tersinggung bila dijelek-jelekkan teman
c.     tetap melanjutkan sekolah walaupun tidak naik kelas
d.    tidak merasa minder/berkecil hati walaupun merasa diri ada kekurangan,dll.

3.    Satya
Satya artinya jujur, bena atau bersifat baik. Orang yang melaksanakan satya brata berarti bahwa orang itu tidak pernah menyimpang dari ajaran kebenaran, selalu jujur, dan selalu berterus terang. Umat hindu hendaknya selalu menjunjung tinggi kebenaran, kejujuran dan kesetiaan. Karena itu mereka hendaknya selalu jujur terhadap diri sendiri maupun orang lain, selalu melaksanakan ajaran kebenaran dan kesetiaan.
Dalam agama hindu dikenal dengan lima macam kejujuran yang disebut panca satya, diantaranya:
a.    Satya wacana yaitu harus setia dan jujur dalam berkata, tidak sombong, selalu menjaga sopan santun dalam berbicara, tidak boleh berucap yang dapat menyakiti hati atau perasaan orang lain.
b.    Satya hrdaya, artinya setia terhadap hati nuraninya, selalu konsisten dan berpendirian yang teguh dalam melaksanakan ajaran kebenaran.
c.    Satya laksana, artinya harus jujur dan bertanggung jawab terhadap apa yang diperbuatnya.
d.   Satya mitra, artinya setia kepada teman atau sahabat dan tidak boleh berkhianat.
e.    Satya semaya, artinya selalu menepati janji dan tidak boleh ingkar janji.
4.    Ahimsa
Ahimsa terdiri dari kata “A” yang berarti tidak, dan “Himsa” yang berarti membunuh atau menyakiti. Sehingga ahimsa berarti tidak membunuh atau menyakiti. Umat hindu tidak dibenarkan untuk menyakiti apalagi membunuh orang atau mahluk lain. Membunuh adalah perbuatan dosa. Sebaliknya mereka hendaknya selalu menanamkan rasa kasih sayang. Jangan membunuh dan jangan berbuat dosa. Pengecualian hanya diberikan dalam hal membunuh binatang dengan maksud untuk dipergunakan sebagai pengorbanan suci atau yadnya kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Ø Contoh pelaksanaan ajaran Ahimsa, seperti:
a.    Tidak membunuh binatang sembarangan
b.    Tidak meracuni hewan
c.    Tidak mengganggu hewan yang sedang tidur
d.   Tidak memfitnah
e.    Tidak menghina teman yang memiliki kekurangan.
Agama Hindu juga membenarkan melakukan pembunuhan/Himsa Karma tetapi hendaknya dilandasi cinta kasih dan dharma, seperti:
1.    untuk Dewa Puja yaitu untuk persembahan kepada para Dewa dan manifestasi Ida Sang Hyang Widhi,
2.     Pitra Puja yaitu membunuh untuk persembahan kepada leluhur,
3.     Athiti Puja yaitu membunuh untuk dipersembahkan atau dihaturkan kepada tamu.
4.    Dharma Wigata yaitu membunuh di dalam peperangan/pertempuran.
5.    Dama
Dama berarti mengendalikan nafsu atau mengalahkan nafsu. Dama juga berarti mengendalikan diri atau mengendalikan nafsu. Umat hindu hendaknya dapat mengendalikan atau menundukkan hawa napsunya. Mereka seharusnya tidak mengumbar hawa napsunya sekedar hanya karena hendak memenuhi keinginan sesaat. Karena umat hindu harus dapat memilah yang baik-baik saja agar dapat menimbulkan ketenangan dan ketentraman batiniah. Hanya dengan ketenangan dan ketentraman pikiran itulah umat hindu akan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik.
Ø Contoh-contoh pelaksanaan ajaran Dama, seperti:
a.    Menyadari perbuatan, perkataan dan perbuatan kita yang keliru
b.    Memikirkan terlebih dahulu akan perkataan yang akan diucapkan
c.    Sebelum tidur renungkanlah perbuatan yang telah kita lakukan sebagai evaluasi harian untuk meningkatkan kwalitas diri
d.   Biasakan tidak terlalu repot membicarakan kelemahan orang, masih lebih baik jika rajin melihat kelemahan diri sendiri
e.    Untuk menghindari adanya penyesalan yang datangnya selalu di belakang, sebelum berkata dan berbuat pikirkan secara matang akibatnya.
6.    Arjawa
Arjawa berasal dari kata “Arja” yang berarti teguh pendirian, arjawa juga berarti mempertahankan kebenaran. Orang yang selalu melaksanakan Arjawa Brata berarti selalu berusaha untuk berbuat benar. Orang ini adalah orang yang taat, disiplin, jujur dan tidak pernah berbohong. Ia selalu berpegang pada kepada kebenaran. Umat hindu haruslah teguh dalam menjunjung tinggi kebenaran sejati. Hanya dengan berpegang teguh pada pendirian, seseorang akan tidak mudah terombang-ambing oleh pikiran-pikiran yang tidak baik dan tidak suci.
Ø Contoh-contoh pelaksanaan ajaran Arjawa, seperti:
a.     Jangan mengaku dan merasa diri selalu paling benar
b.    Katakan yang benar adalah benar yang salah adalah salah
c.     Berpijaklah pada kebenaran walaupun banyak godaan
d.    Orang yang mempertahankan kebenaran akhirnya akan menang
e.     Jadilah ksatria pembela kebenaran seperti peribahasa Berani karena benar Takut karena Salah.
7.    Priti
Priti berarti kasih sayang kepada semua mahluk. Sebab semua mahluk adalah ciptaan Tuhan, oleh karena itu kita wajib saling menyayangi. Umat hindu haruslah juga bersikap welas asih atau penuh rasa kasih sayang terhadap sesama. Sikap kasih dan sayang terhadap sesama akan menimbulkan rasa simpati. Sikap welas asih seperti ini akan menjadi sangat bernilai manakala ditujukan terhadap orang yang sedang i kesulitan.
Ø Contoh-contoh pelaksanaan ajaran Priti, seperti:
a.    Hiduplah rukun saling mengasihi sesama teman di sekolah, bersama keluarga, begitu juga dengan tetangga sekitar
b.     Memelihara hewan peliharaan dengan baik
c.     Rajin merawat dan memupuk tanaman dan sebagainya.
8.    Prasada
Prasada artinya berpikir tenang, bersih dan suci. Tenang artinya tidak mudah berubah pikiran, tidak goyah, tetapi juga tidak takut, sehingga tidak mudah kena pengaruh yang tidak baik. Dalam pergaulan hidup sehari-hari umat hindu hendaknya selalu berpikir positif, berpikir jernih dan suic serta tidak berprasangka buruk terhadap orang lain. Mereka hendaknya tidak memelihara sikap yang serba curiga terhadap orang lain. Dengan bersikap seperti itu, maka kesucian pikirannya akan menjadi terganggu dan ini menyebabkan sirnanya ketenangan dan ketentraman sehingga akan sulit baginya untuk menuju kejalan Tuhan.
Ø Contoh-contoh pelaksanaan ajaran Prasada, misalnya:
a.     Jujur dan tulus pada setiap tindakan untuk memupuk dan menumbuhkan kesucian hati,
b.    Berpikir jernih, cermat dan masuk akal jangan mengembangkan pikiran buruk atau berburuk sangka (negatif thinking) kepada orang lain
c.     Rajin sembahyang
d.    Jujur dan setia terhadap setiap tindakan
e.     Berbuat yang iklas tanpa pamerih
f.     Jagalah pikiran kita agar tetap jernih dan suci. Hindarikan pikiran dari hal-kal kotor dan bodoh, karena pikiran yang diliputi oleh niat yang kotor dan bodoh menyebabkan manusia lebih rendah dari binatang, dan lain-lain.
9.    Madhurya
Madhurya berasal dari kata “Madhu” yang berarti manis. Manis disini berarti lemah lembut, tidak berkata keras apalagi kasar. Berbicara dengan siapa saja hendaknya selalu lemah lembut dan dengan tutur kata yang halus serta tidak sampai menyinggung apalagi menyakiti hati. Bersikap manis, ramah dan santun adalah sangat baik bagi umat hindu. Mereka hendaknya dapat mengendalikan diri untuk tidak bersikap kasar terhadap siapapun juga.
Ø Contoh-contoh pelaksanaan ajaran Madurya, seperti:
a.    Bersikap ramah tamah terhadap semua orang, menghindari sikap judes dan cuek
b.    Bersikap lemah lembut terhadap semua orang, menghindari sikap kasar, emosional dan mudah tersinggung
c.    Bersikap sopan santun terhadap siapa saja dan di manapun berada
d.   Selalu menjaga sikap santun ketika berhadapan dengan orang lain baik dengan teman sejawat, orang yang lebih tua, guru ataupun siapa saja
e.    Selalu berbicara yang sopan kepada lawan bicara,
f.     Menumbuhkan sikap saling menghormati dan menghargai terhadap orang lain
g.    Tidak memperlihatkan wajah masam, cemberut dan kusam.
10.     Mardawa
Mardawa berarti rendah hati, tidak suka menonjolkan diri dan tidak suka bersikap sombong. Rendah hati tidak berarti rendah diri, tetapi selalu bersikap merendah atau tidak mau menunjukan kemampuannya. Umat hindu memang harus berprilaku rendah hati, dan bersikap manis terhadap siapapun juga. Mereka yang bersikap kasar apalagi bertindak semaunya sendiri, tentunya akan dijauhi oleh warganya.
Ø Contoh-contoh pelaksanaan ajaran Mardawa, misalnya:
a.     Selalu ringan tangan suka membantu orang yang membutuhkan pertolongan
b.    Menghargai orang lain
c.     Menghormati orang lain
d.    Tidak mementingkan diri sendiri
e.     Peduli terhadap orang lain
f.     Bersikap empati terhadap penderitaan orang lain sehingga memiliki keinginan untuk memberi pertolongan
g.     Menyadari diri memiliki kelebihan dan kekurangan
h.    Menghindarkan diri dari perbuatan merendahkan harga diri orang lain
i.      Selalu bersikap sabar dan tidak membalas dendam
j.      Dapat menerima kelebihan dan kekurangan orang lain.

2.3  Dasa Niyama Brata
Dasa Niyama Brata berarti sepuluh cara pengendalian diri tingkat lanjutan, diantaranya:

1.    Dana
Dana artinya suka bersedekah, suka memberi bantuan kepada orang yang tidak mampu. Dengan memberikan sedekah berarti kita beryadnya atau berkorban. Yadnya, sedekah atau korban itu hendaknya tidak disertai dengan pamrih atau maksud-maksud tertentu. Umat hindu sepatutnya bersikap suka menolong, terutama kepada mereka yang sedang kekurangan atau sedang mengalami kesulitan. Dengan memberikan sedekah atau dana kepada orang miskin secara tulus dan iklas, tentu akan memberikan nilai lebih kepada mereka.
Ø Contoh-contoh pelaksanaan ajaran Dana, seperti:
a.     Membiasakan berderma kepada orang yang sedang menderita mengalami kesusahan dalam hidupnya
b.     Kekayaan berupa harta benda bersifat tidak kekal dan tidak dibawa mati, maka sisihkanlah sebagian harta kita untuk berderma/beramal
c.      Berikanlah sedekah kepada orang yang membutuhkan
d.     Lakukan sedekah pada waktu yang tepat, misalnya pada waktu orang kesusahan, pada waktu orang tertimpa bencana
e.      Berikanlah sedekah kepada orang miskin atau orang sakit
f.     Berikanlah sedekah kepada pengemis dengan ikhlas. Janganlah marah kepada pengemis, jangan mengusirnya dan janganlah mencela.
Ø Menurut Slokantara 17, pemberian sedekah atau dana menurut waktu pemberiannya ada 4 tingkatan, sebagai berikut:
a.    Dana yang diberikan di bulan Purnama dan bulan Mati (Tilem) menyebabkan 10 kali kebaikan yang diterima
b.     Dana yang diberikan pada bulan Gerhana membawa phahala (100) seratus kali
c.    Dana yang diberikan pada hari suci Sraddha menjadi 1000 kali lipat
d.   Sedekah/Dana yang diberikan diakhir Yuga phahala kebaikannya akan tidak terbatas.
Ø Menurut Slokantara 21, pemberian sedekah atau dana menurut Tingkatannya ada 4 21, sebagai berikut:
a.    Pemberian berupa makanan itu mutunya kecil, disebut Kanista Dana
b.    Pemebrian berupa Uang/pakaian mutunya menengah, disebut Madyama Dana
c.    Pemberian berupa gadis itulah yang dianggap tinggi, disebut Utama Dana
d.   Pemberian sedekah/dana berupa Ilmu Pengetahuan itu mengatasi semuanya dan membawakan kebajikan besar, disebut Ananta Dana.
2.    Ijya
Ijya berarti kebiasaab untuk selalu bersyukur dan memuja keagungan dan kebesaran Tuhan. Puji syukur perlu disampaikan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena kita sesungguhnya berhutang nyawa kepada-Nya. Semua yang kita miliki adalah juga karena berkat dan berkah-Nya. Puji syukur dan terima kasih disanpaikan karena segala sesuatu yang ada dijagat raya ini adalah ciptaan-Nya.
Ø Contoh-contoh pelaksanaan ajaran Ijya, seperti:
a.       Rajin melakukan Tri Sandya setiap hari ( pagi, siang, sore )
b.      Rajin berdoa setiap saat
c.       Rajin melakukan persembahyangan pada hari raya
d.      Rajin melakukan meditasi dan berjapa dan sebagainya.
3.    Tapa
Tapa artinya menjauhkan diri dari kesenangan duniawi. Dengan melaksanakan tapa kita bermaksud untuk memutuskan hubungan dengan kebiasaan hidup duniawi, mengurangi kesenangan-kesenangan jasmani. Bisa juga mengurangi makan, mengurangi tidur, mengurangi kata-kata, mengurangi menikmati kesenangan. Dalam hal ini kita harus mampu mengendalikan diri, mampu menekan keinginan untuk tidak menikmati kesenangan duniawi itu. Umat hindu hendaknya berusaha mengurangi atau menghindarkan diri dari kesenangan duniawi. Dengan pengendalian diri yang baik, mereka akan dapat mengurangi atau menghapuskan kebiasaan buruknya, sehingga dapat mencapai ketenangan dan ketentraman batin yang sangat dibutuhkan baginya untuk melaksanakan tugas-tugasnya.
Ø Contoh-contoh pelaksanaan ajaran Tapa, seperti:
a.    Berlatih diri mengendalikan pikiran seperti berusaha untuk berpikir jernih, berpikir yang baik agar tahan uji terhadap masalah yang mengganggu pikiran
b.    Berlatih mengendalikan keinginan, misalnya memenuhi keinginan sesuai kebutuhan, memenuhi keinginan sesuai kemampuan, menghindari keinginan yang menimbulkan kerugian baik bagi diri sendiri maupun orang lain agar tahan uji terhadap pengaruh buruk keinginan itu
c.    Berlatih hidup sederhana agar tahan uji terhadap penderitaan
d.   Berlatih mengendalikan perkataan agar tahan uji untuk tidak berkata yang menyakitkan misalnya berkata kasar, mengancam, menghardik, dan mengeluarkan kata-kata ejekan dan hinaan
e.    Berlatih mengendalikan perbuatan, misalnya tidak melakukan perbuatan curang, mencuri, suka berkelahi, suka memancing keributan, suka berbuat onar.
4.    Dhyana
Dhyana berasal dari kata “Dhi” yang berarti pikiran. Dhyana  berarti memusatkan pikiran atau berkonsentrasi. Dengan Dhyana maka pikiran harus bulat-bulat hanya tertuju pada Tuhan. Dengan memusatkan pikiran, maka umat hindu akan dapat mengendalikan pikirannya agar tidak melanglang buana kesana kemari. Dengan demikian ketenangan dan ketentraman pikiran akan mudah dicapai.dhyana juga diartikan sama dengan meditasi, dimana meditasi adalah mengheningkap cipta, membersihkan pikiran dan mengarahkan pikiran hanya tertuju kepada Tuhan.
Ø Contoh-contoh pelaksanaan ajaran Dhyana, seperti:
a.       Saat belajar di kelas perlu memusatkan pikiran tentang pelajaran yang sedang diajarkan
b.      Memusatkan pikiran pada saat mengendarai sepeda motor/mobil
c.       Berlatih melakukan pemusatan pikiran dengan melakukan Pranayama
d.       Berlatih melakukan pemusatan pikiran dengan sembahyang
e.        Berlatih melakukan pemusatan pikiran kepada Ida Sang Hyang Widhi dengan meakukan yoga, tapa dan semadi, dan sebagainya.
5.    Swadhyaya
Swadhyaya berasal dari dua suku kata yaitu “Swa” yang berarti sendiri dan “Adhyaya: yang berarti berguru. Dengan demikian swadhyaya berarti berguru sendiri, dengan kata lain belajar sendiri. Setiap orang mestinya berusaha balajar sendiri. Belajar sendiri dari pengalaman adalah guru yang terbaik. Umat hindupun hendaknya selalu berusaha belajar sendiri.
Ø Contoh-contoh pelaksanaan ajaran Swadhyaya, seperti:
a.     Tekun belajar jangan cepat putus asa
b.    Berusaha belajar secara mandiri artinya belajar tanpa diperintah dan belajar menemukan jawaban sendiri
c.      Jangan malu bertanya kepada orang lain tentang suatu masalah yang tidak dimengerti atau tidak diketahui
d.    Rajin membaca buku kerohanian dan buku-buku lain yang berguna dalam kehidupan
e.     Mengamalkan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
6.    Upasthanigraha
Upasthanigraha artinya menguasai nafsu, khususnya nafsu birahi. Kebiasaan mengikuti nafsu seksual adalah tidak baik, sebab orang mudah sekali jatuh atau terjerumus kedalam lembah penderitaan. Orang yang tidak dapat menguasai nafsunya, biasanya mudah berbuat onar, atau berbuat keributan. Umat hindu hendaknya dapat menguasai nafsu seksualnya, dapat mengendalikan dirinya untuk tidak melibatkan diri dalam perselingkuhan dan lain-lain kegiatan yang sejenis yang dapat menurunkan derajat dan harga dirinya.
Ø Contoh-contoh pelaksanaan ajaran Upasthanigraha, misalnya:
a.    Menghindari berduaan dengan lawan jenis di tempat yang sepi
b.    Menghindari berpakaian yang ketat atau seksi bahkan berpakaian yang merangsang
c.    Mengindarkan diri dari pikiran kosong agar tidak berpeluang menghayal terhadap hal-hal yang porno
d.   Tidak menonton tayangan televisi yang menyiarkan film-film Dewasa
e.    Tidak membuka HP yang berisi film-film porno
f.     Hindari membaca komik atau menonton VCD Porno
g.    Sibukkanlah diri dengan kegiatan-kegiatan positif, seperti olahraga, kursus, ekstra kulikuler, belajar menari, Pramuka, megambel
h.    Menghindari berprilaku genit terhadap lawan jenis
7.    Brata
Brata berarti melakukan pantangan yaitu tidak melakukan sesuatu yang biasanya dilaksanakan (berpantangan). Misalnya tidak makan, tidak minum, tidak berbicara, tidak tidur pada waktu-waktu tertentu. Pantangan ini dapat berupa berbagai hal. Umat hindu dapat saja berpantang untuk tidak makan daging sapi, untuk tidak berbicara yang kotor, untuk tidak berbuat yang merugikan orang lain dan sebagainya. Pada hakekatnya brata merupakan pengendalian diri untuk tidak berbuat sesuatu yang tidak baik atau merugikan dirinya sendiri atau orang lain.
Ø Contoh-contoh pelaksanaan ajaran Brata, seperti:
a.    Berjanjilah dari lubuk hati yang paling dalam
b.    Taatilah apa yang menjadi janjimu, seperti; saya ingin menjadi orang yang berguna, saya ingin menjadi orang yang berbakti kepada orang tua, saya ingin menjadi orang yang berguna dalam keluarga
c.    Janji dalam hati bukan untuk diingkari tetapi untuk ditaati
8.    Upawasa
Upawasa berarti berpuasa yakni tidak makan dan tidak minum pada waktu-waktu tertentu. Tujuannya adalah untuk menyucikan atau meningkatkan kesucian diri. Disamping itu juga dipergunakan sebagai sarana untuk menebus dosa. Puasa juga dapat dipergunakan untuk meningkatkan derajat kesehatan. Karena itu umat hindu hendaknya rbicara. Maksudnya juga dapat melaksanakan puasa, yaitu tidak makan dan minum atau tidak melakukan perbuatan tertentu. Puasa pada dasarnya adalah pengendalian diri, pengekangan keinginan atau hawa nafsu agar dapat diperoleh pikiran yang bersih, jernih dan suci.
Ø Contoh-contoh pelaksanaan ajaran Upawasa, misalnya:
a.    Hindari memakan makanan yang berlebihan karena nafsu belaka
b.    Hindarkan diri untuk memakan makanan yang sudah basi atau kedaluwasa
c.    Hindari makan makanan yang kotor
d.    Hindari memakan makanan yang tidak jelas asal usulnya
e.    Aturlah jadwal makan, misalnya makan teratur yaitu sarapan pagi, makan siang dan makan sore secara teratus
f.     Mengendalikan nafsu makan, misalnya makanlah secukupnya sesuai kebutuhan tubuh, jangan makan yang berlebihan
g.    Menghindari sikap rakus
h.    Mencoba untuk berpuasa pada hari Raya Nyepi, Siwaratri atau pada hari Raya Hindu sesuai kemampuan.
9.    Mona
Mona artinya tidak mengucapkan kata-kata atau tidak berbicara. Mona brata ini biasanya dilakukan pada saat orang melaksanakan samadhi. Mona brata dapat memperkuat kepribadian seseorang. Orang lalu menjadi tidak gampang ngomong sembarangan, tidak mudah berbicara dengan kata-kata yang kotor. Mona adalah pengendalian diri untuk tidak bebicara. Maksudnya adalah untuk menahan diri, tidak mengeluarkan kata-kata sepatahpun, sehingga akan lebih mudah memusatkan pikiran untuk terciptanya kedamaian dan ketenangan batin, hanya dengan kedamaian dan ketenangan itulah orang akan lebih mudah menghubungkan dirinya dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Ø Contoh-contoh pelaksanaan ajaran Mona, seperti:
a.     Hindari berkata kasar
b.    Hindari perkataan mencaci maki
c.     Hindari perkataan bohong
d.    Hindari mengeluarkan tata-kata hinaan maupun ejekan
e.      Jangan mengeluarkan perkataan mengancam
f.     Hindarkan diri untuk tidak berkata yang kotor dan jorok
g.    Belajar melakukan mona brata pada hari Raya Nyepi sesuai kemampuan.
10.    Snana
Snana artinya mandi, penyucian atau pembersihan diri. Dengan mandi badan akan menjadi bersih. Snana juga berarti pembersihan diri agar tidak kotor rokhaninya. Dengan badan yang bersih, pakaian yang bersih, rokhanipun akan menjadi suci. Dengan pikiran dan rokhani yang bersih dan suci, maka pintu gerbang menuju Ida Sang Hyang Widhi akan terbuka semakin lebar.
Ø Contoh-contoh pelaksanaan ajaran Snana, misalnya:
a.     Rajin mandi 2 kali sehari yaitu pagi hari sebelum sekolah dan sore hari
b.    Rajin merawat badan, misalnya: memotong rambut yang panjang, memotong kuku, menyikat gigi, mencuci pakaian sendiri, mandi dengan menggunakan air bersih dan memakai sabun
c.     Rajin sembahyang baik di sekolah dengan Tri Sandya dan di rumah di sore hari melaksanakan Tri Sandya dan Kramaning Sembah
d.    Rajin melakukan Pranayama untuk menyucikan pikiran
e.     Jujur dalam hidup.

BAB III
PENUTUP

3.1  Simpulan
            Dari pembahasan yang telah penulis uraikan dalam makalah ini, dapat ditarik beberapa simpulan, antara lain:
1.      Dasa Yama Brata merupakan sepuluh macam pengendalian diri tingkat dasar untuk mencapai kesempurnaan hidup, sedangkan Dasa Nyama Brata merupakan sepuluh cara pengendalian diri tingkat lanjutan pada aspek rohani.
2.      Bagian dari Dasa Yama Brata antara lain: Anrsamsa artinya tidak kejam, Ksama artinya pemaaf, Satya artinya menjaga kebenaran, kesetiaan dan kejujuran, Ahimsa artinya tidak menyakiti atau membunuh, Dama artinya mengendalikan hawa nafsu, Arjawa artinya tetap pendirian, Priti artinya welas kasih, Prasada artinya berpikir jernih dan suci, Madhurya artinya ramah tamah, Mardawa artinya lemah lembut. Sedangkan pembagian dari Dasa Niyama Brata antara lain: Dana artinya suka memberi sedekah, Ijya artinya senang memuja dan memuji Tuhan, Tapa artinya berusaha menghindarkan keduniawan, Dhyana artinya pemusatan pikiran, Swadhyaya artinya belajar sendiri, Upasthanigraha artinya pengendalian hawa nafsu, Brata artinya pelaksanaan pantangan, Upawasa artinya puasa, Mona artinya tidak berbicara, dan Snana artinya pembersihan diri.

DAFTAR PUSTAKA

Suhardana, K.M.2007.Yama Niyama Brata. Surabaya: Paramita

http://santidiwyarthi.blogspot.com/2011/02/dasa-yama-brata.html

PERJALANAN DANGHYANG DWIJENDRA

             Mengenai perjalanan Danghyang Dwijendra yang tertuang dalam postingan ini merupakan salah satu tugas Study Acara Hindu yang saya buat dengan mengambl sumber dari buku dan juga beberapa tambahan dari dunia maya, dan pada kesempatan ini saya ingin berbagi kepada sahabat semua, semoga dengan postingan ini pemahaman sahabat akan semakin bertambah. Selamat Membaca!!!!

Pada akhir abad ke-15, kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan. Selain disebabkan karena faktor dari dalam, yaitu perang saudara (Perang Paregreg) untuk menjadi penguasa di Majapahit, faktor dari luar juga menjadi penyebab keruntuhan salah satu kerajaan Hindu terbesar ini, yakni serangan dari Kerajaan Demak yang beragama Islam. Akibat dari hal tersebut, agama Hindu akhirnya surut oleh pengaruh agama Islam, dimana penduduk di Majapahit dan sekitarnya serta pulau Jawa pada umumnya akhirnya beralih keyakinan ke Agama Islam. Orang-orang Majapahit yang tidak mau beralih agama dari Hindu ke Islam akhirnya memilih meninggalkan Majapahit. Mereka memilih tinggal di daerah Pasuruan, Blambangan, Banyuwangi, dimana sebagian besar masyarakatnya masih memeluk agama Hindu. Selain itu beberapa diantara mereka bahkan menetap di daerah pegunungan, seperti: Pegunungan Tengger, Bromo, Kelud, Gunung Raung (Semeru). Sedangkan beberapa dari mereka yang masih tergolong arya dan para rohaniawan memilih untuk pergi ke Bali, hal itu disebabkan karena saat itu di Bali pengaruh Agama Hindu masih sangat kuat. Oleh karena itu mereka mencari perlindungan di Bali, selain untuk melarikan diri dari Majapahit dan pengaruh Islam di Jawa.
Salah seorang dari rohaniawan tersebut adalah Danghyang Nirartha atau Danghyang Dwijendra. Danghyang Nirartha datang ke Bali pada tahun 1489 M, pada masa pemerintahan Raja Sri Dalem Waturenggong. Danghyang Nirartha datang ke Bali dalam rangka dharmayatra, akan tetapi dharmayatranya tidak akan pernah kembali lagi ke Jawa. Karena di Jawa (Majapahit) Agama Hindu sudah terdesak oleh Agama Islam. Namun kendatipun demikian, ternyata Danghyang Nirartha juga mempelajari agama Islam, bahkan Beliau menguasai Agama Islam, tetapi keislamannya tidak sempurna. Ini terbukti dari pengikut – pengikutnya, yaitu orang – orang Sasak di Pulau Lombok yang mempelajari Islam dengan sebutan Islam Wetu Telu (Islam Tiga Waktu). Namun Terlepas dari hal tersebut, Danghyang Nirartha adalah penganut Agama Hindu yang sempurna. Seperti para leluhurnya, Danghyang Nirartha memeluk Agama Siwa, yang lebih condong ke Tantrayana. Agama Siwa yang diajarkan oleh Danghyang Nirartha adalah Siwa Sidhanta, dengan menempatkan Tri Purusa, yaitu Paramasiwa, Sadasiwa, dan Siwa. Dari tiga aspek ini Sadasiwalah yang diagungkannya.
Perlu juga untuk diketahui bahwa perubahan nama Danghyang Nirartha menjadi Danghyang Dwijendra terjadi setelah beliau berguru dan didiksa oleh mertuanya, yaitu Danghyang Panawasikan. Setelahnya Danghyang Nirartha dianugerahi bhiseka kawikon dengan nama Danghyang Dwijendra. Danghyang Dwijendra sendiri merupakan putra dari Danghyang Asmaranata, yang merupakan tokoh rohaniawan Majapahit. Dalam perjalanan Dharma Yatranya ke Bali, beliau pertama kali menginjakkan kakinya di pinggiran pantai barat daya daerah Jembrana untuk sejenak beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan dharmayatra. Di tempat inilah Danghyang Dwijendra meninggalkan pemutik (ada juga menyebut pengutik) dengan tangkai (pati) kayu ancak. Pati kayu ancak itu ternyata hidup dan tumbuh subur menjadi pohon ancak. Sampai sekarang daun kayu ancak dipergunakan sebagai kelengkapan banten di Bali. Sebagai peringatan dan penghormatan terhadap beliau, dibangunlah sebuah pura yang diberi nama Purancak.
Danghyang Dwijendra menjadi pembaharu Agama Hindu di Bali. Danghyang Dwijendra merupakan pencipta arsitektur padmasana untuk kuil Hindu di Bali. Kuil-kuil ini dianggap oleh para pengikut sebagai penjelmaan dari Shiva yang agung. Semasa perjalanan Danghyang Dwijendra, jumlah kuil-kuil di pesisir pantai di Bali bertambah dengan adanya kuil padmasana. Pada waktu melakukan Dharmayatra ke Bali dari Daha, Jawa Timur. Danghyang Dwijendra banyak mendirikan Pura-Pura terutama di daerah selatan pulau Bali, seperti Pura Rambut siwi, Pura Melanting, Pura Er Jeruk, Pura Petitenget dan lain-lain. Pura-pura yang didirikan oleh Danghyang Dwijendra ini dikenal dengan Pura Dang Kahyangan. Selain di Bali, Danghyang Dwijendra juga melakukan dharmayatra ke Lombok dan Sumbawa. Bahkan di Sumbawa Danghyang Dwijendra dikenal dengan sebutan Tuan Semeru. Sedangkan di Lombok dikenal dengan sebutan Haji Duta Semu, dan di Bali Danghyang Dwijendra dikenal dengan sebutan Pedanda Sakti Wawu Rawuh.
Terkait dengan keberadaan Danghyang Dwijendra di Jembrana diceritakan bahwa saking aktifnya beliau melakukan dharma keagamaan, perhatian beliau pada putra/putri dan istrinya berkurang, alhasil sesuai dengan intuisi/naluri seorang rsi, istri dan putra/putrinya meninggalkan rumah tanpa memberitahu. Danghyang Dwijendrapun mencari anggota keluarganya, alhasil sang rsi menemukan istri dan putra-putrinya dalam keadaan ketakutan tanpa, kecuali putrinya Dyah Swabawa. Sang rsipun mencari putrinya dengan mengikuti sepanjang aliran Tukad Aya ke arah hulu. Beliau akhirnya sampai di wilayah puncak gunung Merbuk di utara dan hingga akhirnya beliau sampai pada sebuah pura tua, yaitu pura Pulaki yang berlokasi tepat di pinggir karang padas yang menjorok ke laut. Sang rsi akhirnya mendapatkan sang putri dalam kondisi mengenaskan, karena ada penduduk desa Pegumetan yang mengganggu sang putri dengan cara yang tidak senonoh. Danghyang Dwijendra lalu menghukum orang-orang Pegumetan yang lancang itu dengan kutukan agar mereka menjadi wong gamang dan kemudian menjadi pelayan dan pengikut Dyah Swabawa yang kemudian disthanakan dan dihormati disana sebagai orang suci. Satu hal mendasar pula yang perlu diperhatikan, bahwa keberadaan Danghyang Dwijendra di Jembrana adalah untuk menyadarkan I Gusti Ngurah Rangsasa yang merupakan pemimpin sekte Bhairawa di Jembarana yang terkenal kemampuannya pada saat itu.
Di lain kisah, diceritakan tentang bagaimana asal-usul Danghyang Dwijendra dikenal sebagai Pedanda Sakti Wawu Rauh di Bali. Cerita berawal ketika sang Rsi bersama keluarganya sampai di sebuah desa yang bernama Gading Wangi, penduduk disana kurus-kurus, pucat dan penyakitan karena sedang dijangkit epidemi, atau gangguan kulit. Ketika pertama kali melihat sang rsi mereka pada bertanya “Wawu Rauh?” dan kata itu berulang-ulang terucap dari bibir penduduk. Sang rsi sangat terharu dan dalam benaknya hanya berpikir bagaimana menyembuhkan penduduk desa, dan akhirnya beliau mengambil air bersih dari sumber mata air, lalu dimantrai dan selanjutnya diberikan pada penduduk desa. Keajaiban terjadi, beberapa hari berselang para penduduk desa sembuh dari penyakitnya, dan dari kejadian itu penduduk desa memanggil sang Rsi Pedanda Sakti Wawu Rauh.
Setelah meninggalkan desa Gading Wangi, sang rsi melanjutnya yatranya menuju Tabanan hingga sampai di Gunung Batukaru, yang mana disana terdapat Pura Batukaru. Namun tujuan beliau bukan disana, melainkan menuju desa Mas sebelum ke pusat kota Gelgel. Namun setelah perjalanan dari Tabanan, sang Rsi terlebih dahulu sampai di Tuban, dan keberadaan beliau di Tuban sampai ke telinga penguasa Badung Arya Tegeh Kori, Tegeh Kori sangat ingin berjumpa dengan sang Rsi. Akhirnya sang Rsi dijemput ke Tuban dan menawarkan agar sudi singgah di purinya di Badung.  Dalam perjalanan, Tegeh Kori mengiringi sang wiku menyaksikan banjir di desa Buagan, dan penduduk yang mengetahui kehadiran sang wiku mohon bantuan agar sang wiku dengan kekuatan gaibnya menjinakkan banjir itu. Sang Rsi memberikan sepotong kayu yang telah dirajah, dan akhirnya banjir manjadi cepat surut.
Setelah meninggalkan Puri Badung, sang Rsi melanjutkan perjalanan ke timur hingga sampai di desa Mas, yang mana kehadirannya telah lama dinanti-nanti oleh Pangeran Mas. Disinilah Danghyang Dwijendra meneta. Dari sinipun Danghyang Dwijendra menikahi anak bendesa Mas. Dari pernikahan ini Danghyang Nirartha memiliki putra: Ida Timbul, Ida Alngkajeng, Ida Penarukan, dan Ida Sigaran. Ada dua Bhisama dari Danghyang Dwijendra kepada seluruh keturunannya, yaitu:
1.      Seluruh keturunannya tidak diperkenankan menyembah pratima (arca – arca  perwujudan).
2.      Seluruh keturunanya tidak diperkenankan sembahyang di Pura yang tidak memakai atau tidak ada pelinggih Padmasana.
Dalam hal keyakinan (Agama Hindu) dapat dilihat peninggalannya berupa padmasana. Walaupun dalam Bhisamanya Danghyang Dwijendra melarang semua keturunanya menyembah pratima (arca – arca perwujudan), namun Danghyang Dwijendra mengagungkan Sadasiwa, sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa, yang Maha Segalanya dan hampir di semua pura di Bali saat ini terdapat pelinggih padmasana untuk mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa.
Kembali mengenai keberadaan sang wiku di desa Mas, Dalem Watu Renggong yang merupakan raja Gelgel mengutus Dauh Bale Agung untuk menjemput sang wiku, sesampainya di Mas, Dauh Bale Agung menemui sang wiku dan berbicara panjang lebar. Saking keasyikan bercerita dan menerima pencerahan dua hari dua malam telah berlalu dan ia baru teringat dengan perintah sang raja. Namun dalam benaknya ia berpikir apa boleh buat, kesempatan seperti ini hanya sekali seumur hidup dan ia sudah siap akan resiko yang akan diterima. Akhirnya keesokan harinya barulah Danghyang Dwijendra ditemani rombongan Dauh Bale Agung (dikenal juga dengan Gusti Penyarikan) berangkat menuju Gelgel. Rombongan sampai di ibukota Kerajaan, namun sayang Dalem tidak ada ditempat, Dalem kesal karena lama menunggu dan memutuskan pergi berburu ikan di Teluk Padang (Padang Bai) tempat dimana pesanggrahan Silayukti milik Mpu Kuturan. Sang Rsi dimohon langsung bergerak kesana, akhirnya sang Rsi sampai di Teluk Padang pada petang hari serta memutuskn bermalam bersama setelah bertemu Dalem. Banyak ajaran diberikan oleh sang wiku kepada Dalem beserta iringan, dan esoknya mereka kembali ke Gelgel. Hari demi hari berlalu, sang wiku berhasil menjadikan Dalem Watu Renggong muridnya, serta sikap Dalem yang keras berhasil diubah menjadi lebih bijaksana dan Dalem sendiri meminta agar didiksa oleh sang Rsi.
Setelah Dalem menjadi seorang raja Pandita, masalah-masalah dalam kerajaan Gelgel masih terus menunggu dan mengganggu. Masalah politik yang paling mengganggu adalah masalah dengan rivalnya di timur, yaitu Kerajaan Lombok. Penguasa Lombok yang merasa  agak kuat membiarkan pelaut-pelautnya mengganggu pelayaran di selat Lombok dan mulai berani mengganggu pemukiman nelayan Bali. Dan diluar dugaan ternyata Danghyang Dwijendra memohon diri agar dijadikan utusan untuk menyadarkan Sri Krahengan penguasa Lombok yang mulai berulah itu.
Maharsi Markandeya berangkat ke Lombok dari Pantai Kusamba dengan pengawalan perahu yang diberikan raja Gelgel. Di Lombok sang wiku bertemu dengan raja Krahengan dan segera melakukan perbincangan politik, namun apa daya usaha sang wiku sia-sia dan beliau segera balik ke Bali, dalam perjalanan ke Bali beliau selalu berpikir akan kegagalan yang telah diterima dan dalam benaknya mulai ada timbul ada keinginan untuk meninggalkan urusan keduniawian untuk menjadi seorang Sanyasin dan mengulang kembali perjalanannya dari barat ke timur menjadi perjalanan spiritual. Sesampainya di kerajaan Gelgel sang wiku menyampaikan kegagalan misinya ke Lombok dan memohon izin untuk undur diri dari urusan kerajaan serta berkehendak untuk mengulangi perjalanannya dari barat ke timur.
Dalem sebagai raja Gelgel mengizinkan keinginan sang wiku, dan beliau diantar ke Jembrana, perjalanan spiritual beliau dimulai dari tempat yang dekat dengan Purancak yang mana disana sudah ada Pura, dan beliau disambut oleh seorang Pemangku yang menyarankan agar beliau selalu menyembah perhyangan yang ada untuk keselamatan. Sang wiku mendengar dengan sabar, lalu beliau bertapa, yoga semadhi disana. Sesaat keajaiban terjadi, baru sang rsi beryoga bangunan yang disuruh memuja runtuh dan membuat pemangku ketakutan lalu menyembah maharsi Markandeya. Pemangku memohon agar pura itu diperbaiki sehingga ada tempat sembahyang, sang wiku memperbaiki pura itu lalu memberikan sehelai rambutnya pada pemangku untuk disimpan dan dijunjung di atas bangunan itu, dan sejak itu pura tersebut disebut pura Rambut Siwi.
Lepas dari Rambut Siwi sang wiku melanjutkan perjalanan ke Timur hingga tiba pada suatu tonjolan batu karang yang ditumbuhi pohon-pohonan., tonjolan itu adalah tanjung yang menjorok ke laut dan bagian tangahnya menyempit. Sang Wiku tertarik dengan tempat ini, lalu bergerak menuju ke ujung tanjung diikuti beberapa nelayan disana. Baru sampai hingga malam hari sang wiku bersama para nelayan tetap disana, para nelayan kemudian diberikan siraman rohani dan dinasihati untuk membangun perhyangin di tempat itu agar para nelayan mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran dalam usahanya.  Beberapa hari selama sang Rsi disana tempat itu selalu menjadi tempat berkumpul para nelayan menerima berbagai wejangan, dan tempat itu kini menjadi Pura Tanah Lot di Tabanan.
Beranjak dari Pura Tanah Lot, sang Rsi melanjutkan perjalanannya menyisir pantai ke timur, hingga akhirnya beliau sampai di sebuah ujung tonjolan dengan tangga berbatu berbentuk cascade yang dapat dipanjatnya dengan mudah sehingga beliau mencapai bgian atas batu itu. Penduduk menyebut tempat ini Ulu Watu (Pangkalan batu). Di tempat ini sang wiku merenungi mengenai perjalanan yang sudah dilalui dan juga berpikir mengenai leluhurnya dari negeri Hindustan, belaiau juga bermeditasi disana sehingga nuansa spiritual tampat itu semakin meningkat, dan di tempat itu kini berdiri pura Ulu Watu. Beliau terus melakukan perjalanan ke timur menyisir pantai selatan, kemudian beliau melakukan semadhi di suatu tempat yang memiliki vibrasi bagus, dan sekarang tempat itu menjadi pura Goa Lawah. Dari tempat ini sang wiku melanjutkan perjalanan dan beliau berhenti kembali di suatu tempat yang bernama Samprangan dekat aliran sungai Sangsang, sebelum Tulikup. Selepas dari sana sang Rsi bergerak ke utara hingga penapakan beliau sampai pada Besakih-Penulisan-Ponjok Batu. Di Ponjok Batu sang wiku menemukan beberapa nelayan yang memerlukan bantuan beliau, para nelayan itu adalah pelaut-pelaut Lombok yang telah terdampar beberapa hari dan keadaaannya sangat lemah.
Sang wiku merawat dan memberikan nasihat untuk memulihkan semangat para pelaut itu. Akhirnya para pelaut sembuh, dan mereka amat berterimakasih kepada sang rsi. Mereka pun dengan senang hati menerima permintaan sang rsi untuk ikut berlayar ke Lombok. Sang Rsi pertama kali menginjakkan kakinya di daerah Malimbu, kemudian melanjutkan perjalanan menyisir pantai hingga sampai di pura Kaprusan sekarang. Diceritakan disana yang masih hanya berupa tumpukan batu beliau bermeditasi, dan untuk membuat petapakan beliau lalu masyarakat disana membangun pura yang dinamai Pura Kaprusan (nama kaprusan berasal dari kata “kaprus”, yaitu suara air laut yang dipecah karang). Kemudian beliau melanjutkan perjalanan ke timur sampai di Batu Bolong, kemudian sampai di Batu Layar. Selepas dari sana sang wiku menuju arah tenggara dan sengaja menjauh dari ibu kota Sri Krahengan yaitu Cakranegara menuju Karang Medain, Lingsar dan Suranadi.
Di Lingsar, sang Rsi memberikan pelajaran-pelajaran agama kepada orang-orang sasak yang beragama Islam, para umat islam yang menerima pencerahan dari Danghyang Dwijendra adalah para kelompok Islam Wetu Telu dengan bangunan suci yang disebut Kemaliq. Sedangkan untuk di Suranadi berkat sang wiku, muncul empat sumber tirta yang disebut Catur Tirta, yaitu tirta penglukatan, tirta pembersihan, tirta pengentas dan toya racun. Selepas dari Suranadi, sang wiku bergerak ke timur menuju pantai timur Lombok dengan mengikuti busur yang bersebelahan dengan lereng gunung Rinjani yang meluas ke selatan. Keberadaan sang wiku di dengar oleh Sri Selaparang dan mengajak sang wiku secara paksa untuk bertamu ke kotanya, sang wiku menolak dengan halus dan untuk tidak mengecewakan Sri Selaparang sang wiku mengajaknya berdialog di tepi pantai Labuhan Haji. Sri Selaparang diberikan nasihat yang sangat menyejukkan kemudian pulang ke kotanya sementara sang wiku berlayar menuju Sumbawa.
Danghyang Dwijendra yang telah berusia 80 tahun setelah melaksanakan Dharmayatra di Pulau Lombok, memutuskan berlayar menuju Pulau Sumbawa menggunakan perahu, disertai nelayan Lombok yang pernah dibantu saat mereka terdampar di Ponjok Batu (di pantai/pura Ponjok Batu-sekarang) di Singaraja. Selanjutnya, beliau melewati Teluk Taliwang hingga berlabuh di Teluk Sumbawa. Kedatangan Danghyang Dwijendra disambut Kepala Desa dan tokoh masyarakat setempat yang kebetulan saat itu kehidupan masyarakat di sana sedang kesusahan, akibat gagal panen akibat diserang hama penyakit. Atas permohonan kepala desa itu, akhirnya Danghyang Dwijendra terpanggil membantu masyarakat petani dimaksud. Beliau lantas memerintahkan masyarakat setempat untuk mengisi sawah dan ladangnya dengan padupaan yang berisi api dan kemenyan. Dengan memohon kepada Tuhan dan Dewa yang berstana di Gunung Tambora, keesokan harinya tiba-tiba hama penyakit berupa ulat dan belalang itu lenyap tanpa bekas. Karenanya, sejak itu masyarakat memanggil beliau dengan sebutan Tuan Semeru.
Mencermati sejarah Dharmayatra beliau, ada dua motivasi Danghyang Dwijendra melaksanakan Dharmayatra ke Pulau Sumbawa yakni, karena rasa kekaguman dan kerinduan yang mendalam untuk melihat Gunung Tambora ke dalam rasa keagamaannya membayangkan bagaimana Siwa (Tuhan) menjejakkan kakinya saat membangun tiga dunia. Beliau merasa bahwa jejak Siwa yang paling timur adalah Gunung Tambora. Beliau berharap agama Hindu masih bisa dipertahankan keajegannya di daerah ini. Di samping itu,  adanya hasrat yang besar  untuk bertemu dengan kerabat leluhurnya  yang merupakan seorang Brahmana Siwa yang sebelumnya diutus dan ditugaskan Raja Majapahit (tahun 1344 Masehi) untuk menaklukkan raja-raja di Sumbawa. Setelah armada Majapahit  di bawah pimpinan  Mahasenopati Nala berhasil menaklukkan raja-raja yang ada di pulau Sumbawa. Danghyang Dwijendra berharap dapat bertemu dengan putra-putri beliau, atau setidaknya bisa bertemu dengan cucu seangkatannya. Setelah mendapat informasi dari penduduk Sumbawa, bahwa kerabatnya telah lama meninggal, Beliau pun melanjutkan perjalanan ke Gunung Tambora, masuk ke Teluk Saleh melewati celah antara pulau Sumbawa dan pulau Moyo dan akhirnya sampai di pelabuhan di lereng selatan Gunung Tambora.
Saat itu, Gunung Tambora yang puncaknya tampak perkasa sesekali mulai mengeluarkan asap dan lidah api. Di pelabuhan itu, beliau kemudian disambut penghulu kaya dan rajin. Penghulu itu ternyata telah lama mendengar kehebatan beliau, karenanya begitu bertemu dengan beliau, penghulu itu memelas agar bersedia membantu menyembuhkan anaknya yang telah lama menderita suatu penyakit dan sangat sulit disembuhkan serta berbagai upaya dan usaha telah dilakukan tetapi satu pun tidak berhasil. Selanjutnya Danghyang Dwijendra mencoba mengobati dengan segala kemampuannya. Akhirnya anak penghulu itu pun berhasil dibantu. Sebagai ungkapan terima kasih penghulu itu merelakan anaknya diajak ke Bali. Selama berada daerah ini, Danghyang Nirartha kerap melakukan payogan. Salah satunya adalah di sekitar lokasi Pura Agung Gunung Tambora dimaksud. Seperti halnya di tempat lain, di manapun beliau pernah beryoga, tempat itu selalu menjadi tersohor karena biasanya tempat dimaksud mampu memancarkan aura spiritual yang sangat tinggi. Tak heran jika sebagian besar jejak perjalanan beliau, kini dibangun sebuah tempat yang megah serta banyak umat yang datang memohon anugrah sekaligus tuntunan spiritual beliau, tak terkecuali di Pura Agung Gunung Tambora yang mampu memancarkan aura kesejukan, kedamaian, dan ketenangan serta spiritual yang sangat kuat dan tinggi.
Setelah mengadakan dharmayatra ke Pulau Lombok dan Sumbawa, Danghyang Dwijendra menuju barat daya ujung selatan Pulau Bali, yaitu pada daerah gersang, penuh batu yang disebut daerah bebukitan. Setelah beberapa saat tinggal di sana, beliau merasa mendapat panggilan dari Hyang Pencipta untuk segera kembali amoring acintia parama moksha. Di tempat inilah Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh teringat (icang eling) dengan samaya (janji) dirinya untuk kembali ke asal-Nya. Itulah sebabnya tempat kejadian ini disebut Cangeling dan lambat laun menjadi Cengiling sampai sekarang. Oleh karena itulah, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh ngulati (mencari) tempat yang dianggap aman dan tepat untuk melakukan parama moksha. Oleh karena dianggap tidak memenuhi syarat, beliau berpindah lagi ke lokasi lain. Di tempat ini, kemudian dibangun sebuah pura yang diberi nama Pura Kulat. Nama itu berasal dari kata ngulati. Pura itu berlokasi di Desa Pecatu.
Sambil berjalan untuk mendapatkan lokasi baru yang dianggap memenuhi syarat untuk parama moksha, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh sangat sedih dan menangis dalam batinnya. Mengapa? Oleh karena beliau merasa belum rela untuk meninggalkan dunia sekala ini karena swadharmanya belum dirasakan tuntas, yaitu menata kehidupan agama Hindu di daerah Lombok dan Sumbawa. Di tempat beliau mengangis ini, lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Ngis (asal dari kata tangis). Pura Ngis ini berlokasi di Banjar Tengah Desa Adat Pecatu.
Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh belum juga menemukan tempat yang dianggap tepat untuk parama moksha. Beliau kemudian tiba di sebuah tempat yang penuh batu-batu besar. Beliau merasa hanya sendirian. Di tempat ini, lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Batu Diyi. Juga di tempat ini Danghyang Dwijendra merasa kurang aman untuk parama moksha. Dengan perjalanan yang cukup melelahkan menahan lapar dan dahaga, akhirnya beliau tiba di daerah bebukitan yang selalu mendapat sinar matahari terik. Untuk memayungi diri, beliau mengambil sebidang daun kumbang dan berusaha mendapatkan sumber air minum. Setelah berkeliling tidak menemukan sumber air minum, akhirnya Danghyang Dwijendra menancapkan tongkatnya. Maka keluarlah air amertha. Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura yang disebut Pura Payung dengan sumber mata air yang dipergunakan sarana tirtha sampai sekarang.
Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh kemudian beranjak lagi ke lokasi lain, untuk menghibur diri sebelum melaksanakan detik-detik kembali ke asal. Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura bernama Pura Selonding yang berlokasi di Banjar Kangin Desa Adat Pecatu. Setelah puas menghibur diri, Danghyang Dwijendra merasa lelah. Maka beliau mencari tempat untuk istirahat. Saking lelahnya sampai-sampai beliau sirep (ketiduran). Di tempat ini lalu didirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Parerepan (parerepan artinya pasirepan, tempat penginapan) yang berlokasi di Desa Pecatu. Mendekati detik-detik akhir untuk parama moksha, Danghyang Dwijendra menyucikan diri dan mulat sarira terlebih dahulu. Di tempat ini sampai sekarang berdirilah sebuah pura yang disebut Pura Pangleburan yang berlokasi di Banjar Kauh Desa Adat Pecatu. Setelah menyucikan diri, beliau melanjutkan perjalanannya menuju lokasi ujung barat daya Pulau Bali. Tempat ini terdiri atas batu-batu tebing. Apabila diperhatikan dari bawah permukaan laut, kelihatan saling bertindih, berbentuk kepala bertengger di atas batu-batu tebing itu, dengan ketinggian antara 50-100 meter dari permukaan laut. Dengan demikian disebut Uluwatu. Ulu artinya kepala dan watu berarti batu.
Sebelum Danghyang Dwijendra parama moksha, beliau memanggil juragan perahu yang pernah membawanya dari Sumbawa ke Pulau Bali. Juragan perahu itu bernama Ki Pacek Nambangan Perahu. Sang Pandita minta tolong agar juragan perahu membawa pakaian dan tongkatnya kepada istri beliau yang keempat di Pasraman Griya Sakti Mas di Banjar Pule, Desa Mas, Ubud, Gianyar. Pakaian itu berupa jubah sutra berwarna hijau muda serta tongkat kayu. Setelah Ki Pacek Nambangan Perahu berangkat menuju Pasraman Danghyang Dwijendra di Mas, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh segera menuju sebuah batu besar di sebelah timur onggokan batu-batu bekas candi peninggalan Kerajaan Sri Wira Dalem Kesari. Di atas batu itulah, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh beryoga mengranasika, laksana keris lepas saking urangka, hilang tanpa bekas, amoring acintia parama moksha.



Bhagavad Gita V.10

Brahmany adhaya karmani sangam tyaktwa karoti yah,
Liptyate na sa papena padma-pattram iwambhasa.
Artinya:
Ia yang bekerja setelah melepaskan keterikatan serta mempersembahkan kegiatan kerjanya kepada Tuhan, tak akan tersentuh oleh dosa, bagaikan daun teratai yang tak terbasah oleh air.

Analisis:

            Sloka ini menjelaskan bahwa manusia yang tidak berdosa adalah manusia yang mau bekerja dengan tulus ikhlas sesuai dengan swadharma yang dimiliki tanpa mengikatkan diri pada hasil dari pekerjaan yang ditekuni. Tidak ada keinginan bekerja untuk memperkaya diri sendiri ataupun untuk mengumbar keinginan duniawi, melainkan ia bekerja sesuai dengan kemampuannya. Semana jauh batas kemampuan yang dimiliki sejauh itulah kerja yang akan dilaksanakan, karena prinsipnya ia bekerja untuk Tuhan. Kerja tanpa pamrih, selayaknya berkarma dan semata-mata untuk Tuhan, yang pada dasarnya dapat diuraikan menjadi sebuah tindakan untuk melepaskan keterikatan kepada keakuan yang terbatas seperti rasa suka dan bencinya dan memasrahkan segala kegiatan kepada Hyang Tunggal, demi memproleh kebahagiaan yang sesungguhnya. Dengan memasrahkan hasil kerja kepada Tuhan, manusia akan menjadi insan yang selalu bersyukur. Tidak ada keinginan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran Dharma, manusia yang demikian akan berjalan tanpa melewati batas-batas kekeliruan. Ia akan berjalan pada koridor yang tepat, yang menimbulkan kedamaian serta kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya. Ia akan bekerja pada hal yang disukai, yang akan membawa kepuasan sendiri padanya dirinya tanpa terlalu memperhitungkan apakah ia memproleh banyak atau sedikit keuntungan, karena kebahagiaan diproleh bukan dari jumlah keuntungan, tetapi dari kepuasan bathin.