Related Post:
A.
TEORI
TENTANG SUMBER KEJIWAAN AGAMA

Pada
dasarnya manusia ingin mengabdikan dirinya pada Tuhan atau sesuatu yang
dianggapnya sebagai zat yang mempunyai kekuasaan tertinggi. Keinginan itu
terdapat pada setiap kelompok, golongan atau masyarakat manusia dari yang
paling primitif hingga yang paling modern. Dari hal tersebut timbul pertanyaan,
apakah yang menjadi sumber pokok yang mendasarkan timbulnya keinginan untuk
mengabdikan diri pada Tuhan itu? Atau dengan kata lain, apakah yang menjadi
sumber kejiwaan agama itu?
Untuk
memberikan jawaban itu telah timbul beberapa teori antara lain:
1.
Teori Monostik: (Mono=Satu)
Teori ini
berpendapat bahwa yang menjadi sumber kejiwaan itu adalah satu sumber kejiwaan.
Selanjutnya sumber tunggal manakah yang paling dominan sebagai sumber kejiwaan
itu timbul beberapa pendapat, yaitu yang dikemukakan oleh:
a. Thomas
Van Aquino
Thomas mengemukakan bahwa yang menjadi sumber kejiwaan
itu ialah berpikir. Manusia bertuhan karena manusia menggunakan kemampuan
berpikirnya.
b. Fredrick
Hegel
Filosof jerman ini berpendapat agama adalah sesuatu
pengetahuan yang sungguh-sungguh benar dan tempat kebenaran abadi.
c. Fredrick
Schleimacher
Berlainan dengan pendapat kedua ahli di atas, maka
Schleimacher berpendapat bahwa yang menjadi sumber keagamaan itu adalah rasa
ketergantungan yang mutlak yang mana manusia selalu menggantungkan hidupnya
dengan suatu kekuasaan yang berada diluar dirinya berdasarkan rasa
ketergantungan itulah timbul konsep tentang Tuhan. Memang merasa tak berdaya
menghadapi tantangan alam yang selalu dialaminya, makanya mereka menggantungkan
harapannya pada suatu kekuasaan yang diyakini dapat melindungi mereka.
d. Rudolf
Otto
Menurut pendapat tokoh ini, sumber kejiwaan agama adalah
rasa kagum yang berasal dari The Wholly
Other (yang sama sekali lain). Jika seseorang dipengaruhi rasa kagum
terhadap sesuatu yang dianggap lain, maka keadaan mental seperti itu yang
dimaksudkan oleh Otto.
e. Sigmund
Freud
Pendapat S. Freud unsur kejiwaan yang menjadi sumber
kejiwaan agama ialah Libido Sexuil (naluri
seksual). Berdasarkan Libido ini
timbul ide tentang ketuhanan dan upacara keagamaan setelah melalui proses:
1) Oedipoes Complexi: Mitos Yunani Kuno
yang menceritakan bahwa karena perasaan cinta kepada ibunya, maka Oedipoes membunuh ayahnya.
2) Father Image (Citra Bapak): setelah
mereka membunuh ayah mereka dan dihantui oleh rasa bersalah, timbullah rasa
penyesalan. Perasaan itu menerbitkan ide untuk membuat suatu cara penebus
kesalahan. Timbullah keinginan untuk memuja arwah ayah yang mereka bunuh itu,
karena khawatir akan pembalasan arwah tersebut. Realisasi pemujaan itulah
menurut Freud agama muncul dari ilusi (khayalan) manusia.
f. William
Mc Dougall
Ia berpendapat bahwa insting khusus sebagai sumber agama
tidak ada, tetapi menurutnya sumber kejiwaan agama merupakan kumpulan dari
beberapa insting.
2.
Teori Fakulti (Fakulty Theory)
Teori ini
berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu tidak bersumber pada suatu faktor
yang tunggal tetapi terdiri atas beberapa unsur, antara lain yang dianggap
memegang peranan penting adalah: fungsi cipta (reason), rasa (emotion),
dan karsa (will). Demikian pula
perbuatan manusia yang bersifat keagamaan dipengaruhi dan ditentukan oleh tiga
fungsi tersebut.
a)
Cipta (reason)
Merupakan fungsi intelektual manusia.
b)
Rasa (emotion)
Suatu tenaga dalam jiwa manusia yang banyak berperan
dalam membentuk motivasi dalam corak tingkah laku seseorang.
c)
Karsa (will)
Merupakan fungsi eksekutif dalam jiwa manusia. Will
berfungsi mendorong timbulnya pelaksaan doktrin serta ajaran agama berdasarkan
fungsi keagamaan.
3.
Beberapa Pemuka Teori Fakulti
a. G.M
Straton
Straton mengemukakan teori “konflik”, ia mengatakan bahwa
yang menjadi sumber kejiwaan agama adalah adanya konflik dalam kejiwaan
manusia. Keadaan berlawanan, seperti: baik-buruk, moral-imoral, kepasifan-keaktifan,
rasa rendah diri-rasa harga diri menimbulkan pertentangan dalam diri manusia.
Jika konflik itu sudah demikian mencekam manusia dan mempengaruhi kejiwaannya,
maka manusia itu mencari pertolongan kepada suatu kekuasaan tertnggi (Tuhan)
seperti Sigmund Freud berpendapat bahwa dalam setiap organisasi terdapat dua
konflik kejiwaan yang mendasar, yaitu:
1) Life – urge : keinginan mempertahankan
kelangsungan hidup
2) Death – urge : keinginan untuk kembali
ke keadaan semula seperti benda mati.
b. Zakiah
Darajat
Dr. Zakiah Darajat berpendapat bahwa pada diri manusia
itu terdapat kebutuhan pokok. Beliau mengemukakan bahwa selain kebutuhan
jasmani dan rohani manusiapun mempunyai suatu kebutuhan akan keseimbangan dalam
kehidupan jiwanya agar tidak mengalamni tekanan. Unsur-unsur kebutuhan yang
dikemukakan itu yaitu:
1) Kebutuhan
akan kasih sayang
2) Kebutuhan
akan rasa aman
3) Kebutuhan
akan rasa harga diri
4) Kebutuhan
akan rasa bebas
5) Kebutuhan
akan rasa sukses
6) Kebutuhan
akan rasa ingin tahu (mengenal)
Menurut Dr.
Zakiah Darajat (1970), gabungan keenam macam kebutuhan tersebut menyebabkan
orang memeluk agama.
c. W.H.
Thomas
Melalui teori The
four Wishes-nya ia mengemukakan bahwa yang menjadi sumber-sumber kejiwaan
agama adalah empat macam keinginan dasar yang ada dalam jiwa manusia, yaitu:
1) Keinginan
untuk keselamatan
2) Keinginan
untuk mendapatkan penghargaan (recognation)
3) Keinginan
untuk ditanggapi
4) Keinginan
akan pengetahuan atau pengalaman baru.
Didasarkan pada
keempat keinginan dasar itulah pada umumnya manusia itu menganut agama menurut
W.H. Thomas. Melalui ajaran agama yang teratur, maka keempat keinginan dasar
itu akan tersalurkan. Dengan menyembah dan mengabdikan diri kepada Tuhan
keinginan untuk keselamatan akan terpenuhi.
B. TIMBULNYA
JIWA KEAGAMAAN PADA ANAK
Sesuai dengan
prinsip pertumbuhan maka anak menjadi dewasa memerlukan bimbingan sesuai dengan
prinsip yangng dimilikinya, yaitu:
1. Prinsip
Biologis
Secara fisik anak yang baru dilahirkan dalam keadaan
lemah. Dalam segala gerak dan tindak tanduknya ia selalu memerlukan bantuan dari
orang-orang dewasa di sekelilingnya. Dengan kata lain, ia belum dapat berdiri
sendiri karena manusia bukanlah merupakan makhluk instinkif. Keadaan tubuhnya
belum tumbuh secara sempurna untuk difungsikan secara maksimal.
2. Prinsip
Tanpa Daya
Sejalan dengan belum sempurnanya pertumbuhan fisik dan
psikisnya maka anak yang baru dilahirkan hingga menginjak usia dewasa selalu
mengharapkan bantuan dari orang tuanya. Ia sama sekali tidak berdaya untuk
mengurusi dirinya sendiri.
3. Prinsip
Eksplorasi
Kemantapan dan kesempurnaan perkembangan melalui pemeliharaan
dan latihan. Jasmanisnya baru akan berfungsi secara sempurna jika dipelihara
dan dilatih. Akal dan fungsi lainnya pun baru akan menjadi baik dan berfungsi
jika kematangan dan pemeliharaan serta bimbingan dapat diarahkan kepada
pengeksplorasian perkembangannya.
Adapun beberapa
teori mengenai pertumbuhan agama pada anak itu antara lain:
1. Rasa
ketergantungan (Sense of Depende)
Teori ini dikemukakan oleh Thomas melalui teori Four Wishes. Menurutnya manusia
dilahirkan ke dunia ini memiliki empat keinginan, yaitu: keinginan untuk
perlindungan (security), keinginan
untuk mendapatkan tanggapan (response)
dan keinginan akan pengalaman baru (new
experience) dan keinginan untuk dikenal (recognation). Berdasarkan kenyataan dan kerja sama dari keempat
keinginan itu, maka bayi sejak dilahirkan hidup dalam ketergantungan.
2. Instink
Keagamaan
Menurut Woodworth, bayi yang dilahirkan sudah memiliki
beberapa instink diantaranya: instink keagamaan. Belum terlihatnya tindak
keagamaan pada diri anak karena beberapa fungsi kejiwaan yang menopang
kematangan berfungsinya instink itu belum sempurna.
C. PERKEMBANGAN
KEAGAMAAN PADA ANAK
Menurut
peneitian Ernest Harms perkembangan
agama pada anak-anak itu melalui beberapa fase (tingkatan). Dalam bukunta The Development of Religious on Children ia
mengatakan bahwa perkembangan agama pada anak-anak itu melalui tiga tingkatan,
yaitu:
1. The Fairy tale stage (Tingkatan Dongeng)
Tingkatan ini
dimulai pada anak yang berusia 3-6 tahun. Pada anak tingkatan ini konsep
mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi.
2. The Realitic Stage (Tingkatan Kenyataan)
Tingkatan ini
dimulai sejak anak masuk Sekolah Dasar hingga ke usia (masa muda) adolesense. Pada masa ini ide ketuhanan
anak sudah mencerminkan konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan
(realis). Konsep ini timbul melalui lembaga-lembaga keagamaan dan pengajaran
agama dari orang dewasa lainnya. Pada masa ini ide keagamaan anak didasarkan
atas dorongan emosional, hingga mereka dapat melahirkan konsep Tuhan yang
formalis.
3. The Individual Stage (Tingkatan
Individu)
Pada tingkat ini
anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling tinggi sejalan dengan
perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang individualistis ini terbagi
atas tiga golongan, yaitu:
a. Konsep
ketuhanan yang konvensional dan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil
fantasi.
b. Konsep
ketuhanan yang lebih murn yang dinyatakan dalam pandangan yang bersifat
personal (perorangan)
c. Konsep
ketuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi etos humanis pada diri
mereka dalam menghayati ajaran agama.
D. SIFAT-SIFAT
AGAMA PADA ANAK-ANAK
Ide
keagamaan pada anak hampir sepenuhnya antoritarius,
maksudnya konsep keagamaan pada diri mereka dipengaruhi oleh faktor dari luar
diri mereka. Orang tua mempunyai pengaruh terhadap anak sesuai dengan prinsip
eksplorasi yang mereka miliki. Dengan demikian, ketaatan kepada ajaran agama
merupakan kebiasaan yang menjadi milik mereka yang dipelajari dari orang tua
maupun guru mereka. Berdasarkan hal itu, maka bentuk dan sifat agama pada diri
anak dapat dibagi atas:
1. Unreflective (Tidak Mendalam)
Dalam penelitian Machion tentang sejumlah konsep
ketuhanan pada diri anak, 73% dari mereka menganggap tuhan itu bersifat seperti
manusia. Kebenaran yang diterima tidak begitu mendalam sehingga cukup puas
dengan keterangan-keterangan yang terkadang kurang masuk akal.
2. Tingkat
Perkembangan
Anak memiliki kesadaran akan diri sendiri sejak tahun
pertama usia perkembangannya dan akan berkembang sejalan pertambahan
pengalamannya. Apabila kesadaran akan diri itu mulai subur pada diri anak, maka
akan tumbuh keraguan pada egonya. Semakin bertumbuh semakin meningkat pula
egoisnya. Sehubungan dengan hal itu maka dalam masalah keagamaan anak telah
menuntut konsep keagamaan yang mereka pandang dari kesenangan pribadinya.
3. Anthromorphis
Pada umumnya konsep ketuhanan pada anak berasal dari
hasil pengalamanya dimala ia berhubungan dengan orang lain. Tapi suatu
kenyataan bahwa konsep ketuhanan mereka tampak jelas menggambarkan aspek-aspek
kemanusiaan. Anak menganggap bahwa tuhan dapat melihat segala perbuatannya
langsung ke rumah-rumah mereka.
4.
Verbalis
dan Ritualis
Dari kenyataan yang kita alami ternyata kehidupan agama
pada anak-anak sebagian besar mula-mula tumbuh secara verbal (ucapana). Mereka
menghafal secara verbal kalimat-kalimat keagamaan. Bukti menunjukkan bahwa
banyak orang dewasa yang taat karena pengaruh ajaran dan praktek keagamaan yang
dilaksanakan pada anak-anak mereka. Sebaliknya belajar agama di usia dewasa
banyak mengalami kesukaran. Latihan bersifat verbalis dan upacara keagamaan
yang bersifat ritual (praktek) merupakan hal yang berarti dan merupakan salah
satu ciri dari tingkat agama pada anak-anak.
5.
Imtatif
Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita saksikan bahwa
tindak keagamaan yang dilakukan oleh anak-anak pada dasarnya diproleh dari
meniru. Berdoa dan sembahyang misalnya mereka laksanakan karena hasil melihat
perbuatan di lingkungan, baik berupa pembiasan ataupun pengajaran yang
intensif.
6.
Rasa Heran
Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan
yang terakhir pada anak. Berbeda dengan rasa kagum yang ada pada orang dewasa,
maka rasa kagum pada anak ini belum bersifat kritis dan kreatif. Mereka hanya
kagum terhadap keindahan lahiriah saja. Hal ini merupakan langkah pertama dari
pernyataan kebutuhan anak akan dorongan untuk mengenal sesuatu yang baru.
E. PERKEMBANGAN
JIWA KEAGAMAAN PADA REMAJA
Dalam pembagian
tahap perkembangan manusia, maka mas remaja menduduki tahap progresif. Dalam
pembagian yang agak terurai masa remaja mencakup masa: Juvenilitas (adolescantium), pubertas dan nubilitas.
Sejalan dengan perkembangan jasmani dan rohaninya, maka agama pada remaja turut
mempengaruhi perkembangan itu. Maksudnya penghayatan para remaja terhadap
ajaran agama dan tindak keagamaan yang tampak para remaja banyak berkaitan
dengan faktor perkembangan tersebut.
Perkembangan
agama pada para remaja ditandai oleh beberapa faktor perkembangan rohani dan
jasmaninya. Perkembangan itu antara lain menurut W. Starbuck adalah:
a. Pertumbuhan
pikiran dan mental
Ide dna dasar keyakinan beragama yang diterima remaja
dari masa kanak-kanaknya sudah tidak begitu menarik bagi mereka. Sifat kritis
terhadap ajaran agama mulai timbul. Selain masalah agama merekapun sudah
tertarik pada masalah kebudayaan, sosial, ekonomi, dan norma-norma kehidupan
lainnya.
b. Perkembangan
perasaan
Berbagai perasaan telah berkembang pada usia remaja.
Perasaan sosial, etis dan estetis mendorong remaja untuk menghayati
perikehidupan yang terbiasa dalam lingkungannya. Kehidupan religius akan cenderung
mendorong dirinya lebih dekat kearah hidup yang religius pula. Sebaliknya bagi
remaja yang kurang mendapatkan pendidikan dan siraman ajaran agama akan lebih
mudah didominasi dorongan seksual. Didorong oleh perasaan super, remaja lebih
mudah terperosok kearah tindakan seksual yang negatif.
c. Pertimbangan
sosial
Corak keagamaan para remaja juga ditandai oleh adanya
pertimbangan sosial. Dalam kehidupan keagamaan marak timbul konflik antara
pertimbangan moral dan material. Remaja sangat bingung menentukan pilihan itu.
Karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi kepentingan akan materi, maka jiwa
remaja lebih cenderung untuk bersikap materialis. Hasil penyelidikan Ernest
Harm terhadap 1789 remaja Amerika antara usia 18-29 tahun menunjukkan bahwa 70%
pemikiran remaja ditujukan bagi kepentingan keuangan, kesejahteraan,
kebahagiaan, kehormatan diri, dan masalah kesenangan pribadi lainnya. Sedang
masalah akhirat dan keagamaan hanya sekitar 3,5%, masalah sosial hanya 5,8%.
d. Perkembangan
Moral
Perkembangan moral para remaja bertitik tolak dari rasa
berdosa dan usaha untuk mencari proteksi.
Tipe moral yang terlihat pada remaja juga mencakup.
1) Self-directive, taat terhadap agama atau
moral berdasarkan pertimbangan pribadi.
2) Adapuve, mengikuti situasi lingkungan
tanpa mengadakan kritik.
3) Submissive, merasakan adanya keraguan
terhadap ajaran agama dan moral.
4) Unadjusted, belum meyakini akan
kebenaran ajaran agama dan moral.
5) Deviant, menolak dasar dan hukum
keagamaan serta tatanan moral dan masyarakat.
e. Sikap
dan Minat
Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan boleh
dikatakan sangat kecil dan hal ini tergantung dari kebiasaan masalah kecil
serta lingkungan agam yang mempengaruhi mereka (besar kecil minatnya). Howard
Bell dan Ross berdasarkan penelitiannya terhadap 13.000 remaja di Maryland
terungkap hasil sebagai berikut:
1) Remaja
yang taat (ke gereja secara teratur) ...... 45%
2) Remaja
yang tidak sama sekali ...... 35%
3) Minat
terhadap ekonomi, keuangan, materiil dan sukses pribadi ...... 73%
4) Minat
terhadap masalah ideal, keagamaan dan sosial ........ 12%
f. Ibadah
1) Pandangan
para remaja terhadap ajaran agama: ibadah dan masalah doa sebagai mana yang
dikumpulkan oleh Ross dan Oskar Kupky menunjukkan:
a) 148
siswa dinyatakan bahwa 20 orang diantara mereka tidak pernah memiliki
pengalaman keagamaan yang 68 diantaranya secara alami (tidak mengalami
pengajaran secara resmi).
b) 81
orang diantara yang mendapat pengalaman keagamaan melalui proses alam itu
mengungkapkan adanya perhatian mereka terhadap kewajiban yang menakjubkan
dibalik keindahan alam yang mereka nikmati.
2) Selanjutnya
mengenai pandangan mereka tentang ibadah diungkapkan sebagai berikut:
a) 42%
tak pernah mengerjakan ibadah sama sekali.
b) 33%
mengatakan mereka sembahyang karena mereka yakin Tuhan mendengarkan dan akan
mengabulkan doa mereka.
c) 27%
beranggapan bahwa sembahyang dapat menolong mereka meredakan kesusahan yang
mereka derita.
d) 18%
mengatakan sembahyang sebagai penyebab
mereka menjadi senang sesudah menunaikannya.
e) 11%
mengatakan bahwa sembahyang mengingatkan tanggung jawab dan tuntutan sebagai
anggota masyarakat.
f) 4%
mengatakan bahwa sembahyang merupakan kebiasaan yang mengandung arti penting.
Jadi, hanya 17%
yang mengatakan bahwa sembahyang bermanfaat untuk berkomunikasi dengan Tuhan,
sedangkan 26% diantaranya menganggap bahwa sembahyang hanyalah merupakan media
untuk meditasi.
F.
KONFLIK DAN KERAGUAN
Dari Sample yang
diambil W. Starbuck terhadap mahasiswa Middleburg College, tersimpul bahwa:
dari remaja usia 11-26 tahun terdapat 53% dari 142 mahasiswa yang mengalami
konflik dan keraguan tentang ajaran agama yang
mereka terima cara penerapannya, keadaan lembaga keagamaan dan para
pemuka agama. Hal yang serupa ketika diteliti terhadap 95% mahasiswa, maka 73%
diantaranya mengalami krisis yang sama.
Dari analisis
penelitiannya Starbuck menemukan penyebab timbulnya keraguan, diantaranya
adalah faktor:
1. Kepribadian,
yang menyangkut salah tafsir dan jenis kelamin.
a. Bagi
seseorang yang memiliki kepribadian introvert,
maka kegagalan dalam mendapatkan pertolongan Tuhan akan menyebabkan salah tafsir
akan sifat Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.
b. Perbedaan
jenis kelamin dan kematangan merupakan pula faktor yang menentukan dalam
keraguan agama. Wanita yang lebih cepat matang dalam perkembangannya lebih
cepat menunjukkan keraguan pada remaja pria. Tetapi sebaliknya dalam kualitas
dan kuantitas keraguan remaja putri lebih kecil jumlahnya. Disamping itu
keraguan wanita lebih bersifat alami sedangkan pria bersifat intelek.
2. Kesalahan
Organisasi Keagamaan dan Pemuka Agama
Ada berbagai lembaga keagamaan, organisasi dan aliran
keagamaan yang kadang-kadang menimbulkan
kesan adanya pertentangan dalam
ajarannnya. Pengaruh ini dapat menjadi penyebab timbulnya keraguan para remaja.
Demikian pula tindak tanduk para pemuka agama yang tidak sepenuhnya menuruti
tuntutan agama.
3. Pernyataan
Kebutuhan Manusia
Manusia memiliki sifat konservatif (senang dengan yang
sudah ada) dan dorongan curiosity
(dorongan ingin tahu). Berdasarkan faktor bawaan ini maka keraguan memang harus
ada pada diri manusia. Karena hal itu merupakan pernyataan dari kebutuhan
manusia normal. Ia terdorong untuk memperlajari ajaran agama dan kalau ada
perbedaan-perbedaan yang kurang sejalan dengan apa yang telah dimilikinya akan
timbul keraguan.
4. Kebiasaan
Seseorang yang terbiasa akan suatu tradisi keagamaan yang
dianut akan ragu menerima kebenaran ajaran yang baru diterimanya atau
dilihatnya.
5. Pendidikan
Dasar pengetahuan yang dimiliki seseorang serta tingkat
pendidikan yang dimilikinya akan membawa pengaruh sikapnya terhadap ajaran
agama. Remaja terpelajar akan menjadi lebih kritis terhadap ajaran agamanya,
terutama yang banyak mengandung ajaran bersifat dogmatis. Apalagi jika mereka
memiliki kemampuan untuk menafsirkan ajaran agamanya secara rasional.
6. Percampuran
antara Agama dan Mistik
Para remaja merasa ragu untuk menentukan antara unsur
agama dengan mistik. Sejalan dengan perkembangan masyarakat kadang-kadang
secara tak disadari tindak keagamaan yang mereka lakukan ditumpangi oleh
praktek kebatinan dan mistik. Penyatuan unsur ini merupakan sesuatu dilema yang
kabur bagi para remaja. Selanjutnya secara individual sering pula terjadi
keraguan yang disebabkan beberapa hal mengenai:
1. Kepercayaan
2. Tempat
Suci
3. Alat
perlengkapan keagamaan
4. Fungsi
dan tugas staff dalam lembaga keagamaan
5. Pemuka
agama
6. Perbedaan
aliran dalam keagamaan
Keragu-raguan
yang demikian akan menjurus kearah munculnya konflik dalam diri para remaja
sehingga mereka dihadapkan pemilihan antara mana yang baik dan yang buruk serta
antara yang benar dan salah. Konflik ada beberapa macam, diantaranya:
1. Konflik
yang terjadi antara percaya dan ragu
2. Konflik
yang terjadi antara pemilihan satu diantara dua macam agama atau ide keagamaan
serta lembaga keagamaan
3. Konflik
yang terjadi oleh pemilihan antara ketaatan beragama atau sekularisme
4. Konflik
yang terjadi antara melepaskan kebiasaan masa lalu dengan kehidupan keagamaan
yang didasarkan atas petunjuk Ilahi.