Apabila menilik dari sejarah Hindu banyak contoh pemimpin yang
perlu dijadikan suri teladan. Di setiap zaman dalam sejarah Hindu selalu muncul
tokoh yang menjadi pemimpin. Sebut saja Erlangga, Sanjaya, Ratu Sima,
Kertanegara, Hayam Wuruk, Gajah Mada, dan masih banyak lagi. Di era sekarangpun
banyak tokoh Hindu yang dapat dijadikan sebagai panutan seperti: Mahatma
Gandhi, Svami Vivekananda, Ramakrsna, Sri Satya Sai dan sebagainya. Dan dari
semua tokoh yang telah disebutkan, satu nama yang kita bahas adalah Gajah Mada.
Kenapa Gajah Mada? Alasannya adalah karena beliau mampu menyatukan Nusantara
dalam segala keterbatasan transportasi maupun komunikasi di eranya. Satu hal
lagi, Gajah Mada merupakan sosok yang setia pada sumpahnya yakni sumpah Palapa,
yang tentunya akan sulit dijalankan tanpa kesadaran dan kesungguhan dari hati
beliau.
Berkaca dari kejayaan masa lampau tersebut, maka berbicara
kepemimpinan kita berkeinginan kembali untuk melihat Gajah Mada yang mampu
membawa persatuan dan kesatuan bangsa, sehingga akan membawa kemajuan terhadap
negeri ini. Dan apabila kita membandingkan secara sederhana antara kepemimpinan
yang dilakukan oleh Gajah Mada dengan kepemimpinan oleh pemimpin-pemimpin
sekarang ini tentunya sangat berbeda. Gajah Mada walaupun hanya merupakan sosok
patih, tetapi beliau mampu memenuhi tujuan kerajaan yang dipercayakan padanya. Beliau
juga merupakan sosok pemimpin yang mampu mengharmoniskan antara pikiran,
kata-kata dan perbuatan, sehingga layak disebut sebagai pemimpin yang baik. Dan
hal semacam itu sudah sangat jarang kita temukan dalam kehidupan sekarang ini,
yang ada malah sebaliknya, kepercayaan sebagian masyarakat terhadap para
pemimpin mulai memudar. Fenomena tersebut tidak terlepas dari faktor banyaknya
figur yang menjadi pemimpin bukan karena memiliki kecakapan, tetapi karena
medapat dukungan dari partai politik yang kemudian berdampak pada meningkatnya
jumlah masa pendukung di masa kampanye. Akhirnya setelah terpilih baru
kelihatan bagaimana karakter yang sesungguhnya, yaitu kepemimpinan yang
dijalankan sarat dengan kepentingan politik atau kepentingan kelompok
pendukungnya saja.
Untuk menghindari fenomena semacam ini, saya berpikir bahwa
melahirkan Gajah Mada Baru menjadi salah satu solusi. Memang kalau membahas
keagungan Maha Patih Gajah Mada, mengingatkan kita pada Lontar Negara
Kertagama, Rakawi Prapañca yang menuliskan 15 keutamaan sifat-sifat Gajah Mada
sebagai Maha Patih Kerajaan Majapahit, yang disebut dengan Panca Dasa Pramiteng
Prabu. Namun penerapan ajaran Panca Dasa Pramiteng Prabu tentunya sangat sulit
di era modern ini, yang menyebabkan pertanyaan baru akan muncul, “Bagaimana
bisa kita melahirkan Gajah Mada Baru?”. Untuk menjawabnya kita jangan memandang
dari satu sisi, Gajah Mada boleh sukses menyatukan Nusantara dengan 15 sifat
utamanya, tetapi indikator untuk menentukan Gajah Mada Baru yang akan membawa
persatuan dan kesatuan untuk bangsa ini, harus kita sesuaikan juga dengan
perkembangan zaman. Olehnya, Gajah Mada baru tidak perlu menguasai ke-15 sifat
utama Gajah Mada, tidak perlu ada sumpah palapa, tidak perlu kembali ke masa
kerajaan, tetapi Gajah Mada Baru adalah pemimpin yang memimpin rakyatnya dari
hati, pemimpin yang mengabdi untuk rakyat, pemimpin yang tidak gila harta,
pemimpin yang berani berkorban demi negaranya, dan tentunya pemimpin yang bisa
mengharmoniskan antara pikiran, kata-kata, dan perbuatannya. Intinya Gajah Mada
Baru adalah pemimpin yang baik, bukan hanya pintar maupun hebat belaka.
Kita boleh berada di era Globalisasi, tetapi mari kita bangkitkan
kembali kejayaan masa lampau. Kita lahirkan Gajah Mada Baru yang akan mampu
memberi kesejahteraan dan kedamaian untuk bangsa, nusa, serta negara tercinta. Dengan
pemimpin baik, keadaan rakyat akan membaik, dan negeri ini akan menjadi yang
terbaik. Jayalah Indonesiaku.
Sumber:
http://sosbud.kompasiana.com/2015/03/11/melahirkan-gajah-mada-baru-729156.html